Wednesday, August 31, 2011

Hors de Prix

A vase with a bucket of pink Lilies in the corner. Milt Jackson & Count Bassie playing Easy Does It. Dad talking about Kafka on the Shore-He has just finished the book and is impressed. Also, he finds it surprising that the writer turned out to be a man, he thought Murakami is a lady. Mum walking around, what she always does before she leaves the house. Wrapping gifts, checking her purse, giving instruction to everyone in the house, goes out and realizes she left something in her room (always happens). Earlier, dad looked at her and said, "My wife's so beautiful."

The sun shines lovingly.

And this Kristy is happy.

Wednesday, August 24, 2011

10th April

adalah hari dimana kau kembalikan kacamata yang kau temukan dua hari sebelumnya.

Dua hari sebelumnya. Kau berkata kacamata itu tiba-tiba saja ada disana, di antara serakan buku-bukumu diatas meja, "Aku duduk dua jam lamanya berusaha mengingat-ingat kenapa, bagaimana, dan darimana kacamata itu tiba-tiba ada."

Aku bertanya, "Kenapa, kamu nggak suka?"

"Suka. Kamu kan tahu kacamataku pecah minggu lalu dan aku belum beli lagi. Masalahnya nggak pernah ada orang yang masuk kamarku sejak dua bulan yang lalu, jadi kacamata itu harusnya nggak ada disana!"

Selama dua hari kau terobsesi pada kacamata yang hadir tiba-tiba, sampai tadi,

"Minusnya sesuai dengan mata kamu kan?"

Kau mengangguk gelisah, "Aku nggak ngerti. Orang bilang mereka sering mencari-cari sesuatu untuk melengkapi mereka dan menemukannya justru disaat mereka berhenti mencari...Ini kacamata yang aku perlu, memang. Tapi masalahnya aku nggak pernah nyari kacamata ini, jadi waktu kacamata ini tiba-tiba ada, aku merasa..."

"Apa?"

"Aneh.Orang-orang yang mencari-cari sesuatu itu pasti merasa senang kan waktu mereka menemukan apa yang mereka perlu justru disaat mereka berhenti?"

Aku menganggguk.

"Sementara aku nggak merasa senang sama sekali karena walaupun ini kacamata yang aku perlu, tapi aku nggak pernah nyari. Jadi aku cuma ngerasa aneh..."

Aku mengurut bahumu, "Kamu menemukan apa yang kamu perlu, tapi bukan yang kamu cari, maka dari itu kamu merasa aneh?"

Kau mengangguk, "Aku tidak pernah mencari. Tapi anehnya justru sekarang disaat aku menemukan yang aku perlu, aku jadi..."

"...tau apa yang ingin kamu cari." aku menyelesaikan kalimatmu. "Lalu apa yang terjadi?"

Kau lalu bercerita bahwa malam sebelumnya, kau berpikir panjang dan memutuskan bahwa kau tidak suka kacamata itu ada disana. "Walaupun meja itu penuh barang lain dan kacamata itu nggak terlalu besar, tapi aku merasa keberadaannya ganggu, jadi aku pindahin aja."

"...Problem solved?"

Kau menggeleng. "Sesudah itu aku merasa lebih aneh lagi karena ada spot kosong dimana kacamata itu biasanya berada."

"Lebih aneh?"

"Lebih menyiksa." jawabmu. "Aku tahu apa yang aku ingin cari, tapi...Aku tidak bisa mencari dengan benar tanpa kacamata."

"Mungkin yang kamu cari akan memberi kacamata yang lebih bagus lagi."

Kau mendesah, "Mungkin..."

Aku tahu kau mulai lagi dengan obsesimu yang lain; me-manage ekspektasi. Kau menatap lama ke gelas bening dihadapanmu dan berkata perlahan, "Aku tahu apa yang aku ingin cari, dan mungkin aku bisa mencarinya tanpa kacamata...Tapi bagaimana kalau yang aku cari itu tidak pernah muncul karena aku baru mulai hari ini? Apa aku harus hidup setiap hari tanpa kacamata?"

"Ada air terjun dan peri dipinggirnya berkata dibawah sana ada surga tempat kamu akan akhirnya mengerti 'bahagia membuatmu ingin terjun bebas supaya bahagia. Tapi lalu peri lain di pinggir satu lagi berkata kok kamu bisa percaya gitu aja, gimana kalau dibawah sana nggak ada apa-apa? Gimana kalau dibawah sana cuma ada batu-batuan dimana nggak ada pilihan lain buat kamu kecuali mati dengan sukses? ." ujarku, "Kamu mau terjun supaya tahu walaupun mungkin kamu akan tahu dan mati, atau mau pulang dan tetap hidup agak lama tanpa pernah tahu sama sekali? Kamu akan tetap mati akhirnya. Mati tanpa pernah tahu."

