Wednesday, December 12, 2007

Saturday, October 06, 2007

Come what may, I'm not gonna stray....


Begitu dalam tarikan nafasku, kau dengar? Aku selalu berharap ini hanya kan ada sebentar. Sampai pagi tadi kumemasuki hari, dan kulihat kau disana masih saja begitu pasti. Masih begitu mengintimidasi dan membuatku tak yakin sama sekali. Apakah lebih baik bertahan, atau tidak? Apakah lebih baik diam, tak bergerak? Apakah lebih baik menyerah, dan pergi? Apakah lebih baik mengalah, tak kembali?

Oh ya, kamu masih sama seperti hari-hari yang sudah tinggal cerita. Sang pangeran di dongeng Cinderela, yang begitu saja dengan tatapan mata, bisa membuatku percaya, dengan naifnya berkata: "Dialah orangnya."

Hanya saja, ada sedikit beda...begitu jelas terasa.

Ingatkah kemarin waktu kita masih bertatapan seperti ini, juga didalam mimpi? Kau pasti merasa, aku begitu tak berdaya. Aku begitu dikuasai cinta. Ingatkah? Aku ingat aku menangis tersedu-sedu, berulang menjerit "INI BUKAN AKU!!!", dan selalu berakhir berbisik sendu "Ya...ya...ini memang aku."

Kemarin aku tidak percaya, tidak percaya apa saja. Apalagi teori bahwa perihku kan hilang, semua kan tertinggal di belakang. Aku sungguh-sungguh hampir gila, mengira ku dikutuk cinta untuk selamanya.

Tapi baru saja aku menyadari, perlahan kewarasanku kembali. Apa yang kamu cari kini, takkan kau temui. Kemarin aku hanya sedikit takut, takut beberapa langkahku akan luput. Mungkin kemarin hujan deras, dan sudah begitu larut.

But guess what??

Waktu betul-betul berlalu, dan ini sudah hari yang baru. Tampaknya cuaca cerah karena jalannya tampak begitu jelas. Aku tak lagi merasa buta arah karena takutku hilang tak berbekas.

Hanya dalam semalam saja, disaat aku berhenti mengharapkannya, saat itulah diputuskanNya tuk membuatku kembali tertawa.

Hahaha...ternyata aku baik-baik saja. Rasa masih sama, tapi beban sudah tak ada.

Come what may, I'm not gonna stray....

Friday, September 21, 2007

the guardian


Ada kilasan penuh makna waktu tuk kali kesekian kumelihat kamu disana. Sedikit ragu si hati bertanya

sudah tibakah dia?

Keberadaanmu sesaat sedikit membuatku sesat. Sejujurnya, kukira kita sudah ada dalam satu dunia mungil dimana 'pengertian' bukan lagi hanya gombal semata. Ya, bahwa kamu sering bertanya, mempertanyakan neraka, surga, dunia, semua...aku mengingatnya.

...Tapi tak usah pertanyakan lagi hati, otak, jiwa, arah dan pencarianku. AKu masih menaiki pelangi, dan hari ini masih sungguh dini. Diujungnya nanti, adakah kamu masih begini?

Jawab saja itu.

Diujungnya nanti, adakah kamu masih begini?
Diujungnya pelangi ku, akan adakah sosokmu?

"Not gonna wait forever?"

..Hell, i'm not gonna live forever anyway...

"Terlalu lama!"

Yeah aku, tahu. Tapi pelangiku harus dijaga, dan dengan naifnya aku percaya, sang penjaga, adalah dirinya.


Saturday, August 18, 2007

Whatever will be

Today I have reached that point when the only thing matters is what I could do without hoping anything in return.
Today I have succeeded dealing with myself and understand, it is fine for me to have this love that is unconditional

...that it is fine for me to admit that I still feel it even when it is starting to be irrational
...that it is fine for me to fight alone, even when I miss you the most above all

...because then I would never regret the time that passed me by, I would always know I have done my best to the only one I have ever met in life.

I strangely love you, hun. For the sake of us, fight. Do waste our time, not. For everything that we have ever said and done, for the world to see that we would never run.

Whatever will be

Whatever will be

Saturday, July 07, 2007

after sunset

Malam sudah menjelang. Langit biru tua hampir hitam berhias hanya sedikit bintang. Awan-awan membuat cahaya bulan terhalang.

Di sebuah cafe bersuasana remang-remang.

Dua orang laki-laki duduk berhadapan. Saling menatap dalam diam. Keempat tangan terkepal, dan nafas beradu tersengal. Ada emosi yang terlalu intens, memberati atmosfer di sekitar meja mereka dipojokan.

Seorang perempuan duduk diantara mereka. Berbaju merah, cerah. Tapi matanya tidak begitu, matanya terlalu sendu. Dia termenung menatap kedua tangan yang terkatup di atas pangkuannya.

Laki-laki pertama bicara, nadanya rendah, "Jadi, lo yang namanya Edgar?"

Edgar tidak langsung menjawab. Dia menyelami agak lama wajah datar dihadapannya, lalu mengangguk, "Dari mana lo tau tentang gue?"

"Lo nggak perlu tau."

Wajah Edgar mengeras. Ia mengawasi lawan bicaranya. Sudah lama Edgar tahu laki-laki ini. Seorang pengacara muda berkarir sukses, berpenampilan menarik, tentu saja berkecukupan, dan seakan belum cukup keberuntungannya, berpacar seorang wanita yang sempurna. Paling tidak dimata Edgar.

Siena. Yang ini Edgar sudah tahu lebih lama lagi, dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Siena yang baik, Siena yang menggoda, Siena yang hangat, Siena yang menenangkan, Siena yang sempurna. Siena yang sekarang duduk diantara mereka. Siena yang adalah pacar laki-laki dihadapannya, sudah lama.

Siena menghela nafas, dan menunduk. Tidak menghiraukan rambut-rambut ikal yang terjurai kusut menutupi wajah, yang tidak mengurangi sedikitpun kecantikannya.

"Sudahlah," bisiknya setengah memohon. "Sudah."

Sangat jarang ia melihat Rofi setegang ini, semarah ini. Biasanya Rofi selalu tenang, selalu bisa mengendalikan emosinya. Tapi kali ini Siena bahkan merasakan panas memancar dari tubuh kekasihnya.

"Gue udah ladenin permintaan lo buat dateng. Kalo lo mau obrolan ini berlanjut, lo harus kasih tau gue darimana lo tau tentang gue." Edgar bicara lagi, tegas.

"Kalau gue nggak mau?"

"Gue pergi."

Sepi.

Siena meraba tengkuknya. Sejak duduk di meja ini baru lima menit lewat, tapi tubuhnya sudah merasa begitu penat.

"Jurnalnya," jawab Rofi, "Gue baca jurnal dia, ada nama lo."

Siena mendesah, "Aku udah bilang kamu jangan baca jurnalku."

Rofi tidak menjawab.

Siena tahu dia tidak seharusnya bicara. Rofi sudah habis kesabaran.

"Trus, nomor gue?"

"Kenapa lo terlalu banyak nanya? Harusnya gue yang nanya, lo jawab! tuntut Rofi keras.

"Jawab pertanyaan gue dan gue akan jawab apapun yang lo mau," tukas Edgar tidak terintimidasi.

"Empat ratus lebih sms lo dalam setahun ini masih rapi disimpan di sebuah folder dalam handphonenya. Gue buka kemaren, begitulah gue jadi tau nomor lo."

Edgar mengerenyit sinis, "Lo nggak tau apa itu ngelanggar privacy?"

"Oh, sekarang lo mau bicara tentang pelanggaran?" Rofi terkekeh. "Lo tau nggak, kalo ganggu cewek yang udah punya pacar tu melanggar etika? Lo tau nggak, kalo lo udah punya tunangan tapi masih juga mesra-mesra sama cewek lain itu bisa dikategorikan selingkuh?"

Edgar diam.

Siena berbisik, "Yang, jangan keras-keras. Malu."

Rofi menghela nafas, kembali merendahkan suaranya, "Sejak kapan?"

"Apanya?" Edgar menyalakan rokok.

"God," menggelengkan kepalanya, Rofi membuang pandangan ke jendela. "Perokok pula."

"Ada masalah?" tantang Edgar.

"Dia alergi asap rokok." jawab Rofi.

Edgar menghisap rokoknya dan menghembus keras, "Oh ya? Not that I know. She never complained."

Siena tidak bersuara, kenyataan bahwa Edgar hanya merokok bila mereka sedang tidak bersama tidak perlu disebutkan. Rofi hanya akan bertambah emosi.

"Just answer my questions." Rofi meneguk red wine yang dipesannya untuk menurunkan emosi, tujuan sejauh ini belum terwujud.

"Which question?"

"Sejak kapan?"

"Yeah, tapi 'sejak kapan' apanya?"

"When did you start saying 'love' to each other?" Rofi menyelesaikan kalimatnya, memotong Edgar yang coba memotongnya.

"We only said it once." Edgar menjawab cepat seakan-akan menghindari salah pengertian terjadi, "Gue, dan dia. Cuma sekali pernah mengucapkan kata itu."

"Di jurnalnya ada lebih dari sekali 'love' buat lo."

Siena merasa begitu perih mendengar kalimat itu diucapkan Rofi. Rofi mencoba dingin, tapi Siena terlalu mengenalnya untuk tidak bisa tidak merasakan bahwa mengucapkan kalimat terakhir tersebut sangat menyakitkan buat Rofi.

Sementara itu, Edgar juga tidak bisa menyembunyikan binar di matanya, "Masa? Gue baru tau."

Dalam sebentar kebersamaan mereka, secara ajaib Siena bisa begitu tepat menerka emosi Edgar. Kali ini Siena tahu, yang baru didengarnya membuat Edgar bahagia.

"So she only said it once?" Rofi memastikan.

"Same goes with me, I also said it once."

"Kapan?"

"Aduh Yang, sudahlah. Kenapa sih?" keluh Siena.

"Bener lo mau tau?" Edgar bertanya serius.

"Kamu juga ngapain sih diladenin?" kali ini Siena bicara pada Edgar.

Edgar tertawa kecil, "Kalo emang lo yakin mau tau..."

"Gue yakin."

Siena mengeluh, "Oh. My. God."

"Suatu hari kita ribut. Gara-gara dia bilang dia mau udahan aja. Alesannya klise, guilty feeling ke pacar gue, dan ke lo juga."

Rofi tidak bergeming. Tapi Siena melihat dia menelan ludah.

"Gue marah, gue bilang dia jahat."

"Dia nggak jahat," potong Rofi.

"Gue tau, tapi waktu itu gue panik. Gue nggak mau kehilangan dia."

