Friday, November 27, 2009

On three: 1,2,...

Mimpi yang indah.

Sepi dan penuh tawa. Hati berbunga, air mata. Utara bersalju yang takkan dilupa. Dansa menuju pagi yang terhenti sesaat kala hari mendini. Tiba-tiba tak ingin terjaga. Tiba-tiba tak rindu realita. Tiba-tiba ingin tetap disana.

Ingin tetap muda karena bermimpi begitu indah. Karena bermimpi begitu mudah.

Dan desas desus tentang menjadi dewasa yang katanya penuh liku dan luka. Tentang menjadi dewasa yang katanya takkan sudi diduga. Tentang menjadi dewasa yang katanya mematikan jiwa.

…katanya.

Hanya.

Memori berdansa tak cukup indah jika tak menyata. Mimpi manis hilang arti jika tak menghidupkan diri. Dan tentang segalanya yang mudah, bukankah baru sah jika tlah juga menemui susah.

Karena tiket ke angkasa takkan pernah murah,

Bangun dan kunanti kau bercerita. Sembuhkan luka. Ikhlaskan yang tak berhasil terduga.

Bangun dan kunanti kau bercerita.

Kita yang berjiwa akan mendewasa. Bersama, bersama.

New Delhi, end of November 2009

Thursday, October 29, 2009

Moon Dance




Semoga kau siap membaca sepotong kalimat cliché dibawah ini:

Kau adalah segalanya.

Atapku dihari dingin hujan dan langit berbintang di malam sepi kelam. Angkasa luas tempatku terbang dan lautan dalam tempatku takkan tenggelam. Langit senja terindah yang menyanyikan sunyi sesaat sebelum bulatan kuning emas terbenam. Temanku jadi saksi hidup yang penuh misteri, hidup yang mempertemukan kita lagi dan lagi. Satu-satunya yang mengerti bagaimana cara mengucap "Kau takkan sendiri", dengan pelukan terbaik saat ku terbangun oleh lelahku berlari dalam mimpi. Hampir setiap dini hari.

"It's okay.", katamu, mengantarku terlelap lagi.

Kau adalah segalanya. Dan kita akan baik-baik saja.

Saturday, August 29, 2009

The Third Revolution Eraser

Habis kata.

Mungkin karena tangki perasaanku terlalu penuh, atau justru tak ada apa-apa disana. Atau aku enggan jujur tentang perih yang lagi-lagi tercipta. Bagaimana bisa padahal kau sudah ratusan kilometer jauhnya. Bagaimana bisa.

Kau adalah terakhir yang kukira mau mengasingkan namaku dari duniamu. Janjimu adalah terbaik yang kukira sekuat angkasa yang gelap biru.

Jadi malam ini angkasaku runtuh. Duniaku meluruh. Nafasku dan garis akhir sempat bersentuh.

Dan lagi-lagi marahku dikalahkan memori kita. Bila memang sedalam itu kau tersiksa. Bila 'bukan maksudku' ku tak kau percaya. Bila semua yang terlewati tlah begitu miskin makna.

Bila hari ini engkau bahagia,
kau tahu: aku juga.

Thursday, April 30, 2009

The Perfect Rebound

Tanpa sengaja kuingat kembang api yang kaubawa di tengah malamku beberapa waktu yang lalu. Gelapku menjinak waktu langit hitam berhias ribuan nyala gradasi kuning hingga jingga. Terang dan hangat. Dingin tak lagi menyengat.

Sejenak terpukau, tak percaya bahwa, "Aku selamat."



Walaupun.
Kau hanya tiba tuk memberi dan membantuku menyulut kembang api.



Setidaknya kau tinggal sampai percik-percik terakhir mati. Setidaknya lewat genggaman eratmu kau bisa membuatku mengerti : Bahwa kau hanya indah jika ada nyala kembang api, bahwa sesudahnya kau harus pergi. Ternyata di cerita Cinderella versi baru, engkau yang jadi Upik Abu.

[ha, itu kan warna kesukaanmu]

Upik Abu favoritku, yang menguatkanku bertahan hingga pagi, dan kembali menjalani hari, hingga kini.

Monday, January 05, 2009

It's joy, it's ecstacy, it's truth, it's destiny

Baru saja sebuah tanya melintas di benak ku saat mengingat kamu: "Berapa juta huruf sudah kurangkai sambil menghayati langkahku mencari sesuatu?"

Hanya untuk menemukan tempatku berlabuh, satu saja detik untuk ku merasa penuh. Hanya untuk hentikan sepiku setiap gelap, mengertikan seperti apa rasanya 'lengkap'. Hanya untuk bisa berlaku tanpa strategi, bebas dari seribu satu aturanku sendiri. Hanya untuk bisa bicara, tertawa, bertanya dan bahkan berair mata, kapan saja.

Hanya untuk bisa bertemu kamu,

dan lepaskan 'hanya untuk' dari kalimat itu: menggantinya dengan 'akhirnya aku'

bisa bertemu

kamu.