Saturday, July 07, 2007

after sunset

Malam sudah menjelang. Langit biru tua hampir hitam berhias hanya sedikit bintang. Awan-awan membuat cahaya bulan terhalang.

Di sebuah cafe bersuasana remang-remang.

Dua orang laki-laki duduk berhadapan. Saling menatap dalam diam. Keempat tangan terkepal, dan nafas beradu tersengal. Ada emosi yang terlalu intens, memberati atmosfer di sekitar meja mereka dipojokan.

Seorang perempuan duduk diantara mereka. Berbaju merah, cerah. Tapi matanya tidak begitu, matanya terlalu sendu. Dia termenung menatap kedua tangan yang terkatup di atas pangkuannya.

Laki-laki pertama bicara, nadanya rendah, "Jadi, lo yang namanya Edgar?"

Edgar tidak langsung menjawab. Dia menyelami agak lama wajah datar dihadapannya, lalu mengangguk, "Dari mana lo tau tentang gue?"

"Lo nggak perlu tau."

Wajah Edgar mengeras. Ia mengawasi lawan bicaranya. Sudah lama Edgar tahu laki-laki ini. Seorang pengacara muda berkarir sukses, berpenampilan menarik, tentu saja berkecukupan, dan seakan belum cukup keberuntungannya, berpacar seorang wanita yang sempurna. Paling tidak dimata Edgar.

Siena. Yang ini Edgar sudah tahu lebih lama lagi, dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Siena yang baik, Siena yang menggoda, Siena yang hangat, Siena yang menenangkan, Siena yang sempurna. Siena yang sekarang duduk diantara mereka. Siena yang adalah pacar laki-laki dihadapannya, sudah lama.

Siena menghela nafas, dan menunduk. Tidak menghiraukan rambut-rambut ikal yang terjurai kusut menutupi wajah, yang tidak mengurangi sedikitpun kecantikannya.

"Sudahlah," bisiknya setengah memohon. "Sudah."

Sangat jarang ia melihat Rofi setegang ini, semarah ini. Biasanya Rofi selalu tenang, selalu bisa mengendalikan emosinya. Tapi kali ini Siena bahkan merasakan panas memancar dari tubuh kekasihnya.

"Gue udah ladenin permintaan lo buat dateng. Kalo lo mau obrolan ini berlanjut, lo harus kasih tau gue darimana lo tau tentang gue." Edgar bicara lagi, tegas.

"Kalau gue nggak mau?"

"Gue pergi."

Sepi.

Siena meraba tengkuknya. Sejak duduk di meja ini baru lima menit lewat, tapi tubuhnya sudah merasa begitu penat.

"Jurnalnya," jawab Rofi, "Gue baca jurnal dia, ada nama lo."

Siena mendesah, "Aku udah bilang kamu jangan baca jurnalku."

Rofi tidak menjawab.

Siena tahu dia tidak seharusnya bicara. Rofi sudah habis kesabaran.

"Trus, nomor gue?"

"Kenapa lo terlalu banyak nanya? Harusnya gue yang nanya, lo jawab! tuntut Rofi keras.

"Jawab pertanyaan gue dan gue akan jawab apapun yang lo mau," tukas Edgar tidak terintimidasi.

"Empat ratus lebih sms lo dalam setahun ini masih rapi disimpan di sebuah folder dalam handphonenya. Gue buka kemaren, begitulah gue jadi tau nomor lo."

Edgar mengerenyit sinis, "Lo nggak tau apa itu ngelanggar privacy?"

"Oh, sekarang lo mau bicara tentang pelanggaran?" Rofi terkekeh. "Lo tau nggak, kalo ganggu cewek yang udah punya pacar tu melanggar etika? Lo tau nggak, kalo lo udah punya tunangan tapi masih juga mesra-mesra sama cewek lain itu bisa dikategorikan selingkuh?"

Edgar diam.

Siena berbisik, "Yang, jangan keras-keras. Malu."

Rofi menghela nafas, kembali merendahkan suaranya, "Sejak kapan?"

"Apanya?" Edgar menyalakan rokok.

"God," menggelengkan kepalanya, Rofi membuang pandangan ke jendela. "Perokok pula."

"Ada masalah?" tantang Edgar.

"Dia alergi asap rokok." jawab Rofi.

Edgar menghisap rokoknya dan menghembus keras, "Oh ya? Not that I know. She never complained."

Siena tidak bersuara, kenyataan bahwa Edgar hanya merokok bila mereka sedang tidak bersama tidak perlu disebutkan. Rofi hanya akan bertambah emosi.