"Trus?"

"Gue bilang dia keterlaluan, dia bilang gue yang kelewatan. Gue egois dan nggak mau coba mengerti keputusan dia. Dia bilang gue bodoh," Edgar tertawa kecil, "Gue bodoh kalau gue mikir dia jahat, katanya dia cuma nggak mau memulai semuanya dengan salah."

"Trus?"

"Gue nyuruh dia pergi, dan untuk pertama kalinya dia nggak nolak suruhan gue seperti biasanya. Dia pergi. Gue makin panik dan ditengah kepanikan itu gue tarik tangannya dan bilang, "Sue me for what I'm about to say, but."

Rofi menunggu Edgar melanjutkan ceritanya. Dia tahu apa yang akan Edgar ucapkan, dan dia tahu mendengarnya akan sangat menyakitkan. Tapi Rofi tetap menunggu Edgar melanjutkan ceritanya.

Edgar menghela nafas dan nada suaranya menurun waktu berkata, "But I love you, Siena."

Siena bergidik mengingat momen itu. Sensasi yang dirasakannya. Campuran antara rasa bersalah, kemudian disiram rasa bahagia, yang begitu indah.

"Trus dia jawab, 'I love you too.'"

"Trus?" suara Rofi bergetar.

"That's that."

Kembali sunyi.

Siena mencoba lagi, "Ayo pulang, Rofi, aku capek. Udah nggak usah diributin, aku minta maaf. Please stop making this such a big deal, you heard him: we only said it once."

"Bilang 'cinta'," Rofi bersuara akhirnya, "Dia sering bilang 'cinta' sama gue."

"Hm," Edgar mengusap dagunya, "Bagus dong." Gerak-geriknya tetap santai tapi Siena melihat urat-urat di lehernya muncul ke permukaan.

Edgar terganggu.

Siena juga. Dia terganggu karena Edgar terganggu. Siena terganggu karena walaupun hanya terucap sekali, kalimat pendek itu sangat berarti untuk Siena. Apalagi waktu terucap buat Edgar.

Siena tahu ini semua salahnya. Dia membiarkan perasaannya dan Edgar tumbuh dalam kondisi yang sama sekali tidak ideal. Bukan saja Siena sudah menjalani hubungan yang serius dengan orang lain waktu dia bertemu dan menjadi dekat dengan Edgar, tapi yang lebih salah lagi adalah Edgarpun sudah bertunangan dan akan segera menikah.

Sampai Edgar kehilangan akal sehat waktu Siena berkata dia akan pergi, akan berhenti mengganggu Edgar, tidak meneruskan kesalahannya.

Edgar betul-betul kehilangan akal sehat. Waktu itulah dia mengucapkan "I love you, Siena" yang sekian lama ditahannya karena masih ingin mencoba setia. Lalu Edgar juga melakukan hal gila lain.

"Gue denger lo batalin pertunangan lo?" Rofi memecah kesunyian.

"Hm." Edgar mengangguk. Tidak ada penyesalan disana.

"Kenapa?"

"Buat apa diterusin? Gue cinta Siena, bukan dia," jawab Edgar ringan, "Gue nggak mau berjanji dihadapan Tuhan buat sesuatu yang palsu. Hidup menipu diri bukan pilihan gue."

"Lo nyakitin orang lain."

"Nggak usah menilai gue," Edgar berkata keras, "It's sooner or later. Cepet atau lambat gue bakal ninggalin dia."

"Toh lo nggak dapetin Siena juga."

"Gue ninggalin dia bukan buat dapetin Siena, gue ninggalin dia karena gue cinta Siena."

Siena menghela nafas lagi, penyesalannya yang terdalam. Melihat perempuan itu menangis terisak-isak. Bertanya pada Siena apa yang harus dia lakukan. Mungkin perasaan Siena tidak akan sehancur itu kalau saja perempuan itu memaki-maki Siena, menyalahkan Siena. Tapi dia malah menangis, dan bertanya pada Siena, apa yang harus dia lakukan agar Edgar bisa mencintainya seperti mencintai Siena. Siena tidak pernah tahu jawaban untuk pertanyaan itu.

Rofi benci pada laki-laki ini. Tapi jawaban-jawabannya malah membuat Rofi mulai mengerti, apa yang membuat Sienanya gagal untuk setia.

Denting cangkir espresso Edgar membuat mata Rofi yang sempat mengabur kembali awas menatapinya.

Edgar mematikan rokoknya yang sudah habis, "Gue ninggalin dia karena gue cinta Siena, bukan buat dapetin Siena. Tau kenapa?"

Tanpa bisa Siena tahan matanya terpaku pada Edgar, yang tidak balas menatapnya, tapi menatap Rofi.

Rofi menggeleng, "Kenapa?"

"She loves you too much."

Ingin sekali Siena merengkuh Edgar yang gemetar seiring dengan terucapnya kalimat itu. Tapi ada yang menahan Siena, memaksa lehernya kembali mengarahkan wajahnya ke Rofi, entah apa. Mungkin benar kata Edgar, dia terlalu mencintai Rofi. "Sucks, tapi gue tau, dia nggak akan mungkin ninggalin lo."

Siena tidak mengira gerakan tangan Rofi malah semakin gelisah, sekarang ia memijit keningnya. Lalu dia berdecak, "I wish that's true."

"Kenapa kamu ngomong gitu sih?" bisik Siena. Tangannya bergerak hendak meraih tangan Rofi tapi Rofi menarik kedua tangannya menjauh, sebelum Siena berhasil menyentuhnya.

Siena berusaha keras menahan panas di matanya.

"Lo ngomong apa lagi," Edgar menggelengkan kepala. "Apa lagi yang lo mau? Cape gue liat lo masang tampang sebagai orang termalang sedunia. You had her, what else do you want?"

"Aku ingin menyalahkan waktu, terlambat mengajak kita bertemu. Sungguh menanti tiba hari, dimana kubisa melupakan kita. Entah kapan, semoga ku bertahan. Kamu harus tahu jangankan menahun...menit inipun seolah tiada ujung. Malam terlalu sepi, mungkin karena kamu tak disini. Aku mencoba, tapi semua sudah tak sama. Tak ada yang bisa gantikan kamu. Tak ada yang bisa genapkan aku."

Siena terkejut mendengar Rofi lancar mengucapkan puisi yang ditulisnya dahulu kala, "Dimana kamu baca itu, Sayang?"

Jangankan menjawab pertanyaan Siena, melirikpun tidak, Rofi menjawab pandangan Edgar yang juga bertanya-tanya, puisi itu buatan dan ditujukan untuk siapa, "Dari dia, buat lo."

Mata Rofi berlapis cairan bening. Dia tak akan lupa perasaannya waktu membaca puisi itu, lalu mengetahui dan mulai mengerti perasaan Siena,

yang bukan untuk dia.

"Hm," Edgar tidak mengira bahwa Siena pernah menuliskan sesuatu sepuitis itu. Dia tersanjung, tapi tidak kehilangan pijakan. Perasaannya melambung, tapi tidak kehilangan kesadaran. Edgar tetap ingat, Siena tidak pernah memilihnya. "Trus, apa? Gara-gara puisi itu lo mikir dia nggak cinta sama lo?"

"Kamu salah kalo mikir gitu, Yang," Siena berkata pelan.

Edgar mengangguk, "Lo salah, kalo lo mikir gitu," mengulang kata-kata Siena.

"Gue nggak mikir gitu. Gue tau dia cinta sama gue. Justru karena dia cinta sama gue, kalau ada orang lain yang bisa membuat dia nggak lagi setia sama gue,"

Sejenak Rofi menahan kalimatnya.

Suasana semakin berat.

"bukannya itu berarti dia lebih cinta orang lain itu daripada gue?"

Siena ingin membantah, tapi tidak satupun kata terucap. Karena apa yang Rofi katakan mungkin saja benar adanya. Sepanjang hubungan mereka, baru Edgar yang dengan mudah datang mengganggu.

Mungkin saja itu berarti Siena lebih mencintainya.

Tapi Edgar menggeleng, "Nope. Gue setuju kalo lo bilang dia cinta gue. Tapi lebih cinta gue daripada lo? Hah. Not possible."

"We never know."

"Oh believe me I know," tukas Edgar.

"Pernahkah dia ngomong itu secara eksplisit?" tuntut Rofi.

"Nggak. Tapi gue tau. Dia nggak pernah ninggalin lo, dia selalu menomor satukan lo, dan dia," kalimat Edgar terputus sejenak, seperti kesulitan meneruskan kalimatnya. "Lo tau dia pernah mabuk dengan sengaja depan gue?"

Rofi terkesiap. Kedua tangan Siena menutup wajahnya sendiri, "Nggak perlu kamu ceritain itu, Ed."

"Terusin." perintah Rofi tegas.

"Gue peminum, gue perokok, tapi gue benci liat cewek melakukan itu," lanjut Edgar.

"Dasar egois. So typical," potong Siena.

Edgar mengangguk, "Gue tau, gue egois. Tapi it's just me. Pernah ada satu masa dimana dia merokok depan gue dan minum-minum sampai mabuk parah. Dia mencoba bikin gue benci, ilang rasa sama dia. Lo tau buat siapa?"

Rofi diam.

"Buat lo. Biar gue nggak cinta lagi dan berhenti gangguin dia. Biar dia setia lagi sama lo. Biar semuanya kembali benar." kata Edgar.

Rofi meneguk habis winenya, "Yet she failed, didn't she? Mana mungkin lo berhenti."

"Nggak ada yang mungkin berhenti sekalinya jatuh untuk dia," tuntas Edgar.

Diam cukup lama. Cafe semakin sepi, sebentar lagi mereka akan tutup. Tinggal meja itu saja yang terisi.

"Sebetulnya buat apa lo nemuin gue?" Edgar bertanya hati-hati. Lama-lama dia jatuh kasihan pada sosok dihadapannya.

Rofi menarik napas, lalu menundukan kepalanya, dalam.

"Yang," panggil Siena. "Pulanglah."

"Gue cuma," kalimat Rofi terputus.

"Ed," panggil Siena. "Pulanglah."

"Gue kaget ternyata selama ini ada lo di kehidupan Siena. Itu aja. Gue pengen tau semuanya, lanjut Rofi.

"Buat apa?" tanya Edgar lagi.

"Gue nggak tau. Perasaan gue ancur."

"Perasaan gue udah lama ancur," Edgar mengangkat bahu. "Kalau terus mikirin dia lebih cinta siapa, perasaan gue nggak akan pernah bener. Gue bakal selalu ngerasa kalahsama lo."

