Wednesday, October 17, 2012

Witing Tresno Jalaran Soko Kulino

Waktu adalah manufaktur cinta, katanya.

Katanya yang berkompromi soal hati. 
Katanya yang melupakan mimpi. 
Katanya yang tak (lagi ingin) mengerti. 
Katanya yang telah lelah mencari. 

Katanya yang telah menyerah dan berhenti. 

Bukankah menua usia, membijaksanakan kita,
harusnya? 
Bukankah melama jiwa, antar angkuh terlupa
harusnya? 

Belumkah belajar bahwa hanya ada dua realita soal Cinta: (1) Ada (2) Tiada 

Kemudian diantaranya ada langkah-langkah bernama Usaha, Sabar, Maaf ... apapun itu. 

Tapi Cinta sendiri tidak diproduksi, dan Waktu terlalu sibuk untuk satu lagi mahakarya seni. 


(Dan esok pagi kita akan memilih untuk mencoba lagi)

(Kompromi hati, melupakan mimpi, tak mengerti, tak mencari.)

(Menyerah. Berhenti.)

Sebelum hidup lagi setelah mati suri, suatu hari nanti. 

Monday, October 01, 2012

And then you kissed me.

Dini hari yang mengeruhkan wajah tak cukup gelap
Hati masih sendu dan belantara waktu masih senyap
Langkahmu disampingku cukup untuk pagi yang ini
Pagi yang ini, setiap hari.

Never let me go.