Kau diam agak lama, membiarkan jantungku berdegup gila, dan akhirnya berkata, "Maybe I'm a coward...

...No. I am a coward."

"Karena?"

"Karena aku akan mengembalikan kacamata itu keatas meja."

Lalu kau berdiri dan pergi.

Dan aku tahu kau tak akan kembali. Sebagus apapun kacamata yang tadinya kan kuberi padamu nanti. Dan aku tahu kau tak akan kembali. Walau aku bisa berjanji jika kau terjun bebas kau tak akan mati.


Tak apa, aku mengerti.

Leeds, May 13, 2009

Monday, August 22, 2011

"Gemerlap itulah yang akan membuatmu mati rasa."

Katanya.

Yang baru kumengerti setelah bertahun kemudian, terkapar di atas lantai kayu berteman satu gelas wine. Sunyi, sesunyi kodrat pukul dua pagi. Begitu saja kejujuran pada diri sendiri mengendap-endap tanpa terganggu, mengusap kulit hati yang hampir-hampir kebal kaku. Perlahan dan manis, dekat nadi yang nyaris teriris.

Dibawah hingar bingar itulah proyek terjun bebas ini dimulai, satu kali lagi mencoba untuk tak mati.

Satu kali lagi bertahan hingga pagi nanti.
Satu kali lagi.
Satu kali lagi.

Hingga pagi.

Nanti.

Monday, August 15, 2011

Little Boy Shan't Tweet

In time, we'll see some impressive thin lines. Impressively thin, impressively distinctive. In between crazy and genius minds. In between laughters and tears. In between love and hatred.

Thin line in between denial and history
Thin line in between tacky and classy.
Thin line in between honesty and hypocrisy.
Thin line between you and me.

By all means choose not to see reality let alone something a bit more. Choose to ignore, to hide behind that closed door. Be soul-blinded to the very core, pretend not to want everything you've been fighting for. Loosen up, but make sure: regret not a thing in the future.

"You were like a little boy whining because all the attention wasn't focused on him. You were like a little boy walking by an ice cream store, crying because his mother wouldn't buy him a milkshake or something." ~Celine, Before Sunrise



Thursday, August 11, 2011

Memilih Senja

dengan jingga lelah tapi penuh cerita
sunyi yang menenangkan diri
sedikit sinar yang sungguh berarti



Wednesday, August 10, 2011

Lantai 1108

Kau yang menganggap bintang itu biasa, "Kerlip yang terlalu sering dipuja. Padahal mereka kecil, jauh di dunia khayal bernama Angkasa." Waktu kugugat langit yang terlihat di atas kita, kau tertawa, "Penampakan tak menjamin apa-apa. Yang terlihat solid tanpa ragu bisa jadi yang paling jago menipu."

Lalu deraimu berlalu, waktu untuk tanya-tanya lugu, "Bintang itu salah apa sama kamu?"

Karena kerlip kecil yang kau panggil "Biasa" selalu kau tatap berlama-lama. Kau panggil "Biasa", untuk seribu satu alasan yang ... ditemukan dan dirangkai p a s t i menggunakan tenaga. Kau panggil "Biasa" diiringi tawa yang teramatsangat sarat makna.

Dan senyummu hanya ada kala senja. Saat angkasa menggelap pekat bertabur putih nyala. Dan ruang-ruang kosong diantaranya, sisakan tempat untuk mimpi yang belum punya nama.

Bintang yang melukis luka dan maafmu yang masih saja.

Untuk sesuatu yang "mengalahkan segalanya".
"Biasa" yang luar biasa meski tanpa suara.
Meski tanpa banyak kata.

Tuesday, August 09, 2011

That Familiar Pain

Waking up from a fantasy you really love. Waving goodbye to someone you cant live without. Greeting those bastards you call bosses. Laughing hard to hide those tears. Stepping into that building you don't wanna be in. Breathing the air they claimed polluted. Reading s**ts just because they're "important". Forgetting dreams you once hold on to. Stay alive and befriend that painful pain, because that's what adults do.


Being you, yet the best line you can come up with is "no clue".

Monday, August 08, 2011

Winter today

And maybe it's not time to have ice (black) coffee. It's too bitter and too cold. Don't we want something warm, creamy and sweet.

A cup of love perhaps.



pic's courtesy of: http://bit.ly/qEvx0G




Thursday, August 04, 2011

Take Side

We can't be someone full of hate and full of love at the same time.

Moi, j'ai choisi l'amour, évidemment.