"Hm..." Rofi seperti tidak setuju, tapi terlalu lemah untuk membantah.

"Bagaimanapun lo yang lebih beruntung disini, Rof."

"Anehnya gue ngerasa gue lebih baik ada di posisi lo," jawab Rofi pelan.

Edgar mengerutkan kening.

"Gue sering bertanya-tanya, kenapa semakin lama dia kerasa semakin jauh."

"Makin jauh gimana? Dia bareng lo terus begitu," protes Edgar.

"Dia bareng gue. Dia meluk gue. Dia pegang tangan gue. Tapi gue tau hati dan pikirannya nggak," jawab Rofi. "Sekarang gue tau dia dimana selama itu, she was with you."

Edgar menghela nafas, ingat Siena sendiri pernah berkata demikian. Waktu itu dia hanya tertawa dan berkomentar "Yeah, right!".

Anehnya sekarang, mendengarnya dari Rofi, Edgar malah lebih percaya. "Tapi ya, nggak bisa liat atau nyentuh dia kapanpun gue kangen juga bukan sesuatu yang menyenangkan."

Diam lagi. Pilihan antara memiliki raga atau hati seseorang yang dicinta ternyata tidak semudah yang dikira.

Tidak bisakah memiliki keduanya?

"Aku," bisik Siena. "Maafin aku," entah pada siapa. Edgar dan Rofi sama-sama tidak bereaksi pada permintaan maaf Siena.

"Nggak ada gunanya lagi, Rof," lalu Edgar bicara. "Seperti tadi gue bilang, mikirin dia lebih cinta sama siapa itu nggak penting. Gue udah berhenti wondering dia lebih cinta sama siapa sejak lama. Gue cuma tau gue cinta dia. Gue selalu ada buat dia. Itu yang penting. "

Rofi mengeluh keras lalu berkata, "Iya emang udah nggak ada gunanya sih."

Keduanya menekuri gelas dan cangkir masing-masing.

"Aku benci denger kalian ngobrol seolah-olah aku nggak ada." bisik Siena, frustrasi. "Permintaan maaf aku aja nggak ada yang jawab."

Sekarang air matanya tidak tertahan, "Aku emang salah. Aku-salah. There, aku ngaku aku salah. Aku salah."

Diam.

Waitress terakhir mulai mematikan lampu-lampu.

Siena meneruskan ke arah Rofi, "Kamu tau kan, aku nggak sengaja. Aku nggak mungkin sengaja nyakitin kamu."

Lalu Siena menoleh ke arah Edgar, "Dan kamu Ed. Kalau aja aku bisa nggak cinta sama kamu."

Siena terisak, "Tapi apa aku punya pilihan?"

Tidak ada yang menjawab, semua tahu Siena memang tidak punya pilihan.

"Aku gagal jadi orang yang benar, jadi orang yang nggak salah, jadi orang yang sempurna. Aku gagal setia ataupun membuat orang yang kucinta bahagia."

Siena mencoba menghentikan tangisnya.

Gagal.

"Tapi aku nggak nyesel! Sorry, tapi aku nggak nyesel."

"Gue nggak nyesel kok," terdengar suara Rofi.

"Gue juga. Knowing someone like her, really worth the pain." Edgar tersenyum miris.

Tidak ada suara. Tangisan Siena sudah berhenti, hanya tertinggal sedikit sedu.

"Sudahlah, kalian harus pulang."

Bersamaan Edgar dan Rofi berdiri. Siena bernapas lega, malam menegangkan ini akan berakhir juga.

"Lo baek-baek kan, Rof?" Siena dan Rofi sedikit kaget mendengar pertanyaan Edgar yang terdengar tulus.

Sejenak Rofi menimbang, coba meraba perasaannya. Lalu ia mengangguk, "Yah.I'm holding on. Thanks."

"Good," Edgar menggunakan sarung tangannya, pemberian Siena dulu kala. Supaya Edgar tidak kedinginan kalau naik motor malam-malam.

Mereka berdiri berhadapan. Mereka berdiri bertatapan.

Siena duduk tetap, menunggu apa lagi yang akan terucap.

Rofi bersuara duluan, "Lo bisa dateng ke pemakaman, besok?"

Edgar terkesiap, salah tingkah, "Gue pengen...tapi nggak tau deh...gue pikir...lo yakin?"

Rofi menjawab tenang, "Selama dia koma sampe pergi kemaren, lo nggak ada. Lo nggak bisa ada."

Edgar mengangguk, ada penyesalan disana, "Gue nggak bisa, bukannya nggak mau."

"Gue tau," jawab Rofi, juga mulai mengerti betapa tidak mudahnya menjadi Edgar. "Siena pasti seneng kalo lo dateng."

Edgar mengangguk cepat, takut Rofi berubah pikiran, "I'll be there."

"Ok."

Lalu, berdampingan, mereka keluar dan berpisah. Waitress mematikan lampu terakhir dan keluar juga.

Malam sudah menjelang. Langit biru tua hampir hitam berhias hanya sedikit bintang. Awan-awan membuat cahaya bulan terhalang.

Di sebuah cafe bersuasana remang-remang.

Seorang Siena, duduk sendirian. Bajunya merah, cerah. Matanya basah. Tapi ada ketenangan luar biasa di sana, di wajahnya.

Badai hidupnya sudah reda.

Saturday, June 30, 2007

an hour from Flo

Tidak ada yang bisa mengerti, apalagi dia. Tidak pernah kumaksudkan ini, meninggalkan mimpinya. Tapi sebagai sesuatu yang sekian lama kucari, sesuatu yang sekian lama kunanti, betapa nista jadinya kalau semua jadi berlabel 'dosa', betapa sayangnya kalau kita jadi bernama 'salah'.

Jangan.

Jangan jadikan aku setan yang selalu kubenci sejak aku bisa mengingat.

Jangan jadikan aku bejat yang kutahu langkahnya takkan pernah selamat.

Suatu hari jika dia sampai disini, dia akan tau dia sungguh berarti.Ingatlah kalimat sederhana yang mengartikan dunia, yang kurasakan setiap kali kita bersama.

"I never lied about my love, hon..."

Sienna, June 2007

missyuso

an hour from Flo

Tidak ada yang bisa mengerti, apalagi dia. Tidak pernah kumaksudkan ini, meninggalkan mimpinya. Tapi sebagai sesuatu yang sekian lama kucari, sesuatu yang sekian lama kunanti, betapa nista jadinya kalau semua jadi berlabel 'dosa', betapa sayangnya kalau kita jadi bernama 'salah'.

Jangan.

Jangan jadikan aku setan yang selalu kubenci sejak aku bisa mengingat.

Jangan jadikan aku bejat yang kutahu langkahnya takkan pernah selamat.

Suatu hari jika dia sampai disini, dia akan tau dia sungguh berarti.Ingatlah kalimat sederhana yang mengartikan dunia, yang kurasakan setiap kali kita bersama.

"I never lied about my love, hon..."

Sienna, June 2007

Sunday, June 17, 2007

Kamu ingin sampai sebelum pintu itu terutup?

Aku bosan menemui kamu yang masih saja sama, tak juga mau benar-benar ada, hanya menjalani semuanya karena terpaksa.
Aku bosan mendengar terlalu banyak keluh kesah, mengancam dunia untuk menyerah, menangisi hatimu yang telah lama patah.
Aku bosan mendengarmu menyalahkan semua termasuk aku, menyalahkan semua kecuali kamu, aku bukan penyerah bahkan di hari paling kelabu!!

Bercerminlah, dan berhenti bicara
Bercermin lagi lah, dan berhenti hanya bicara
Bicara dan bicara takkan merubah apa-apa
Bicara dan bicara takkan menuntun kita

Kamu ingin sampai sebelum pintu itu terutup?
Mungkin sudah saatnya kamu mencoba hidup.

Tuesday, June 12, 2007

period


I’ve been wondering since...I can't remember, about this question.

Since I can feel the L thing, then losing it back and forth:

If the perfect one does exist in this real life.

All my stories lead me to a big no as the answer. I’ve decided to be a cynical, who thought that those tales about good person with a warm heart and brave soul is a bunch of crap, and that I’d be stupid to keep expecting one to finally show up in my life.

Funny, but being that girl I feel saver than ever, strong enough to face everything in my life because apparently, since I’m a very romantic person, those L issues were what scared me the most.

And yesterday He sent me you. You, who have been around for a while before, finally give me that full stop at the end of my sentences. There is no question left anymore.

The time isn't right for us to be together, though the feeling is.

It doesn’t really matter I am still grateful for every joy and every tears.

Thanks to have visited my chaos heart, touched it in the best way, the perfect scent.

Even for just a moment.

I’ve find him. I’ve find you.

it's hard not to think about-than missing-u, hard to 'forget it' though i know i have to..


Ternyata ada harinya, air mata untuk dia

tak pernah kukira, hatiku tertinggal disana

dasar samudra, batas senja, bingkai dunia

Hei, jawab tuk semua ragu, akhirnya kamu tiba

Tiba dengan bukti, sosok sempurna sungguh ada

Sungguh ada, dan sempat memberi bahagia

Sempat memberi bahagia dan harus pergi juga

Harus pergi juga dan ku harus, paling tidak mencoba



untuk rela



...

Friday, May 18, 2007

Amber

Malam hampir berlalu waktu utara bertanya: Para pujangga lebih sering menyebut namanya, selatanlah yang selalu dirangkai mereka...kenapa?

Pagi hampir tiba waktu selatan berbisik: Pertanyaanmu itu, apakah sungguh-sungguh perlu...Bila kamu tak ada, aku hanya akan jadi arah yang biasa.

Tidakkah kamu mengerti, utara...
Kamu lah yang lebih dari istimewa, diperlukan lebih dari kemampuan menguntai kata-untuk melihatnya, mengisi titik-titik disana, sesungguhnya kamulah yang jadikanku sempurna.

Sunday, May 13, 2007

hei kamu yang jauh

kangen kamu, seseorang yang pernah ngobrol di ym sampe jam 1 malem dan mengkhawatirkan gw yang pulang sendirian padahal km juga nggak bisa apa-apa karena km berkilo-kilo-kilo meter jauhnya dan butuh satu cap di paspor kita untuk bisa bertemu kan...dan km marah2 karena seseorang nggak nyampein salam kamu dulu...hmm, dan kecil skali kemungkinan kamu baca ini, weirdo..but i really do miss u. :p

kamu selalu bisa bikin gw tertawa...bikin gw sadar betapa sederhana sebetulnya yang diperlukan untuk bisa membuat gw bahagia...and, gosh...u got the knowledge..

...naturally.