"Just answer my questions." Rofi meneguk red wine yang dipesannya untuk menurunkan emosi, tujuan sejauh ini belum terwujud.

"Which question?"

"Sejak kapan?"

"Yeah, tapi 'sejak kapan' apanya?"

"When did you start saying 'love' to each other?" Rofi menyelesaikan kalimatnya, memotong Edgar yang coba memotongnya.

"We only said it once." Edgar menjawab cepat seakan-akan menghindari salah pengertian terjadi, "Gue, dan dia. Cuma sekali pernah mengucapkan kata itu."

"Di jurnalnya ada lebih dari sekali 'love' buat lo."

Siena merasa begitu perih mendengar kalimat itu diucapkan Rofi. Rofi mencoba dingin, tapi Siena terlalu mengenalnya untuk tidak bisa tidak merasakan bahwa mengucapkan kalimat terakhir tersebut sangat menyakitkan buat Rofi.

Sementara itu, Edgar juga tidak bisa menyembunyikan binar di matanya, "Masa? Gue baru tau."

Dalam sebentar kebersamaan mereka, secara ajaib Siena bisa begitu tepat menerka emosi Edgar. Kali ini Siena tahu, yang baru didengarnya membuat Edgar bahagia.

"So she only said it once?" Rofi memastikan.

"Same goes with me, I also said it once."

"Kapan?"

"Aduh Yang, sudahlah. Kenapa sih?" keluh Siena.

"Bener lo mau tau?" Edgar bertanya serius.

"Kamu juga ngapain sih diladenin?" kali ini Siena bicara pada Edgar.

Edgar tertawa kecil, "Kalo emang lo yakin mau tau..."

"Gue yakin."

Siena mengeluh, "Oh. My. God."

"Suatu hari kita ribut. Gara-gara dia bilang dia mau udahan aja. Alesannya klise, guilty feeling ke pacar gue, dan ke lo juga."

Rofi tidak bergeming. Tapi Siena melihat dia menelan ludah.

"Gue marah, gue bilang dia jahat."

"Dia nggak jahat," potong Rofi.

"Gue tau, tapi waktu itu gue panik. Gue nggak mau kehilangan dia."

"Trus?"

"Gue bilang dia keterlaluan, dia bilang gue yang kelewatan. Gue egois dan nggak mau coba mengerti keputusan dia. Dia bilang gue bodoh," Edgar tertawa kecil, "Gue bodoh kalau gue mikir dia jahat, katanya dia cuma nggak mau memulai semuanya dengan salah."

"Trus?"

"Gue nyuruh dia pergi, dan untuk pertama kalinya dia nggak nolak suruhan gue seperti biasanya. Dia pergi. Gue makin panik dan ditengah kepanikan itu gue tarik tangannya dan bilang, "Sue me for what I'm about to say, but."

Rofi menunggu Edgar melanjutkan ceritanya. Dia tahu apa yang akan Edgar ucapkan, dan dia tahu mendengarnya akan sangat menyakitkan. Tapi Rofi tetap menunggu Edgar melanjutkan ceritanya.

Edgar menghela nafas dan nada suaranya menurun waktu berkata, "But I love you, Siena."

Siena bergidik mengingat momen itu. Sensasi yang dirasakannya. Campuran antara rasa bersalah, kemudian disiram rasa bahagia, yang begitu indah.

"Trus dia jawab, 'I love you too.'"

"Trus?" suara Rofi bergetar.

"That's that."

Kembali sunyi.

Siena mencoba lagi, "Ayo pulang, Rofi, aku capek. Udah nggak usah diributin, aku minta maaf. Please stop making this such a big deal, you heard him: we only said it once."

"Bilang 'cinta'," Rofi bersuara akhirnya, "Dia sering bilang 'cinta' sama gue."

"Hm," Edgar mengusap dagunya, "Bagus dong." Gerak-geriknya tetap santai tapi Siena melihat urat-urat di lehernya muncul ke permukaan.

Edgar terganggu.

Siena juga. Dia terganggu karena Edgar terganggu. Siena terganggu karena walaupun hanya terucap sekali, kalimat pendek itu sangat berarti untuk Siena. Apalagi waktu terucap buat Edgar.

Siena tahu ini semua salahnya. Dia membiarkan perasaannya dan Edgar tumbuh dalam kondisi yang sama sekali tidak ideal. Bukan saja Siena sudah menjalani hubungan yang serius dengan orang lain waktu dia bertemu dan menjadi dekat dengan Edgar, tapi yang lebih salah lagi adalah Edgarpun sudah bertunangan dan akan segera menikah.

