Tuesday, January 23, 2007

boobs attack

“Lo denger gossip tentang…”

“Tentang apa?”

“Hmm…”

“Shoot, bilang aja lagi, gw nggak pa-pa…”

“Eh..ehm…”

“Laki gw selingkuh di acaranya Fame kemaren itu?”

“Eh…iya…”

“Tuh, liat, gw nggak pa-pa kan…kenapa sih lo mesti takut ngomongin itu sama gw?”

“Abis…kalo gw jadi lo pasti bt…”

“Ah…gw biasa aja…Kenapa gw mesti bt?”

“You’ve done many things for him!! Berhenti kerja, manjangin rambut lo, ngurusin segala-galanya tentang dia dan anak-anak…”

” Wah…haha…itu sih belum apa-apa! Lo belum tau soal hal2 gila apa aja yang harus gw lakuin buat muasin selera seks nya yang aneh, plus lagi gumpalan silikon sialan di dada gw ini dan proses facelift yang lama, menyakitkan dan harus gw lewatin sendiri…”

“Silikon?”

“Yeap…emang lo nggak notice apa ukuran gw berubah, tar lagi gw mirip Pamela Anderson gw rasa.”

“Kenapa?”

“Ya iyalah, dada gw membesar, dan otak gw membodoh, it’s so Pamela Anderson kan?”

“Maksud gw, kenapa lo pake silicon? Eh…maksud gw, kenapa operasi plastik?”

“Karena lima tahun lalu laki gw selingkuh sama cewek yang gw rasa satu-satunya yang bagus dari dia adalah ukuran dada yang kira-kira sama dengan ukuran gw sekarang.”

“Sakit?”

“Hm…Tujuh kali lipatnya melahirkan deh…”

“Ouch…”

“Otot lo yang biasanya nampung ukuran sekian kan harus dirubah buat nampung ukuran yang lebih besar….”

“Jadi?”

“Jadi…Ya otot lo dipotong, atau putus nggak sengaja ya…hmm..gw lupa…yang jelas otot lo dipaksa melar gitu deh...”

“Stop…Linu gw.”

“Yah, pengorbanan lah…To win his heart back.”

“Did u?”

“Nggak…Setelah boobs surgery, dua facelift, dua tummy tuck dan satu kali nose job pun…Dia masih sama cewek itu ke Fame kan beberapa hari yang lalu? Hehe…”


Gw masih SMA waktu pembicaraan ini beneran gw alami, dan gw inget butuh waktu bertahun-tahun untuk sembuh dari shock gw dan meredakan rasa marah gw.

“Liat tuh baju merah…Anjing badannya gila dah!”

“Bemper depan nggak basa-basi boss…”

“Ampun, coba cewek gw kaya gitu…”

“Aduuuh…gw mau deh jadi cowoknya…”

“Weits, ngantri boss!”

“Haha…langsung kebayang aja ya tu kalo jadi cewek gw gw suruh ngangkang terus deh…”


Pembicaraan kedua ini gw alami baru-baru saja. Kali ini gw nggak ikutan ngomong, hanya jadi pendengar pasif yang nggak peduli karena juga gw lagi ngobrol di hp gw sama seseorang. Tadinya gw nggak mau terlalu ambil pusing obrolan primitif seperti itu. Tapi begitu gw nutup hap gw, seorang cewek berjarak setengah meter dari gw terlihat mendengarkan pembicaraan cowok2 itu dengan penuh minat dan kemudian matanya nggak lepas dari si cewek pertama yang mereka omongin, yang ‘bumper depan nggak basa-basi’ itu. Gw perhatiin terus cewek kedua ini yang wajahnya cantik, tapi kelihatan labil dan dengan bumper depan standar. Gw menerka-nerka apa kira2 yang dia pikirin dan sebutlah gw sok tahu, tapi somehow gw yakin at that moment plastic surgery was an option for her.


Cowok2 itu sama sekali nggak sadar apa yang udah mereka rusak lewat obrolan ngga guna mereka tentang bumper depan dan ngangkang.

Saat itu berkelebat lagi di benak gw obrolan nista beberapa tahun yang lalu itu, trus obrolan lebih nista lagi beberapa menit sebelumnya dan ratusan obrolan primitive lainnya dalam kurun waktu antara itu. Artis-artis di E!, cewek2 di Playboy mansion, dr 90210, artis-artis di negara gw sendiri juga...Mereka yang rela nahanin sakit supaya fisiknya jadi sempurna sementara mentalnya jadi invalid…dan buat apa?

..kenyataannya kalau emang mereka ketemu sama orang brengsek, ya mereka akan tetep jadi korban, mau sebesar dan sebagus apapun dada mereka, mau semulus dan seputih apapun kulit mereka, mau selangsing dan serata apapun perut mereka. Mereka bakal tetep jadi k-o-r-b-a-n.