Tuesday, May 01, 2007

full moon

Tahukah kamu tempat itu. Tahukah kamu waktu itu. Dimana debur selatan dan utara menjadi satu?
Tempat dan waktu yang menjadikan jarak begitu berarti? Yang jadi alasan untuk mereka selalu kembali?
Selatanku, tak perlu menjauh. Kamu akan selalu lengkapiku.
...dan diamku, kamu hanya boleh menikmatinya.
Tak kau rusakkan apapun itu, dan biarkan aku hanya mengindahkanmu
Percayalah.

i miss my sunshine so bad

Cuma ada satu orang yang tahu kalau saya sedang sakit, apapun itu, apa sebetulnya yang saya perlu (tolong dicatat ya, 'perlu' bukan 'mau'): pelukan hangat, intonasi hangat dan keberadaan yang membuat saya hangat. Cuma ada satu orang yang tahu kalau saya sedang sakit saya tidak memerlukan tawarannya ke restoran2 mewah supaya mau makan, cukup mengupaskan sebutir pir shandong yang tidak akan membuat saya mual...dan sesering apapun saya mengeluh dia tidak akan berkata: "Kamu kok banyak amat ya penyakitnya?"

HHhh...saya selalu kangen dia. Tapi seminggu inilah yang terparah. Hik...saya kangen dia!

Tuesday, April 24, 2007

pagi basah yang indah

Benar apa yang mereka bilang. Kita perlu keluar lingkaran, supaya bisa melihat jelas, apa yang ada didalamnya. Aku perlu keluardari apa yang kita punya, tuk bisa melihat siapa kamu sebetulnya. Lebih dari 12 purnama aku mencoba mengerti keras hatimu, menahan perih karena tatap dinginmu, memaksa diri tetap waras setiap kali kamu membisu. Juga kunikmati genggaman hangatmu, pelukan terbaikmu, dan semua ciuman itu yang selalu membuatku membatin. "Ah, aku mencintainya."

Seperti biasa kemudian sisi pendiamku yang diam-diam berbahaya itu tiba-tiba berkata pelan, "Sebegitu cintanya kamu pada dia...Sepertinya kamu sudah tidak bisa hidup tanpa dia."

Sisi yang dominan ini melotot marah, harga diri terganggu, "MAKSUD LO?"

...

Percuma si diam sudah tidur.

Mulailah aku terhantui semua bayangan negatif tentangmu. Aku lama-lama hanya mengingat aku mencoba mengerti keras hatimu, menahan perih karena tatap dinginmu, memaksa diri tetap waras setiap kali kamu membisu dan melupakan genggaman hangatmu, pelukan terbaikmu, dan semua ciuman itu yang selalu membuatku membatin. "Ah, aku mencintainya."

Begitulah aku terus-terusan berkata bahwa aku tidak mau dikalahkan kamu. Lalu aku pergi, aku berlalu. Kamu tersakiti, sempat menunggu. Lalu aku tetap menjauh, dan akhirnya begitupun kamu. Aku tidak dikalahkan olehmu kekasih hati, tapi aku dikalahkan gengsi dan harga diriku sendiri.

Tiba-tiba saja aku sudah ada di luar lingkaran kita, tempatku berdiri sekarang bernama Masa Kini.

Dan aku bisa melihat dengan lebih jelas...sangat jelas...siapa kamu sebetulnya.

Satu dari sedikit orang yang bisa kupercaya, sampai kapanpun. Satu dari sedikit orang yang t i d a k p a n t a s tersakiti oleh siapapun, jadi semoga dunia membalasmu dengan kebahagiaan tanpa akhir, hai kamu yang istimewa. Aku tidak menyesal pergi, tapi kalau waktu berputar lagi, percayalah ini takkan terjadi.

Tapi...kalau ini tak terjadi, mungkin aku takkan pernah mengerti betapa beruntungnya aku pernah memiliki hari bertemankanmu bunga mimpi.

Happy belated birthday, boy.

Thursday, April 19, 2007

chaotic

Kamu.
Iya, kamu yang sudah berlalu bertahun-tahun lamanya. Yang pernah, tapi sudah tidak, kucintai sebenar-benarnya. Yang terakhir merasakan seperti apa seorang Kristy yang 'optimist in love'. Yang terakhir merasakan seperti apa bersama seorang Kristy yang masih punya option 'berkorban demi cinta' di hidupnya.

Kamu.
Orang terakhir yang menemui dia. Kristy yang itu. Yang berani, yang percaya. Yang tidak menyerah-malah menolak kalah. Kristy yang sudah lama pergi, tidak kembali, malah mungkin dia mati.

Kamu.
Kamu harus tahu. Aku meninggalkan laki-laki itu, terbaik yang pernah ada di muka bumi. Laki-laki yang paling menyayangi dan melindungi aku bahkan sampai hari ini. Setelah semua yang terjadi. Setelah semua yang padanya kubiarkan terjadi. Laki-laki terbaik yang sudah melakukan jutaan hal sempurna, berusaha membuatku percaya. Kamu tau apa yang dia dapat sebagai balasnya? Suatu hari entah kenapa aku mulai punya bayangan 'seperti apa rasanya kalau dia juga menyakitiku'. Aku ketakutan, dihantui, diteror, siang malam. Di hari-hari juga di mimpi-mimpi. Lalu begitulah, aku pergi. Aku pergi sebelum dia pergi. Karena dia jauh lebih baik darimu, aku tau kalau dia sampai menyakiti, sakitku akan berkali-kali lipat dibandingkan yang disebabkanmu dulu itu.


Kamu.
Kamu harus tahu. Aku bersama laki-laki ini yang menyayangiku sebaik yang dia bisa. Dia sedikit menyakitiku, tak sengaja. Dia memperbaikinya, tapi ku tak bisa lupa. Ada ide gila dalam kepala: Ah, dia juga sama saja. Dari hal-hal baik yang dia coba berikan, aku justru paling ingat saat2 dimana dia sepertinya tidak jujur padaku. Menangis-nangis marah, kecewa, menderita tapi tidak membicarakan itu dengannya. Kenapa? Percuma : kata ide gila dalam kepalA.

Padahal siapa bilang laki-laki itu akan pergi?

Padahal kata siapa laki-laki ini sama saja?

Seorang perempuan 21 tahun yang putus asa dalam diriku yang terus mengatakannya.

Kamu.

Kamu harus tahu. Perempuan 21 tahun itu sekarat tak berkesudahan. Air matanya tidak berhenti sejak hari dulu itu waktu dia tahu dia bukan ‘satu-satunya’ di hidupmu, tapi ‘satu dari tiga’. Dia terus terisak sambil memperingatkan siapa saja yang bisa: “hati-hati, mereka semua sama.”

Dialah pembuat Kristy yang 'optimist in love' dan masih punya option 'berkorban demi cinta' di hidupnya jadi marah dan pergi … tidak kembali, malah mungkin dia mati.

Kamu.

Kamu.

Kamu.

Kamu tahu aku bukan tipe orang yang menyesali masa lalu. Aku mensyukuri keberadaan mereka. Rasanya semua sudah kulewati dengan sebaik-baiknya. Kalaupun ada yang menawarkan kembali ke masa lalu, aku kemungkinan besar takkan mau.

Kecuali.

Kalau saja aku tahu bahwa akan begini jadinya, takkan kuturuti permintaanmu sebagai seniorku dulu untuk memijat bahumu

Jujur saja, kalau untuk itu: Aku menyesal.

Aku bukan menyalahkanmu untuk seorang aku yang complicated sekarang ini.

Aku hanya ingin kamu tahu, kamu punya andil besar dalam menghancurkan aku.

Luar biasa memang…keparat!

Monday, April 16, 2007

home...with the bitter yet sweet reality, cruel yet lovely paints for me

Pulang dan menemuimu lagi, hidupku. Menerima semua baik dan burukmu, semua senang dan susahmu, belajar tentang keadilan dan cinta...darimu. Kemarin tanggamu curam, tapi cuaca sebetulnya tidak terlalu buruk. Aku tau tak selamanya matahari menjadi keberuntunganku. Tapi betapapun, aku bisa berdiri di dalam mu lah yang berarti. Membiarkanku jadi bagianmu dan membiarkanmu jadi bagianku, dan mengertimu sampai habis nafasku nanti. Kamu dan aku yang selalu satu...

...hingga akhir waktu

Wednesday, April 11, 2007

safety net

….Hehe, makanya pikir baek2 sebelum memutuskan mau ttm atau hti atau apapun itu namanya, sometimes it could be even harder than having the real relationship itself lho…:p

::drfeelgoodardan.blogspot.com::

Monday, April 09, 2007

kunang-kunang


Berhasil lagi kau hangatkan malam yang harus terlewati sendiri. Entah apa yang mengantarku mencari dan menemukanmu. Selalu pada saat yang tepat. Selalu terasa dekat. Kuingat lagi banyak sekali kata 'entah' tertulis jika aku bicara pada/tentang kamu. Sejujurnya aku tidak pernah punya alasan, aku tidak pernah punya tujuan. Aku hanya tiba disana dan begitu saja kita berjumpa. Dalam suatu atmosphere istimewa yang mungkin kuncinya hanya kita yang punya.

Superstitious...
Tenang membius...

Mengertilah "tak perlu kau balas ini" bukan berarti buruk, tapi justru karena aku tahu dan percaya bahwa kamu ada, bahkan tanpa kamu perlu berkata apa-apa. Dan sudah lama aku tidak menggunakan kata 'aneh' dalam kalimat yang sama pada/tentang kamu. 'Istimewa' rasanya lebih pantas, menggambarkanmu dalam satu tarikan nafas.

Entah, ditengah-tengah sunyi yang terlalu panjang, sering kusyukuri sudut itu yang semoga takkan hilang.

Ada kamu disana.

Sunday, April 08, 2007

n'est pas Qn

"Egois" katanya.
Padahal aku hanya mencoba bicara. Tidakah dia mengerti, aku hanya tidak suka sendiri.
Bukan takut seperti yang dia kira, aku hanya benci merasa tak ada siapa-siapa.
Sesulit itu memang mengerti pikiranku, haha, tell me 'bout it! Setelah sekian lama, aku berhenti memaksanya berhenti, percuma, kepalaku terlalu keras kepala.
"Nggak bisa" katanya.
Padahal baru sebentar dia mencoba, belum waktunya kan menyerah kalah?
Oh...dia memang pintar membalikan situasi, selalu aku jadi yang merasa tak berarti.

Aku merindukanmu, hei sang pengerti.

Saturday, March 31, 2007

"SANGAT PINTARRRR!"