Sampai Edgar kehilangan akal sehat waktu Siena berkata dia akan pergi, akan berhenti mengganggu Edgar, tidak meneruskan kesalahannya.

Edgar betul-betul kehilangan akal sehat. Waktu itulah dia mengucapkan "I love you, Siena" yang sekian lama ditahannya karena masih ingin mencoba setia. Lalu Edgar juga melakukan hal gila lain.

"Gue denger lo batalin pertunangan lo?" Rofi memecah kesunyian.

"Hm." Edgar mengangguk. Tidak ada penyesalan disana.

"Kenapa?"

"Buat apa diterusin? Gue cinta Siena, bukan dia," jawab Edgar ringan, "Gue nggak mau berjanji dihadapan Tuhan buat sesuatu yang palsu. Hidup menipu diri bukan pilihan gue."

"Lo nyakitin orang lain."

"Nggak usah menilai gue," Edgar berkata keras, "It's sooner or later. Cepet atau lambat gue bakal ninggalin dia."

"Toh lo nggak dapetin Siena juga."

"Gue ninggalin dia bukan buat dapetin Siena, gue ninggalin dia karena gue cinta Siena."

Siena menghela nafas lagi, penyesalannya yang terdalam. Melihat perempuan itu menangis terisak-isak. Bertanya pada Siena apa yang harus dia lakukan. Mungkin perasaan Siena tidak akan sehancur itu kalau saja perempuan itu memaki-maki Siena, menyalahkan Siena. Tapi dia malah menangis, dan bertanya pada Siena, apa yang harus dia lakukan agar Edgar bisa mencintainya seperti mencintai Siena. Siena tidak pernah tahu jawaban untuk pertanyaan itu.

Rofi benci pada laki-laki ini. Tapi jawaban-jawabannya malah membuat Rofi mulai mengerti, apa yang membuat Sienanya gagal untuk setia.

Denting cangkir espresso Edgar membuat mata Rofi yang sempat mengabur kembali awas menatapinya.

Edgar mematikan rokoknya yang sudah habis, "Gue ninggalin dia karena gue cinta Siena, bukan buat dapetin Siena. Tau kenapa?"

Tanpa bisa Siena tahan matanya terpaku pada Edgar, yang tidak balas menatapnya, tapi menatap Rofi.

Rofi menggeleng, "Kenapa?"

"She loves you too much."

Ingin sekali Siena merengkuh Edgar yang gemetar seiring dengan terucapnya kalimat itu. Tapi ada yang menahan Siena, memaksa lehernya kembali mengarahkan wajahnya ke Rofi, entah apa. Mungkin benar kata Edgar, dia terlalu mencintai Rofi. "Sucks, tapi gue tau, dia nggak akan mungkin ninggalin lo."

Siena tidak mengira gerakan tangan Rofi malah semakin gelisah, sekarang ia memijit keningnya. Lalu dia berdecak, "I wish that's true."

"Kenapa kamu ngomong gitu sih?" bisik Siena. Tangannya bergerak hendak meraih tangan Rofi tapi Rofi menarik kedua tangannya menjauh, sebelum Siena berhasil menyentuhnya.

Siena berusaha keras menahan panas di matanya.

"Lo ngomong apa lagi," Edgar menggelengkan kepala. "Apa lagi yang lo mau? Cape gue liat lo masang tampang sebagai orang termalang sedunia. You had her, what else do you want?"

"Aku ingin menyalahkan waktu, terlambat mengajak kita bertemu. Sungguh menanti tiba hari, dimana kubisa melupakan kita. Entah kapan, semoga ku bertahan. Kamu harus tahu jangankan menahun...menit inipun seolah tiada ujung. Malam terlalu sepi, mungkin karena kamu tak disini. Aku mencoba, tapi semua sudah tak sama. Tak ada yang bisa gantikan kamu. Tak ada yang bisa genapkan aku."

Siena terkejut mendengar Rofi lancar mengucapkan puisi yang ditulisnya dahulu kala, "Dimana kamu baca itu, Sayang?"

Jangankan menjawab pertanyaan Siena, melirikpun tidak, Rofi menjawab pandangan Edgar yang juga bertanya-tanya, puisi itu buatan dan ditujukan untuk siapa, "Dari dia, buat lo."

Mata Rofi berlapis cairan bening. Dia tak akan lupa perasaannya waktu membaca puisi itu, lalu mengetahui dan mulai mengerti perasaan Siena,

yang bukan untuk dia.