Nggak cuma sekali dua kali gw dideketin mereka yang berstatus tidak single dengan embel-embel ‘cinta mati’ and so on and so on padahal pasangan mereka berfisik lebih sempurna dari gw, jauh. Bukti bahwa kesakitan mereka sia-sia, bahwa fisik sempurna nggak ada arti kalau personality nya rusak parah.

Sampai rumah satu jam kemudian gw langsung masuk ke ruang kerja gw, melakukan suatu hal memalukan yang udah lebih dari sepuluh tahun nggak pernah gw lakuin: smoking. Mencoba meredakan aliran darah gw yang terlalu kenceng sampe kepala gw sakit. Akhirnya gw nangis sesegukan, sesuatu yang juga udah bertahun-tahun nggak pernah gw lakuin.

Marah, sedih, terluka. Entah siapa yang salah, para perempuan macam ‘itu’ yang terlalu naïf, atau laki-laki macam ‘itu’ yang terlalu primitif.

Tapi dibalik kekacauan itu ada yang positif juga, akhirnya ada satu penjelasan tentang gw yang kadang tampak heartless ini…:

Gw menolak untuk jadi perempuan tanpa pilihan, gw menolak untuk jadi korban.

…Dan gw rasa pendirian itu yang mengantar gw bertemu dengan orang-orang yang—hopefully—nggak seperti itu. Termasuk dia yang malam itu meredakan tsunami emosi gw dengan sempurna, i love u so much, darl.

Friday, January 12, 2007

...in many ways

G speaks in many ways.

Hari ini gw kedatengan temen2 sma 3 Cimahi selesai gw siaran. Ngobrol-ngobrol, ternyata mereka disuruh interview public figure buat tugas bahasa Indonesia, dan gw sama Sazki lah yang akhirnya mereka interview. Obrolan ngalor ngidul dari mulai 'TTL' sampe 'makanan favorit' sampe 'tipe cowok' dan akhirnya sampailah mereka pada pertanyaan yang buat gw sangat orisinil dan brilian mengingat mereka 8 tahun lebih muda dari gw...

"Apa sih komitmen ka Kristy dalam hidup?"

...dan kalau untuk menjawab 'tipe cowok ka Kristy' gw butuh hampir semenit buat mikir, kalau untuk pertanyaan yang ini gw menjawab saat itu juga tanpa mikir...

"Serving the others..."

"Kenapa?", kata mereka.

"Karena cuma kesadaran itu kok yang bisa bikin the world a better place...Jadi itulah makanya gw pengen sekali bisa mengabdikan hidup gw buat sebanyak-banyaknya orang yang gw bisa."


...Beberapa hari ini saking bingungnya gw seperti lost track. Saking kebanyakan pressure jadi malah lupa fokus sama tujuan akhir gw apa. Akhirnya wkatu shalat subuh tadi pagi gw minta sama Dia terangin lagi jalan gw.

...And so it happened.

...Tadi gw jadi ngomong panjang bahwa itulah alasan gw kenapa gw selalu ingin jadi front liners, jadi penyiar, jadi vokalis, jadi presenter...Karena dgn begitu gw bisa jadi mediator yang nyampein ajaran2 baik yang pernah gw terima ke orang lain. Kenapa sih gw nggak pernah2 nya bikin lagu ataupun gombalin pacar gw dengan kalimat 'hidupku hanya untukmu', karena emang udah sejak lama gw memutuskan untuk mengabdi pd society, by doing those things that i love...

Suatu hari dulu gw pernah nulis di jurnal pribadi gw:

"God speaks in many ways, but from what I know the favorite way is through our heart."
...terinspirasi dari obrolan sore dengan suatu mahluk yang dengan santainya bisa jadi sangat childish dan bijaksana dalam satu waktu.

Ternyata bener yang si orang aneh itu bilang (don't wanna mention his name, tp dia pasti tau kok kalo dia baca blogs ini kalo gw inget apa yang lo omongin, strange man who i could never understand!)...G speaks in many ways. Tuhan bicara lewat banyak cara, lewat majalah yang kita baca, lewat koran, lewat buku, lewat film, lewat temen kita, orang tua kita, pacar kita, bahkan orang yang nggak kita kenal, lewat lagu, bahkan lewat stiker yang nempel di belakang mobil di depan kita...

...Tinggal kitanya aja, mau denger omongan Nya atau nggak...:)

Hari ini Dia bicara lewat bidadari2 pecicilan lucu yang mengakhiri interviewnya dengan foto2 sama gw dan Sazki.

Menjawab pertanyaan gw, menenangkan kegelisahan gw, dengan begitu sederhana.

...thx G, i love u.