Aku sedih karena aku tidak bisa ngomong sama kamu langsung waktu aku nangis sekarang ini. Bukan kamu yang ada di depanku tapi layar terang yang tak bersuara, apalagi memeluk dan bicara. Padahal cuma satu kalimat yang aku punya…

“Sayang, setiap kali kamu biarin alkohol bawa pergi kesadaran kamu, rasanya aku hampir mati tersiksa.”

Aku tidak bisa membantah kalimat lain yang bilang, “Suka-suka dia lah, dia kan manusia merdeka.”.

Aku juga tidak bisa menolak mentah-mentah kalimat lain lagi yang bertanya, “Apa kamu gila, mempercayakan hatimu pada orang yang tidak bisa mengontrol dirinya?”.

Aku cuma tahu aku cinta kamu, cinta.

Bagaimana aku tidak gila saat ini…? Kamu tadi berjanji, “Sayang malam ini aku pasti bisa mengontrol diri.”

…dan tak kamu tepati.

Aku mencoba jadi perempuan yang mengerti, tidak membatasi, tidak menggurui.Tapi melihat kamu dijajah sesuatu bukanlah hal yang mudah untuk diterima, kamu jadi sungguh terlihat bodoh, sayang…

Jadi tak BISAKAH KAMU MASUKAN ALKOHOL KE DALAM TUBUHMU DENGAN TAKARAN YANG PAS AJA???”

Stupid.

Friday, March 30, 2007

a letter to princess of innocent world


Putri mungil, apa sebetulnya yang kau cari? Jangan berkata cinta, karena padanya jelas tak ada. Jangan berkata bahagia karena dia takkan tahu artinya.

Sadarilah dia sudah tak ada, dia tinggal kenangan saja. Syukurilah dia sudah tak ada, dia tinggal kenangan saja. Luka-luka dan hati tersiksa sudah tak ada, tinggal kenangan saja. Dia sudah tak ada, dia tak seharusnya membuatmu berairmata. Kalau dengan ketiadaannya, dia masih bisa meraja, apa jadinya? Dia sudah tak ada, dia tak seharusnya membuatmu berairmata.

Putri mungil kamu pantas dapatkan cinta dan kamu pantas bahagia. Putri mungil kamu akan dapatkan cinta dan kamu akan bahagia.

Tapi langkah pertama, Putri mungil kamu harus memaafkan dia. Sejahatnya dia, seteganya dia, senistanya dia, bahkan sebelum dia meminta. Pelan dia akan menghilang dari malam-malam itu, pelan dia akan berhenti jadi bayang-bayang hantu.

Dan Putri mungil ingat saja setiap kamu lelah berkelana: Segelap-gelapnya langit, ada bintang-bintang setia yang jangan dilupakan begitu saja.

Wednesday, March 21, 2007

"kata-kata perusak malam"



kejora, ku kira perih takkan hampiri
di jalan ini, yang kau dan aku langkahi
kejora, selintas nyata bangunkan mimpi
padanyalah kau akan slalu kembali

kukira perih takkan hampiri
tapi aku sungguh tak yakin lagi
mungkin hati mulai hilang kendali...
mungkin sudah saatnya aku pergi...

::aku...ayo dong, cepat sembuhhh::

Tuesday, March 20, 2007

dear party girl...



Walaupun banyak yang ngatain muka gue jutek, semua orang yg kenal gue kaya nya tau kok, sebetulnya jutek bukan kata yang pas...Yang bener adalah gue cuma nggak suka basa-basi. Kalo pada dasarnya gue emang nggak bisa nyapa ya nggak bisa aja.
Apalagi kalo tu orang pernah gangguin (baca: seducing) adik gue sendiri dengan cara yang menurut gue NGGAK ADA KEREN2 NYA SAMA SEKALI. How am i suppose to make friend with someone who once easily threw herself to my most important man?
Jadi girl, kalo lo baca ini, mengertilah. Gue nggak benci sama lo, gue juga bukannya sombong atau jealous sama lo karena lo sering 'gangguin' cowok gue seperti yang lo kira (percayalah i'm not one of those, i would never be threatened by your type). Cuma daripada gue senyam-senyum sama lo padahal dalem ati gue bergidik, kan jadinya malah muna...ya kan? Jadi jangan riweuh lah, santai aja, gue nggak benci dan nggak akan ganggu lo kok.

ps: now that you know he is my brother, would you please keep your hands off him? Thanks before.

Monday, March 19, 2007

taking chances



You provoke me...

and i'm now back in that place
holding on to some promises
those that are delivered without words
those that took away all my logic thoughts

strange how it feels so right
and scary at the same time
i know i got that willing to fight
i'll be waiting for that moment to come

You provoke me...
But i guess it's just the way days should be...

Sunday, March 18, 2007

it all start from someone named: Me


...dan aku takkan tahu cara menyayangi yang lain sebelum kusayangi aku...
...dan aku takkan bisa membantu yang lain sebelum kumembantu aku...
...dan aku takkan bisa menolong yang lain sebelum kutolong diriku...
...juga betapa bodohnya mengira bisa melihat apa yang lain punya tanpa menyadari apa yang sudah jadi punyaku...
...dan aku akan tahu cara memaafkan yang lain saat aku sudah mampu memaafkan aku...
...lalu kan bisa mencintai yang lain setelah kubelajar mencintai aku...


c'est toi...



...ku rasakan hadirmu seperti senja
...kau tak panas, kau lembut menggoda
...terimakasih tuk sebuah perasaan lega
...yang akhirnya kumengerti karena kau ada
...pantas jiwa ini tak merasa gelisah
...pantas ku nikmati gelap yang indah
...yang akhirnya kumengerti karena kau ada...
...ternyata...

Saturday, March 17, 2007

being not too hard to myself, semalam saja :)


tidak kukira kan menikmati sepasang sinar itu
mungkin rintik-rintik sedikit membuatku gila
bukankah harusnya aku bisa tak terbang jauh
mungkin dingin malam yang bekukan logika

"sesuatu yang candu itu biasanya dosa"
peringatan keras tentang kebersamaan kita
"hati-hati disaat mulai terlalu tergoda"
waraskanlah lagi ku yang tampak sakit jiwa

miris tertulis baris-baris saling bertentang
benci masih membayang tapi aku terkadang..
...tak peduli lagi mana benar mana terlarang
...sedikit sentuhku dan dia teduhkan gersang

...mungkin bukan tuk waktu yang lama
...tapi takkan terlalu keras bertanya
...gelisahpun tak perlu pula rasanya
...karena aku bahagia
...karena aku bahagia
...karena aku bahagia


::gerimis manis tak berujung di suatu sore yang mendung, Bandung 2007, singkat, pekat, erat...semoga aku cepat sembuh::

Wednesday, March 14, 2007

if u never try, u'll never know

Cerita ini melibatkan seorang sahabat gw, tapi seperti biasa dia nggak mau namanya disebut...pastiii...jadi mari kita namain dia Lodeh. Don't ask me why, banyak pertimbangan kenapa gw milih nama itu, supaya nggak ada yang kesepet adalah satu diantaranya. Nah si Lodeh sekarang lagi deket-nyaris pacaran-sama seorang cewek bernama...hmm...siapa ya? Chilli. Yes, namanya Chilli. Kenapa? Karena dia packingnya bagus dan tapi, katanya, dalemnya pedes, persis kaya cabe!

Hee...yang terakhir itu bisa diterjemahkan jadi: cantik tapi brengsek, lucu tapi player, enak diliat tapi jahat. Reputasi itu yang bikin Lodeh ngamuk-ngamuk malam kemarin sampe walk-out dari suatu bar karena bt denger cewek incarannya digosipin. Later dia bilang sama gw: "Sebel gue kaya nya semua orang yang tau gue lagi deket sama Chilli komentarnya sama semua...Ati-ati ya bo, dia kan player..."

Usut punya usut ternyata player yang kalo di break-down bisa berarti banyak itu dalam kasusnya Chilli adalah player dalam bentuk pemorotan. Chilli terkenal dengan metode 'ngeladenin-jadian-porotin-tinggalin' nya. Para korban biasanya adalah cowok-cowok A class yang banyak duit dan banyak gaya. You know kan, mereka-mereka yang merupakan bukti nyata kalau selain can't buy you love, money also can't buy you brain nor make you smart.

Lodeh bertanya pada si gw: "Menurut lo gimana Kris? Should i stop?"
Kristy bertanya balik pada si Lodeh: "Emang siapa aja sih 'korban'nya?"
Lodeh menyebutkan sederetan nama yang membuat si gw kembali menemukan kesamaan para korban nya Chilli: b r e n g s e k
Bersuaralah si gw akhirnya: "Emang menurut lo Chilli salah ya?"
Lodeh: "Yaaa..."
Kristy ketawa ngedenger erangan putus asa lodeh.
Lodeh: "Kok ketawa sih lo?"
Kristy yang kebetulan kenal sama Chilli selewat dan tau kalau Chilli emang punya modal untuk menjadi perempuan seperti itu menjawab: "Nggak...Inget Chilli aja gue.."
Lodeh: "Kenapa malah ketawa?"
Kristy: "Kenapa kalo cowok bereputasi player tu kesannya cool sementara kalo cewek malah berkesan hina, ya?"
Lodeh diem.
Kristy: "Coba lo inget-inget lagi nama korbannya Chilli yang lo sebutin tadi, setau gue kelakuan mereka udah jauh lebih parah dari Chilli, ya kan?"

...dengan kata lain, mereka pantes-pantes aja digituin, belum seberapa kok dibandingin apa yang udah mereka lakuin sama cewek-cewek lain. Kedua, dalam hal merugikan-dirugikan seperti sebuah lagu lama pernah bilang: 'all is fair in love'.
Kenapa sih cowok2 itu perlu ribut soal diporotin sama Chilli trus ditinggalin? Sebetulnya kan kalo mereka nolak permintaan Chilli kan nggak akan ada masalah juga, paling diputusin. Kalo diputusin gitu kan mereka rugi apa sih? Bukannya cowok kaya mereka bisa dapetin cewek in a minute? Tapi masalahnya adalah mereka memilih untuk tetep ngasih (intentionnya apa, hanya dia dan Tuhan yang tau), dan itu berarti mereka ambil segala resiko yang ada termasuk ditinggalin kan? Tentu aja lebih sering mereka nggak terkena resiko itu karena ke'ahli'an mereka jadi cowok brengsek. Tapi dalam kasus Chilli, sorry man resiko terjadi dengan telak pada lo. Kenyataan bahwa mereka adalah gamer sejati and as we know, they hate to loose, membuat mereka 'membalas' dengan cara menyebarkan cerita jelek tentang Chilli kemana-mana.
Gila ya, dalam hal ini ternyata kelakuan cowok dan cewek nggak ada bedanya sama sekali...begitu disakitin langsung deh jadi drama-queen dan membuat diri mereka jadi korban supaya dapet simpati masyarakat. Well gw cuma punya satu line buat mereka: "Boy, resiko terburuk itu harusnya udah lo pikirin dari awal, termasuk resiko bahwa lo kalah dan dipermalukan...jadi plis lah, be a gentleman dan jangan cengeng!"

