Tuesday, April 26, 2016

No matter how honest and warm I began

I always ended up chopping my letter into one normal-but cold, impersonal, template like-sentence. For millions reasons. 

One for millions. 

Maybe some day I'll tell you a story about what growing up means to me. And I'll listen to yours.

Till then, I hope you're well and happy.

Tuesday, March 22, 2016

Here's A New One for You

They said people grew apart, but I never thought there will ever be a day like this. Those empty words and technicalities, the sky was bright but we were not. 

Anymore. 

You've changed and I wish you haven't. Because, yes I heard that time heals. But in this case, 


losing the pain itself kinda hurts.

Saturday, August 29, 2015

The End of an Era: The "Fashionably Late" Era

used to think that being late is not that big of a crime, especially when the appointment is in Jakarta. 

Sue me for being late, but do you have a big enough prison in Jakarta to lock almost 3/4 of its citizen? 

However, my current and previous boss are very particular about being on time. Current patron always says, "Don't gimme 'macet' as an excuse because that's just poor planning." 

So for the last couple of years I have been giving more efforts to avoid being late and to my surprise, there are a lot we can do. Negotiate meeting point, never underestimate traffic, think of alternative trasport just in case (gojek!), check national/city calendar because Indonesians like to do epic celebration in city centers, put all meeting in your calendar, include transfer time while planning your day...

And so on. 

Don't get me wrong, I'm still late. But not that often, and it would be a 10-15 minutes delay as opose to the old 45 minutes late me. I even arrive early for appointments! 

Another discovery as I'm transforming myself to this miss not so late anymore is, waiting for your appointment to arrive is painful. It hurts. You'd feel worthless and shitty. Ever see that scene in movies when someone is being stood up by a blind date? Yes, that. 

Some of these people you're meeting would have the courtesy to text "really sorry, bad traffic", some of them would apologise as they arrive. But no matter what you'd still feel, slightly or clearly, sad. Them being late is an implicit way of saying, "You are not THAT important." 

Call me a drama queen, but answer this: Will you be late to an appointment with Mr. President? With Bono U2? With Haruki Murakami? With Hilary Clinton? With Woody Allen? With Anderson Cooper? With Rupert Murdoch? With Ryan Seacrest? With Giselle Bunchen? Did I write her name correctly by the way? 

No, you won't. Because: They. Are. Important. 

I KNOW, these people (who are late) didn't do it in purpose, and they certainly don't think that I'm less important compared to Woody Allen (doh!). Whenever I'm late, making the person I had appointment with to feel worthless was never my intention. 

But no matter my intention, my lateness would hurt them in various degree, while the truth is: To me they're as important as Bono U2, and I have this hope that I'm their Anderson Cooper. 

So let's try and plan better to be on time, if anyone is to be late--don't let it be us. Be the better one, at least try. 

It's just a good way to extend our respect  to each other, an important one too. Now I truly believe that "Fashionably late" is no longer relevant, "On time and prepared," is the new normal.  

And you remember what they say, "A good start is everything."

Friday, July 03, 2015

Takkan pernah yang terbenam diiringi sesat.

Beberapa puluh malam dalam seputaran hidup mungkin berjudul "takkan pernah cukup." Biasanya matahari terbit dalam khilaf cita-cita untuk menyenangkan yang lain, dan terbenam diiringi sesat yang hanya indah sesaat. 


Tuesday, November 11, 2014

Kapan Berhenti?

Hei kamu yang seperti hujan tiba-tiba? 

Bumi yang adalah hati ini sudah basah, angin yang adalah nafas ini sudah lelah. Bukankah sudah waktu, matahari yang adalah happy ending itu bersinar? 

Meski hanya sebentar? 

Bahwa langit yang adalah kita itu akan kembali abu-abu, aku tahu. Bahwa bintang-bintang yang adalah awalan kita itu tidak seharusnya jatuh juga, 

aku 
tahu. 

Hanya saja:

mungkin langit abu-abu yang muram tapi  terpercaya dan bintang jatuh yang indah sesaat tapi selamanya teringat, akan lebih bisa kuiyakan. Jika hadirnya tanpa hujan. 

Begitulah. 
Begitulah. 


Monday, July 14, 2014

Indonesia, Cinta dan Kita.

Setidaknya ada dua hal tentang Anda yang saya mengerti karena: 

Saya juga, Pak. 

Saya juga cinta Indonesia, Pak. Walaupun saya memilih sektor swasta, walaupun saya jarang bicara politik, walaupun saya tampaknya lebih peduli pada berbagai macam warna lipstik. Pengorbanan dan cita-cita saya buat tanah tempat saya lahir dan tumbuh ini mungkin tidak seberapa bila dibandingkan dengan  pengorbanan dan cita-cita Bapak. Tapi dalam dunia saya yang mungil, cinta ini sangat dalam. Tak pernah surut dan selalu berhasil membawa saya pulang, sejauh apapun saya mencoba pergi. 

Ibu saya pernah bertanya, tidakkah saya merasa berhutang pada negara ini? Karena di sinilah saya lahir dan perlahan jadi dewasa, di sinilah saya yang dulunya hanya wacana tak bernama, perlahan-lahan menjadi rencana dan kemudian betul-betul ada. Saya ingat saya tidak bisa bersuara waktu itu, karena tercekat. Mungkin itu kali pertama dalam kehidupan saya sebagai orang dewasa, saya menyadari bahwa saya teramat sangat mencintai tanah air kita ini, dengan segala lebih kurangnya, segala baik buruknya. "Merasa berhutang" mungkin bukan ekspresi yang tepat, saya hanya merasa bahwa yang telah, sedang dan akan saya lakukan dalam hidup saya sedikit banyak didasari oleh rasa syukur serta cita-cita tinggi untuk kebaikan saya dan saudara-saudara satu Ibu Pertiwi. Dalam kapasitas saya, Pak, saya juga cinta Indonesia. 