"Hm," Edgar tidak mengira bahwa Siena pernah menuliskan sesuatu sepuitis itu. Dia tersanjung, tapi tidak kehilangan pijakan. Perasaannya melambung, tapi tidak kehilangan kesadaran. Edgar tetap ingat, Siena tidak pernah memilihnya. "Trus, apa? Gara-gara puisi itu lo mikir dia nggak cinta sama lo?"

"Kamu salah kalo mikir gitu, Yang," Siena berkata pelan.

Edgar mengangguk, "Lo salah, kalo lo mikir gitu," mengulang kata-kata Siena.

"Gue nggak mikir gitu. Gue tau dia cinta sama gue. Justru karena dia cinta sama gue, kalau ada orang lain yang bisa membuat dia nggak lagi setia sama gue,"

Sejenak Rofi menahan kalimatnya.

Suasana semakin berat.

"bukannya itu berarti dia lebih cinta orang lain itu daripada gue?"

Siena ingin membantah, tapi tidak satupun kata terucap. Karena apa yang Rofi katakan mungkin saja benar adanya. Sepanjang hubungan mereka, baru Edgar yang dengan mudah datang mengganggu.

Mungkin saja itu berarti Siena lebih mencintainya.

Tapi Edgar menggeleng, "Nope. Gue setuju kalo lo bilang dia cinta gue. Tapi lebih cinta gue daripada lo? Hah. Not possible."

"We never know."

"Oh believe me I know," tukas Edgar.

"Pernahkah dia ngomong itu secara eksplisit?" tuntut Rofi.

"Nggak. Tapi gue tau. Dia nggak pernah ninggalin lo, dia selalu menomor satukan lo, dan dia," kalimat Edgar terputus sejenak, seperti kesulitan meneruskan kalimatnya. "Lo tau dia pernah mabuk dengan sengaja depan gue?"

Rofi terkesiap. Kedua tangan Siena menutup wajahnya sendiri, "Nggak perlu kamu ceritain itu, Ed."

"Terusin." perintah Rofi tegas.

"Gue peminum, gue perokok, tapi gue benci liat cewek melakukan itu," lanjut Edgar.

"Dasar egois. So typical," potong Siena.

Edgar mengangguk, "Gue tau, gue egois. Tapi it's just me. Pernah ada satu masa dimana dia merokok depan gue dan minum-minum sampai mabuk parah. Dia mencoba bikin gue benci, ilang rasa sama dia. Lo tau buat siapa?"

Rofi diam.

"Buat lo. Biar gue nggak cinta lagi dan berhenti gangguin dia. Biar dia setia lagi sama lo. Biar semuanya kembali benar." kata Edgar.

Rofi meneguk habis winenya, "Yet she failed, didn't she? Mana mungkin lo berhenti."

"Nggak ada yang mungkin berhenti sekalinya jatuh untuk dia," tuntas Edgar.

Diam cukup lama. Cafe semakin sepi, sebentar lagi mereka akan tutup. Tinggal meja itu saja yang terisi.

"Sebetulnya buat apa lo nemuin gue?" Edgar bertanya hati-hati. Lama-lama dia jatuh kasihan pada sosok dihadapannya.

Rofi menarik napas, lalu menundukan kepalanya, dalam.

"Yang," panggil Siena. "Pulanglah."

"Gue cuma," kalimat Rofi terputus.

"Ed," panggil Siena. "Pulanglah."

"Gue kaget ternyata selama ini ada lo di kehidupan Siena. Itu aja. Gue pengen tau semuanya, lanjut Rofi.

"Buat apa?" tanya Edgar lagi.

"Gue nggak tau. Perasaan gue ancur."

"Perasaan gue udah lama ancur," Edgar mengangkat bahu. "Kalau terus mikirin dia lebih cinta siapa, perasaan gue nggak akan pernah bener. Gue bakal selalu ngerasa kalahsama lo."

"Hm..." Rofi seperti tidak setuju, tapi terlalu lemah untuk membantah.

"Bagaimanapun lo yang lebih beruntung disini, Rof."

"Anehnya gue ngerasa gue lebih baik ada di posisi lo," jawab Rofi pelan.

Edgar mengerutkan kening.

"Gue sering bertanya-tanya, kenapa semakin lama dia kerasa semakin jauh."

"Makin jauh gimana? Dia bareng lo terus begitu," protes Edgar.

"Dia bareng gue. Dia meluk gue. Dia pegang tangan gue. Tapi gue tau hati dan pikirannya nggak," jawab Rofi. "Sekarang gue tau dia dimana selama itu, she was with you."