(kalimat ini pernah gw pake buat temen gw yang mau aborsi waktu mendapati dirinya hamil di luar nikah. Jadi jangan bilang gw memihak gender manapun dengan tulisan ini, girls/boys sama aja)

Kenyataanya adalah waktu kita mutusin untuk memulai suatu 'story' sama seseorang, kita dan si seseorang sama-sama nanggung resiko: bahwa pasangan kita itu brengsek, nggak punya manner, nggak setia, bodoh, sakit jiwa, matre, bad kisser dan lain-lain.
Probabilitasnya sama besar buat kedua belah pihak dan waktulah yang akan nentuin siapa yang cukup beruntung dan siapa yang lagi apes. And by that time, ya dua-duanya harus fair dong, sedih boleh, tapi jangan manja dan ngeluh sambil nggak mau ninggalin. Kalo nggak suka ya tinggalin, kalo nggak mau tinggalin ya jangan ngeluh!

Takut?
Wajar, udah banyak juga case orang2 yang memutuskan untuk nggak nyoba dan ngambil resiko2 itu.
Pertanyaannya, are those kind of people really are free?

Nggak.
Kenyataanya adalah waktu kita mutusin untuk tidak memulai suatu 'story' sama seseorang, kita juga nanggung resiko: kehilangan seseorang yang sebetulnya sangat baik, sangat pengertian, sangat sayangs ama kita, sangat setia, sangat bisa diandalkan, sangat pinter, sangat romantis, good kisser dan lain-lain.
Probabilitasnya sama besar dengan resiko-resiko buruk dan kalau udah mengingat-ngingat ini, rasanya takut juga kehilangan resiko2 baik yang lebih enak disebut 'kesempatan'. Waktulah yang bakal nentuin apa kita cukup beruntung atau nggak. Mungkin akan butuh waktu lama, tapi seperti Coldplay pernah bilang: "if u never try u'll never know" kan?
Rasanya udah terlalu jauh melenceng...Sementara gw ngetik semua ini di communicator gw, si Lodeh udah manyun dan semakin manyun. Gw tau dia bingung antara mau menghindari resiko dan membuang kesempatan atau mengambil kesempatan sekaligus resikonya?
Menghindari resiko dimatrein sama Chilli sekaligus membuang kesempatan bahwa mungkin aja Chillii nggak seburuk yang dia denger. Atau dia mau ambil kesempatan untuk bersama Chilli yang mungkin aja sebetulnya baik dan nggak punya bad intention sama dia sekaligus ngambil resiko bahwa gosip2 itu 100% benar?

Gw ngejitak kepala Lodeh sambil bilang,"Say it with me Lodeh manis..."

"If u never try u'll never know.."

After all, berprasangka baik kemudian kecewa masih lebih baik daripada berprasangaka buruk dan mendapati prasangka itu salah. Kemungkinan terburuk kan kecewa juga, sama. Jadi kenapa mesti buang waktu ber negative thinking dan nambahin kerut2 yang bikin penuaan dini?

Mendingan juga waktu bernegative thinking kita subtitute dengan berpositive thinking jadi walaupun sesekali kita sial dan kecewa, paling nggak kerutan penuaan dini yang terjadi nggak akan terlalu dalam.

...and please be fair. Terlepas dari lo cewek atau cowok, kita punya kans yang sama buat dirugiin atau ngerugiin. Semuanya sama-sama punya pilihan kok, just chose wisely...And keep this in mind: It's our choice. jadi jangan salahin siapapun kalau ternyata pilihan kita salah. The best thing to do is learn not to make the same mistake.

Tuesday, March 06, 2007

drunken bull-shitter


he said "I can't stop thinking about u, i don't wanna loose u, i love u..."
she think "If u did nothing wrong, why did that line cross your mind?"
he said "Don't change, i won't be able to stand it."
she think "I won't. I'm still hating u inside-out...and you're just too stupid to compete me."

...so don't even try.

Monday, March 05, 2007

pelajaran cinta


Hari ini aku melihat cinta lama yang dunia kira sudah tak ada...bertemu lagi.
Hari ini aku merasakan hangat yang kukira sudah lama tamat...terasa lagi.
Hari ini aku merasakan sesal untuk hal-hal bodoh yang memisahkan mereka, terasa semakin bodoh.
Hari ini aku merasakan nada-nada yang dengan tegas menyatakan "Kita seharusnya tetap bersama"
tiga kali tiga ratus enampuluh lima hari rasanya sudah cukup membuktikan, apa yang dimiliki, terlalu agung tuk berakhir begitu saja.
Bahkan aku yang tak terlibat didalamnya, sangat setuju.
bahkan aku yang hanya melihat saja, sangat setuju.
Kalian seharusnya bersama, bersyukurlah karena memilikinya, sesuatu yang satu diantara sejuta.
Pelajaran cinta...pelajaran cinta...pelajaran cinta....
Pelajaran cinta yang sungguh-sungguh berharga...

::JavaJazz Festival 2007, sehabis si kristy nonton the Groove yang yang tampil lengkap tuk pertama kalinya after all this 3 years::

Wednesday, February 28, 2007

bintangku sayang...kamu emang sialan...

1. Capricornus 21 Jan - 16 Feb (26 hari)
2. Aquarius 16 Feb - 11 Mar (24 hari)
3. Pisces 11 Mar - 18 Apr (38 hari)
4. Aries 18 Apr - 13 Mei (25 hari)
5. Taurus 13 Mei - 22 Jun (40 hari)
6. Gemini 22 Jun - 21 Jul (29 hari)
7. Cancer 21 Jul - 10 Ags (20 hari)
8. Leo 10 Ags - 16 Sep (37 hari)
9. Virgo 16 Sep - 31 Okt (45 hari)
10.Libra 31 Okt - 23 Nov (23 hari)
11.Scorpius 23 Nov - 29 Nov (6 hari)
12.Ophiuchus 29 Nov - 18 Des (19 hari)
13.Sagitarius 18 Des - 21 Jan (34 hari)

It's been weeks, people keep talking about it. It's everywhere i go, "Eh...udah tau belum zodiak kan berubah??"
"Gue sekarang udah bukan Sagitarius, bo!!"
"Eh, emang penting ya, yang berubah kan zodiaknya, orangnya mah sama aja!" (yang ini kata happy, suster feel good, produser gue)
"Jadi sebetulnya selama ini gue nggak cocok tau nggak sih ama pacar gue!"
"...ya ampun, lo sadar nggak sih siapapun yang ngaish nama-nama zodiak itu bener-bener selain kurang kerjaan, juga nggak nyeni...Namanya kuno banget, nggak universal gitu lho...kerasanya oldies berat aja, nggak cocok sama jaman milenium..." (yang ini keluar dari mulut seorang temen gue yang seorang desainer nyinyir yang suka sekali berkomentar pedes tentang apapun di dunia ini)
"Mampus gue, nama gue sekarang udah kagak cocok sama zodiak gue!" (keluar dari mulut seorang yang tadinya virgo dan sekarang jadi leo, namanya? Firman. Entahlah, mungkin maksud doski harusnya skarang dia ganti nama jadi ...Leman? Plis lah...)

Sebagai seseorang yang selama ini berusaha memberi pengertian yang mendalam terhadap diri gue tentang keanehan gue sendiri dengan kalimat, "Wajarlah Kris, lo kan Gemini. Wajar kalo lo suka moody, plin-plan, nafsuan (in every way!!), keras kepala dll...wajaarrr..."-sejujurnya gue agak panik.

Betul-betul panik yang tolol, bodoh, dan menyedihkan...

Ternyata selama ini gue Taurus....berarti gue nggak bisa lagi nyalahin 'gemini' karena gue moody, plin-plan dan nafsuan (sekali lagi: in every way!!)...

huh...SIALAN!!

::kristy yang keukeuh menjadi gemini! Aku tak peduli!!!AKU GEMINIIIII!!!::

Sunday, February 25, 2007

the end

Selama ini aku berlari ke tempat itu, kupernah menceritakannya padamu. Disanalah mimpiku, tempat kuingin berlabuh. Tempatku mau hidup dan bahagia, tempatku mau tenang akhirnya. Inginku kau temani, supaya ku tak merasa sepi. Bersama-sama kita tiba, bersama-sama kita melihat dunia. Pasti akan lebih indah, setidaknya begitu dulu kukira. Tapi kau larang ku tuk pergi, kau pintaku jangan menari. Aku menangis perih dan kamu tak juga mengerti. Aku punya cita-cita, kekasih, itu yang membuatku berarti. Terlalu erat kau dekap aku, membuat nafasku rusuh memburu. Begitupun aku masih tak mau, begitu saja menyerah padamu. Menyerahkan jalan hidupku, mesti kau tak pernah mencoba tahu. Airmataku itu tak berarti surut, masih kuat aku tuk berlanjut. Lihatlah kali ini sebentar saja, terakhir kali sebelum kita berpisah...

Lupakan janjimu tuk berubah,sudah waktunya kamu berpasrah
Aku tahu hatiku takkan luluh lagi, jadi lebih baik kamu berhenti

karena...
Aku telah tiba disana, tanpamu.
Jadi selamanya...tak kuinginkan lagi kamu.

Sunday, February 18, 2007

....peri belum berhenti menari...
...peri belum berhenti mencari...
satu langkah lagi,menyusuri sedikit mimpi

...peri masih ingin menanti...
...peri masih coba mengerti...
belum patah hati, masih bersinar masih berarti

aku belum lelah, jiwaku belum lemah
aku belum pasrah, ku belum menyerah
aku masih tunggu, mengindahkan bayangmu
aku sudah tahu, jauhmu takkan mengganggu

...dan lalu jagat raya luluhkan ku...
...memang ingin berakhir disitu..
...ujung pelangi, tempatmu yang satu...
...tak ada kekasih lain untukku...