Kedua: Saya juga benci kalah, Pak. Waktu di sekolah dasar saya adalah salah satu pelari tercepat di kelas III. Hanya ada satu orang yang terkadang lebih cepat dari saya, sebut saja namanya Krisna. Seminggu sekali, setiap hari Rabu sebagai pemanasan mata pelajaran olah raga, kami akan bertanding lari mengelilingi kompleks sekolah sebanyak 3 kali. Seisi kelas harus berlari, tapi yang menambahkan bumbu kompetisi di dalamnya hanya saya dan Krisna. Ada kalanya Krisna menang, kali lain saya yang akan menang. Suatu Rabu pagi sebelum pelajaran olah raga dimulai, Krisna menjegal saya sehingga saya jatuh dan kaki saya berdarah. Karena insiden tersebut saya harus istirahat di UKS, sementara Krisna melenggang tenang. Bertahun-tahun kemudian saya baru mengerti, tangisan meraung-raung pagi itu bukan disebabkan rasa sakit di kaki, tapi di hati. 

Saya ingat Ibu Guru olah raga yang membujuk saya membiarkan perawat sekolah mengobati kaki saya sempat bertanya, "Sakit sekali, Kristy?" 

Saya menggeleng. Tapi waktu beliau bertanya lagi, "Sedih karena nggak bisa lari, ya?" saya mengangguk, saya sedih karena tidak bisa lari, saya sedih karena kalah. 

Jadi kemarahanmu, keluh-kesahmu, caci maki dan hilang kendali saat berkomunikasi dengan publik sangat saya pahami, saya juga benci kalah, Pak. 

Tapi pagi itu Ibu Guru mengatakan sesuatu yang masih saya ingat sampai hari ini, "Ada yang lebih penting daripada menang-kalah dalam berkompetisi, yaitu caranya. Apakah kamu menang dengan jujur dan bermartabat, atau tidak? Apakah kamu kalah dengan jujur dan bermartabat, atau tidak? Menang atau kalah, apakah kamu mendapatkannya dengan jujur dan bermartabat, atau tidak?" 

Saat itu saya belum terlalu paham apa itu artinya "jujur dan bermartabat." Tapi seiring waktu saya mengerti bahwa (mungkin) jujur dan bemartabat itu berarti tetap rendah hati dan selalu ingat, baik menang atau kalah, bahwa di atas sesuatu yang tinggi masih ada yang lebih tinggi. Jujur dan bermartabat itu berarti berani mendukung pemenang yang bukan kita dalam sebuah kompetisi. Ibu guru mengajari saya bahwa: menang atau kalah memang penting, tapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana kita mendapatkannya. Karena emosi kita karena kemenangan atau kekalahan hanya akan terasa sesaat saja, tapi usaha kita mendapatkannya yang mendefinisikan siapa kita yang sebenar-benarnya: jujur dan bermartabat, atau tidak. 

Jadi Pak, itu saja. Saya juga cinta Indonesia dan saya juga benci kalah.  Tapi di antara kedua hal itu, yang lebih besar dalam diri saya adalah cinta saya pada negara kita, cinta yang hanya akan saya berikan padanya dengan jujur dan bermartabat.

Semoga Bapak juga, semoga dalam hal ini, kita sama.

Salam, 
Kristy 

Tuesday, June 10, 2014

There Will Be Another Hundred Chapters

Hujan turun sangat deras di satu pagi bersamaan dengan langit biru tanpa awan yang dipuja seisi bumi. Sebuah dataran yang tadinya hangat menampung ribuan rintik tak bernama menjadi satu danau luas dengan indah seakan tak bertepi.

Tak bertepi seperti masa yang pernah terjanji, tak bertepi seperti mimpi yang akan terjadi. 

Bukankah jalan ini masih terlalu rumit untuk kau (atau ku) pahami? Jika menyelam bukan pilihan apakah berjalan juga tak boleh jadi ambisi? 

Jika mata terpejam erat sehingga aku tak terlihat, apakah kau jadi sangat kuat hingga semua kegilaan ini bisa kau beri stempel TAMAT?

Danau indah ini tak bertepi, seperti masa yang pernah terjanji, seperti mimpi yang akan terjadi. Nanti. 

Thursday, October 31, 2013

Sweet dreams,

and fear not tomorrow. Let it be another battle, just another battle to stay true. To stay who you are, the complicatedly honest and loveable soul you've been. 


Next stop: Manhattan. 

Wednesday, October 30, 2013

Give Me that Second Chance

Although this is really the twentieth, and you must have had enough. But I at least have not gone deaf and you are not yet speechless. 

So I think we can still talk, can we not. 

Explain, now would you please. What are you, again? And I. And us. And where should we go. 

And why this place could not be called The One, at least not by us. 

Explain. Now. Would. You. 

Please. 

Monday, October 28, 2013

Sometimes I Wonder

...if you're still visiting.

I wonder what would you say, if only you could, about the dying painter in me.

"Paint more stories and poems," that usual line of yours. I oddly remember your tone while saying it, your expression. Your eyes won't blink and your smile won't be.

"I'm serious," you would say.

...

 And I.
Would laugh.
Just a bit.
And I.
Would ask.
For stories.
And more stories.
And poems.


And maybe other reality.
Other reality. With you in it.
With you.