Edgar menghela nafas, ingat Siena sendiri pernah berkata demikian. Waktu itu dia hanya tertawa dan berkomentar "Yeah, right!".

Anehnya sekarang, mendengarnya dari Rofi, Edgar malah lebih percaya. "Tapi ya, nggak bisa liat atau nyentuh dia kapanpun gue kangen juga bukan sesuatu yang menyenangkan."

Diam lagi. Pilihan antara memiliki raga atau hati seseorang yang dicinta ternyata tidak semudah yang dikira.

Tidak bisakah memiliki keduanya?

"Aku," bisik Siena. "Maafin aku," entah pada siapa. Edgar dan Rofi sama-sama tidak bereaksi pada permintaan maaf Siena.

"Nggak ada gunanya lagi, Rof," lalu Edgar bicara. "Seperti tadi gue bilang, mikirin dia lebih cinta sama siapa itu nggak penting. Gue udah berhenti wondering dia lebih cinta sama siapa sejak lama. Gue cuma tau gue cinta dia. Gue selalu ada buat dia. Itu yang penting. "

Rofi mengeluh keras lalu berkata, "Iya emang udah nggak ada gunanya sih."

Keduanya menekuri gelas dan cangkir masing-masing.

"Aku benci denger kalian ngobrol seolah-olah aku nggak ada." bisik Siena, frustrasi. "Permintaan maaf aku aja nggak ada yang jawab."

Sekarang air matanya tidak tertahan, "Aku emang salah. Aku-salah. There, aku ngaku aku salah. Aku salah."

Diam.

Waitress terakhir mulai mematikan lampu-lampu.

Siena meneruskan ke arah Rofi, "Kamu tau kan, aku nggak sengaja. Aku nggak mungkin sengaja nyakitin kamu."

Lalu Siena menoleh ke arah Edgar, "Dan kamu Ed. Kalau aja aku bisa nggak cinta sama kamu."

Siena terisak, "Tapi apa aku punya pilihan?"

Tidak ada yang menjawab, semua tahu Siena memang tidak punya pilihan.

"Aku gagal jadi orang yang benar, jadi orang yang nggak salah, jadi orang yang sempurna. Aku gagal setia ataupun membuat orang yang kucinta bahagia."

Siena mencoba menghentikan tangisnya.

Gagal.

"Tapi aku nggak nyesel! Sorry, tapi aku nggak nyesel."

"Gue nggak nyesel kok," terdengar suara Rofi.

"Gue juga. Knowing someone like her, really worth the pain." Edgar tersenyum miris.

Tidak ada suara. Tangisan Siena sudah berhenti, hanya tertinggal sedikit sedu.

"Sudahlah, kalian harus pulang."

Bersamaan Edgar dan Rofi berdiri. Siena bernapas lega, malam menegangkan ini akan berakhir juga.

"Lo baek-baek kan, Rof?" Siena dan Rofi sedikit kaget mendengar pertanyaan Edgar yang terdengar tulus.

Sejenak Rofi menimbang, coba meraba perasaannya. Lalu ia mengangguk, "Yah.I'm holding on. Thanks."

"Good," Edgar menggunakan sarung tangannya, pemberian Siena dulu kala. Supaya Edgar tidak kedinginan kalau naik motor malam-malam.

Mereka berdiri berhadapan. Mereka berdiri bertatapan.

Siena duduk tetap, menunggu apa lagi yang akan terucap.

Rofi bersuara duluan, "Lo bisa dateng ke pemakaman, besok?"

Edgar terkesiap, salah tingkah, "Gue pengen...tapi nggak tau deh...gue pikir...lo yakin?"

Rofi menjawab tenang, "Selama dia koma sampe pergi kemaren, lo nggak ada. Lo nggak bisa ada."

Edgar mengangguk, ada penyesalan disana, "Gue nggak bisa, bukannya nggak mau."

"Gue tau," jawab Rofi, juga mulai mengerti betapa tidak mudahnya menjadi Edgar. "Siena pasti seneng kalo lo dateng."

Edgar mengangguk cepat, takut Rofi berubah pikiran, "I'll be there."

"Ok."

Lalu, berdampingan, mereka keluar dan berpisah. Waitress mematikan lampu terakhir dan keluar juga.

Malam sudah menjelang. Langit biru tua hampir hitam berhias hanya sedikit bintang. Awan-awan membuat cahaya bulan terhalang.

Di sebuah cafe bersuasana remang-remang.

Seorang Siena, duduk sendirian. Bajunya merah, cerah. Matanya basah. Tapi ada ketenangan luar biasa di sana, di wajahnya.

Badai hidupnya sudah reda.