Thursday, February 15, 2007

15 Februari 2007

Dear Ukun,
Seumur-umur kenal km ya, nggak pernah-pernahnya gw kepikiran buat nulisin surat. Yang kepikiran tiap kali mau ketemu km kalo mau ngeMC, atau mau minta tolong bikinin logo, atau ketemu di YM atau malah cuma mau nelfon justru “Ntar nyela apa lagi ya ke si Ukun…”
But also, I never thought there would come a day like today. Nggak pernah-pernahnya gw kepikiran buat berjarak nggak nyampe setengah meter dari km tanpa bisa denger suara km, not even a word, not even a glimpse of your laugh. Siang ini adalah pertemuan teraneh yang pernah gw alami dengan seorang Ukun KC, karena rasanya kamar Rumah Sakit itu terlalu sepi.
Ulang tahun suatu supermarket kira-kira dua tahun lalu seinget gw, kita ngeMC bareng yang pertama. Di Dago T-Huis dengan serendeng acara yang teramat sangat nggak penting dan boring, tapi gw inget gw pulang dengan bertanya-tanya, “Kok tumben amat gw bisa klik di event pertama ya?”. Entah karena daya mencela km yang cukup kreatif atau concern km yang besar untuk bikin gw ngerasa nyaman dengan cara nyeritain semua yg bisa km ceritain. By ‘semua’, I really mean it…Studio baru di B Radio, computer mas Ojo yang baru ganti wallpaper, tukang nasi goreng yang enak di depan B Radio, Hilda sang istri tersayang yang karirnya lagi cerah di salah satu merk baju internasional, adik km yang kadang bikin khawatir, sampai pergosipan soal para pengisi acara hari itu yang teramat sangat gw nikmati.
Gitu deh, the rest was fun. NgeMC bareng di Banjaran dan kehujanan sampe banjir dan kita harus berdiri di atas kotak-kotak soundsystem, ngeMC di Tasik dan lagi-lagi kehujanan sampe beberapa kali keseterum bareng gara-gara mic yang dipake agak korslet, ngeMC di B Mall dan terpukau bersama ngeliat para model body painting yang seksi-seksi dan nuduh gw suka brondong waktu gw nggak bisa kontrol muka di acara festival band Braga Citywalk beberapa bulan yang lalu.
Sejak setahun lalu juga ada satu yang nggak mungkin km lupa setiap kita ketemu, nunjukin foto terbarunya Chelsea lengkap dengan cerita-cerita paling mutakhir tentang that little Princess of yours. Sesudah Chelsea lalu nyusul cerita tentang ibunya Chelsea-Hilda yang selalu km sampein dengan tone yang—kalo boleh gw namain—adalah campuran antara rasa cinta, sayang, bangga dan bersyukur. Gw inget waktu Chelsea baru lahir gw ktemu km yang mukanya merah-merah, “Muka kamu teh kenapa, Kun??”
“Da gua mah saking sayangnya sama istri, dia yang mau ngelahirin tapi gw yang stress…Gini we jadinya…”, kamu waktu itu sok ngomel, padahal kedengeran banget kamu rela serela-relanya mau gatel-gatel kaya apa juga kalo emang buat mereka.
“Tiw! Ini UKUN KC, UKUN KUNCORO!”
…hihi, gitu pasti kalo km nelefon. Dengan bangga bikin gw budek trus cekikikan dan nggak ngewaro omelan gw. Somehow dengan anehnya ya, km kalo diomelin malah ngejawab sambil ketawa. Kalo gw komentar “Makan wae sih kamu teh..”
Km bakal jawab dengan , “Wuuuh, nggak tau aja kamu Tiw, kemaren ke Giant makan trus belanja meni loba teh!”
“Belanja apa?”
“Dahareun!!”, kata km sambil ngeluarin seplastik cemilan yang menurut gw pantas dipersalahkan jadi salah satu penyebab atas perbedaan dua kilo lebih berat yang gw alami sekarang ini dibanding tahun lalu. “Kata Hilda, gw kaya ibu-ibu.Gw belanja sampe seratus ribueun, padahal mah tadinya mah ke Giant Cuma mau beli susu buat Chelsea sama ini nih...”
Yang km maksud dengan ini nih—adalah egg roll. Cemilan yang km perkenalkan beberapa bulan sebelumnya ke gw dan km inget terus kenyataan kalo gw—sama kaya km—suka sekali sama egg-roll itu. Jadi tiap mau ngeMc sama gw km pasti bawain egg-roll plus cemilan-cemilan lain. Senjata yang dengan pintarnya km pelajari bisa bikin mood gw yang ancur jadi teramat sangat membaik.
Sore itu setelah egg-roll yang km bawa itu habis, sambil nunggu anak2 BDD manggil abis kita shalat magrib, kita ngobrol-ngobrol soal hidup. Diawali dengan sedikit curhatan-curhatan, akhirnya I popped-up the question, “How to sense if that person is the one we wanna spend the rest of our life with?”
Km diem sebentar, menghela nafas dan bilang, “Kerasa aja, Tiw. Gw ga akan lupa satu titik dimana tiba-tiba gw pengen berhenti bandel, gw pengen hidup bener, dan gw cuma pengen hidup sama Hilda..”

…then, there was that genuine smile on your face, “...hhh, dan alhamdulillah gw akhirnya tau rasanya hidup damai itu seperti apa. Enak banget!”

Gw waktu itu langsung nggak peduli lagi sama semua cerita tentang kenakalan masa muda km dulu, somehow gw percaya bahwa tanpa semua itu maybe you wouldn’t be that happy.

Ngomong naon atuh, Tiw?

Hihi, gw ngebayangin kalo km baca ini pasti itu yang bakal keluar dr mulut kamu. Gw juga bingung Kun, gw teh lagi ngomong apa. Kaya nya gw cuma harus aja ngeluarin semua yg gw inget tentang km. Semua hal-hal baik yang bukan karena kamu sakit trus baru keingetan sama gw. Tapi semua hal-hal baik yang selama ini selalu gw inget, hanya nggak pernah gw sampein ke km langsung karena gw selalu ngira masih banyak event2 ngeMC bersama lainnya yang bisa kita lewatin bareng.
Again, gw nggak pernah kepikiran bahwa akan ada harinya dimana km begitu diam, dan kerasa jauh. Sejujurnya gw agak takut, Kun. I mean…I’m afraid I never get to let u know that your design for the logo of my band is brilliant, that being your partner’s always fun, that in my opinion u’re a great husband and dad, and also an excellent friend.

…and I haven’t thank-you enough for those egg-roll and dozens of other nice things that I got from being one of your friend.

Sejujurnya gw sedikit ngarepin ‘miracle’ sekarang ini, Kun. That u’d wake up and be around us again. Tentunya kalau itu terjadi km akan mencela surat ini, dan gw akan terlalu senang untuk peduli.

“Harus direlain aja..”

Aduh Kun…Kok kalimatnya para dokter yang singkat itu terlalu peureus ya buat gw, buat anak2 juga. Hari ini gw sama Mumus beredar di kantor dengan mata bengkak yang jelek banget…we kinda miss u. Si Ukun yang resing-rea singkatan, si Ukun yang sayang sama keluarganya, si Ukun yang hafal gosip2 artis dalam negeri, si Ukun yang sok macho padahal takut kucing gara2 trauma dulu pernah nabrak kucing dan selama tiga hari dia dihantui gambar2 garfield di dinding kamarnya jadi hidup dan masuk ke mimpinya….See, satu lagi bukti dibalik kesintingan km, km teh orang baik, lembut hati.

U’re not gone, but seems too far….Tapi semoga dimanapun km sekarang Ukun, semogaaaa…disana ada warnet dan kamu terima offline message gw tentang ajakan membuka blogspot gw yang gw kirim sebelum gw tau kondisi km minggu lalu…


…So u could know how much u are loved…

Tuesday, February 13, 2007

the diary of ...

A friend, namanya Oki, anak kelas 3 SMAN 19 bandung.Beberapa hari yang lalu sesuatu terjadi sama dia, bikin gw mengeluarkan koleksian sumpah serapah gw yang tergawat. Tabrak lari, tulang pahanya patah, harus dioperasi karena kalau sampai terlambat mungkin dia harus diamputasi, biaya nya belasan juta dan...Tanpa bermaksud membuat cerita ini tampak seperti film...The family couldn't afford it. Bukannya pengen bilang 'life's sometimes unfair', tapi sedih aja kaya gini justru kejadian sama orang yang nggak mampu. Jadi lewat blog gw ini gw mau memudahkan siapa aja yang mau bantuin silahkan kirim ke rek BCA: 7770467190 a/n K.Nelwan. Perkembangan tentang Oki bisa diliat disini, juga laporan pengeluaran dari dana yang masuk disitu.

Oki sekarang di RS Halmahera Siaga Jl Halmahera Bandung, sudah dioperasi, tapi nggak boleh keluar ataupun dapet terapi pasca operasi karena belum melunasi tagihannya. Berapa hari yang lalu, karena panik takut anaknya sampai diamputasi, ibu Oki melarikan anaknya ke RS terdekat yang ternyata tidak bisa memberi keringanan buat mereka yang kurang mampu. So if u wanna help, please do coz he really needs it.

Sejak 3 hari ini dana yang masuk di rekening itu sebanyak Rp 1.250.000 yang kesemuanya sdh diberikan ke ibunya Oki. Tanda terima (akan di attach asap), rincian tagihan dan perkembangan terbaru dari Oki bisa diliat disini ya...

Terimakasih sekali buat temen2 di radio Ardan yang udah bantu mensosialisasikan masalah ini, especially Sazki (www.sazkia.blogspot.com) ,Eri Palgunadi-Prog.Director, dan ibu Ramalis atas bantuannya, may God bless all of u always-always...

...yet, he's so gorgeous...

...ada juga tipe cowok yang begitu ya...straight to the point...haha...

"We're both in a relationship, but we could still be together, kan?", katanya.

I don't know if it's scary or tempting...:)




But one thing for sure, i'm not a fool...if u know what i mean :)

Monday, February 05, 2007

...dan kamu memilih...

Pagi terlalu sepi, tanpamu, matahari
sesuatu terlalu tega membawamu pergi
paksa kutelan yang benar tentang jingga
jingga indah laluku itu tak pernah ada

mimpiku terlalu putih, kekasih hati
kukira lembut gurih manis yang tersaji
ternyata kudapat susu bercampur kopi
kuaduk, gelapmu tertinggal didasar diri

Sunday, February 04, 2007

"search"

Inget nggak sih betapa banyaknya lagu cinta yang temanya ‘mencari’? Mencari cinta sejati lah, mencari belahan jiwa lah, mencari sandaran hati lah…Cari aja teruuusss…

Cieh, ngeledek, padahal gw juga sampe sekitar beberapa minggu yang lalu terobsesi sama tema itu kok.

Trus gw mengalami conversation yang cukup intens dengan seseorang yang selama ini termasuk kategori ‘dapat dipercaya’ dihidup gw . Tanpa gw harus menjadi boring dengan menceritakan detail obrolan itu, singkat cerita, gw hampir nangis gara-gara tu orang mengatakan sesuatu yang sangat menyakitkan….apa yang dia katakan? Intinya dia membuat gw ngerasa nggak dipercaya sama sekali.

Ironis nggak sih? Gw selama ini mencari-cari orang yang bisa gw percaya, tiba-tiba satu dari sdikit orang2 yang gw percaya itu malah bilang kalo dia nggak percaya sama gw.

Gw inget banget seperti apa rasanya kecewa waktu orang yang kita kira bisa ternyata nggak pantes dapet kepercayaan gw sama sekali.

Tapi, maaan…Rasa sakit karena kecewa model itu nggak ada apa-apanya dibandingin rasa sakit karena ngerasa nggak dipercaya…

Sadarlah gw setelah sekian lama berkeluh kesah mencari orang yang bisa gw percaya, bahwa nemuin orang yang percaya sama gw adalah jauh lebih susah lagi.

..lalu selanjutnya… ngejaga orang-orang yang percaya sama gw itu biar tetep ada dihidup gw lah sebetulnya yang lebih harus gw pikirin.

Makanya gw berani ngeledek, “Cari aja terus, kapan mau belajar syukurin yang udah ada?”


Heueheu…dasar manusia.

Tuesday, January 23, 2007

boobs attack

“Lo denger gossip tentang…”

“Tentang apa?”

“Hmm…”

“Shoot, bilang aja lagi, gw nggak pa-pa…”

“Eh..ehm…”

“Laki gw selingkuh di acaranya Fame kemaren itu?”

“Eh…iya…”

“Tuh, liat, gw nggak pa-pa kan…kenapa sih lo mesti takut ngomongin itu sama gw?”

“Abis…kalo gw jadi lo pasti bt…”

“Ah…gw biasa aja…Kenapa gw mesti bt?”

“You’ve done many things for him!! Berhenti kerja, manjangin rambut lo, ngurusin segala-galanya tentang dia dan anak-anak…”

” Wah…haha…itu sih belum apa-apa! Lo belum tau soal hal2 gila apa aja yang harus gw lakuin buat muasin selera seks nya yang aneh, plus lagi gumpalan silikon sialan di dada gw ini dan proses facelift yang lama, menyakitkan dan harus gw lewatin sendiri…”

“Silikon?”

“Yeap…emang lo nggak notice apa ukuran gw berubah, tar lagi gw mirip Pamela Anderson gw rasa.”

“Kenapa?”

“Ya iyalah, dada gw membesar, dan otak gw membodoh, it’s so Pamela Anderson kan?”

“Maksud gw, kenapa lo pake silicon? Eh…maksud gw, kenapa operasi plastik?”

“Karena lima tahun lalu laki gw selingkuh sama cewek yang gw rasa satu-satunya yang bagus dari dia adalah ukuran dada yang kira-kira sama dengan ukuran gw sekarang.”

“Sakit?”

“Hm…Tujuh kali lipatnya melahirkan deh…”

“Ouch…”

“Otot lo yang biasanya nampung ukuran sekian kan harus dirubah buat nampung ukuran yang lebih besar….”

“Jadi?”

“Jadi…Ya otot lo dipotong, atau putus nggak sengaja ya…hmm..gw lupa…yang jelas otot lo dipaksa melar gitu deh...”

“Stop…Linu gw.”

“Yah, pengorbanan lah…To win his heart back.”

“Did u?”

“Nggak…Setelah boobs surgery, dua facelift, dua tummy tuck dan satu kali nose job pun…Dia masih sama cewek itu ke Fame kan beberapa hari yang lalu? Hehe…”


Gw masih SMA waktu pembicaraan ini beneran gw alami, dan gw inget butuh waktu bertahun-tahun untuk sembuh dari shock gw dan meredakan rasa marah gw.

“Liat tuh baju merah…Anjing badannya gila dah!”

“Bemper depan nggak basa-basi boss…”

“Ampun, coba cewek gw kaya gitu…”

“Aduuuh…gw mau deh jadi cowoknya…”

“Weits, ngantri boss!”

“Haha…langsung kebayang aja ya tu kalo jadi cewek gw gw suruh ngangkang terus deh…”


Pembicaraan kedua ini gw alami baru-baru saja. Kali ini gw nggak ikutan ngomong, hanya jadi pendengar pasif yang nggak peduli karena juga gw lagi ngobrol di hp gw sama seseorang. Tadinya gw nggak mau terlalu ambil pusing obrolan primitif seperti itu. Tapi begitu gw nutup hap gw, seorang cewek berjarak setengah meter dari gw terlihat mendengarkan pembicaraan cowok2 itu dengan penuh minat dan kemudian matanya nggak lepas dari si cewek pertama yang mereka omongin, yang ‘bumper depan nggak basa-basi’ itu. Gw perhatiin terus cewek kedua ini yang wajahnya cantik, tapi kelihatan labil dan dengan bumper depan standar. Gw menerka-nerka apa kira2 yang dia pikirin dan sebutlah gw sok tahu, tapi somehow gw yakin at that moment plastic surgery was an option for her.


Cowok2 itu sama sekali nggak sadar apa yang udah mereka rusak lewat obrolan ngga guna mereka tentang bumper depan dan ngangkang.

Saat itu berkelebat lagi di benak gw obrolan nista beberapa tahun yang lalu itu, trus obrolan lebih nista lagi beberapa menit sebelumnya dan ratusan obrolan primitive lainnya dalam kurun waktu antara itu. Artis-artis di E!, cewek2 di Playboy mansion, dr 90210, artis-artis di negara gw sendiri juga...Mereka yang rela nahanin sakit supaya fisiknya jadi sempurna sementara mentalnya jadi invalid…dan buat apa?

..kenyataannya kalau emang mereka ketemu sama orang brengsek, ya mereka akan tetep jadi korban, mau sebesar dan sebagus apapun dada mereka, mau semulus dan seputih apapun kulit mereka, mau selangsing dan serata apapun perut mereka. Mereka bakal tetep jadi k-o-r-b-a-n.

Nggak cuma sekali dua kali gw dideketin mereka yang berstatus tidak single dengan embel-embel ‘cinta mati’ and so on and so on padahal pasangan mereka berfisik lebih sempurna dari gw, jauh. Bukti bahwa kesakitan mereka sia-sia, bahwa fisik sempurna nggak ada arti kalau personality nya rusak parah.

Sampai rumah satu jam kemudian gw langsung masuk ke ruang kerja gw, melakukan suatu hal memalukan yang udah lebih dari sepuluh tahun nggak pernah gw lakuin: smoking. Mencoba meredakan aliran darah gw yang terlalu kenceng sampe kepala gw sakit. Akhirnya gw nangis sesegukan, sesuatu yang juga udah bertahun-tahun nggak pernah gw lakuin.

Marah, sedih, terluka. Entah siapa yang salah, para perempuan macam ‘itu’ yang terlalu naïf, atau laki-laki macam ‘itu’ yang terlalu primitif.

Tapi dibalik kekacauan itu ada yang positif juga, akhirnya ada satu penjelasan tentang gw yang kadang tampak heartless ini…:

Gw menolak untuk jadi perempuan tanpa pilihan, gw menolak untuk jadi korban.

…Dan gw rasa pendirian itu yang mengantar gw bertemu dengan orang-orang yang—hopefully—nggak seperti itu. Termasuk dia yang malam itu meredakan tsunami emosi gw dengan sempurna, i love u so much, darl.

Friday, January 12, 2007

...in many ways

G speaks in many ways.

Hari ini gw kedatengan temen2 sma 3 Cimahi selesai gw siaran. Ngobrol-ngobrol, ternyata mereka disuruh interview public figure buat tugas bahasa Indonesia, dan gw sama Sazki lah yang akhirnya mereka interview. Obrolan ngalor ngidul dari mulai 'TTL' sampe 'makanan favorit' sampe 'tipe cowok' dan akhirnya sampailah mereka pada pertanyaan yang buat gw sangat orisinil dan brilian mengingat mereka 8 tahun lebih muda dari gw...

"Apa sih komitmen ka Kristy dalam hidup?"

...dan kalau untuk menjawab 'tipe cowok ka Kristy' gw butuh hampir semenit buat mikir, kalau untuk pertanyaan yang ini gw menjawab saat itu juga tanpa mikir...

"Serving the others..."

"Kenapa?", kata mereka.

"Karena cuma kesadaran itu kok yang bisa bikin the world a better place...Jadi itulah makanya gw pengen sekali bisa mengabdikan hidup gw buat sebanyak-banyaknya orang yang gw bisa."


...Beberapa hari ini saking bingungnya gw seperti lost track. Saking kebanyakan pressure jadi malah lupa fokus sama tujuan akhir gw apa. Akhirnya wkatu shalat subuh tadi pagi gw minta sama Dia terangin lagi jalan gw.

...And so it happened.

...Tadi gw jadi ngomong panjang bahwa itulah alasan gw kenapa gw selalu ingin jadi front liners, jadi penyiar, jadi vokalis, jadi presenter...Karena dgn begitu gw bisa jadi mediator yang nyampein ajaran2 baik yang pernah gw terima ke orang lain. Kenapa sih gw nggak pernah2 nya bikin lagu ataupun gombalin pacar gw dengan kalimat 'hidupku hanya untukmu', karena emang udah sejak lama gw memutuskan untuk mengabdi pd society, by doing those things that i love...

Suatu hari dulu gw pernah nulis di jurnal pribadi gw:

"God speaks in many ways, but from what I know the favorite way is through our heart."
...terinspirasi dari obrolan sore dengan suatu mahluk yang dengan santainya bisa jadi sangat childish dan bijaksana dalam satu waktu.

Ternyata bener yang si orang aneh itu bilang (don't wanna mention his name, tp dia pasti tau kok kalo dia baca blogs ini kalo gw inget apa yang lo omongin, strange man who i could never understand!)...G speaks in many ways. Tuhan bicara lewat banyak cara, lewat majalah yang kita baca, lewat koran, lewat buku, lewat film, lewat temen kita, orang tua kita, pacar kita, bahkan orang yang nggak kita kenal, lewat lagu, bahkan lewat stiker yang nempel di belakang mobil di depan kita...

...Tinggal kitanya aja, mau denger omongan Nya atau nggak...:)

Hari ini Dia bicara lewat bidadari2 pecicilan lucu yang mengakhiri interviewnya dengan foto2 sama gw dan Sazki.

Menjawab pertanyaan gw, menenangkan kegelisahan gw, dengan begitu sederhana.

...thx G, i love u.