Friday, December 30, 2011

Monday, November 21, 2011

Distanced Beauty


There was a bar in Paris and a radio in London. And in between there were laughters, tears and discussions; only over the phone. There was never a bridge so eyes could meet and hands could clutch. So shoulders, noses and lips could touch. There was never a bridge so love could be more than just a pretty story. There was never a bridge so hapiness could be put into reality.

What is it with distance and beauty. Why the moon, the stars, sunset and sunrise are to be seen from afar. And a dream to remain a dream, a sweet touch in that cup of tea and cream. That bitter dark liquid we're addicted to, that impossible tale starred by only me and you.

There was a bar in Paris, a radio in London and a thousand clue . That impossible cup of tale we're addicted to, a sweet dream starred by only me and you. Distance and beauty, the impossible reality.

Tuesday, November 15, 2011

Till then.

Sebaiknya selamakan diammu, asal kau tetap disitu. Teruslah bicara lewat dua terang tanpa suara sejauh tidak berbentuk kata-kata. Sampai kita lahir lagi di waktu lain, saat mimpi tinggipun menjadi mungkin.

...And till then, I've zero complain.

Thursday, November 10, 2011

Autumn is Slightly Better Than Spring

You don’t know.

Why the frown and grey words that comes after

Why the love for rain and wind and the dark night

Why the sleep deprives and fears to wake up

You don’t know, but it’s alright.



You don’t understand

Why the longing for ends and the silver skies

Why the constant urge to scream in a form of total silence

Why fetching troubles only to justify those tears

You don’t understand, but it’s alright.

Monday, October 24, 2011

Aneh.


Hanya dari jauh selalu baru kulihat kerlipan tajam di sudut sana
Sepersekian detik nyala dalam semua warna yang lebih baik dari luar biasa
Sepersekian detik mimpi yang menyata tanpa imbalan apa-apa
Hangat yang rendah hati dan pengertian yang tak kenal paksa

Bukankah kata-kata yang tercinta, justru tak terlalu perlu saat kau aku bersama?
Bukankah belum ada potongan sastra yang seindah taut kedua lengan kita?
Diam-mu itulah yang tak tergantikan, kemanapun ku mencari
Obrolan santai tanpa obsesi, di balik dinding berlapis sunyi penuh arti

Berteman dua cangkir embun pagi.
... Dan sepotong kue kopi.

Thursday, October 06, 2011

Puber kedua.

Bukan alasan yang cukup bagus untuk tidak menghormati lagi pasangan yang resminya masih berstatus "pasangan hidup". Saya memang belum menikah, jadi sebagian orang mungkin akan bilang bahwa saya tidak pantas berkomentar. Tapi karena ini blog saya, ya suka-suka saya lah ya mau komentar tentang apapun.

Ya, cinta berkembang. Ada segelintir pasangan yang beruntung dan tetap tergila-gila satu sama lain seumur hidup mereka. Ada yang berubah menjadi sepasang sahabat. Ada yang mengalami pasang surut yang esktrim sampai mengalami masalah penuaan dini dan darah tinggi. Ada juga yang berakhir dalam hidup monoton tanpa excitement: terbangun, menjalani hari, dan tidur bersama orang yang sudah tak lagi dicintai.

All is fair in love, kata pepatah lama. Saya setuju. Kita tidak bisa memanipulasi hati, memang. Sah-sah saja untuk kita berhenti cinta, bahkan meninggalkan orang yang sudah tak lagi kita cinta. Mau tetap bersama walau tanpa cintapun tidak masalah, toh setiap orang punya pertimbangan masing-masing.

Tapi untuk menghargai pasangan kita, itu cerita lain lagi. Bagaimanapun perasaan kita, pada orang itulah kita sudah sekian lama berbagi hidup. Bukan hanya kita mencintai, mengurus, mempercayai dan belajar memahami orang ini, tapi kita juga dicintai, diurus, dipercaya dan dipahami olehnya.

Ngapain nikah dan membangun keluarga sama seseorang kalau ujung-ujungnya bicara nggak pantes mengenai orang tersebut?

You've stopped loving the person, I don't care. You wanna go hump around with anyone who's stupid enough to say 'yes' and endure the risk of STDs, I think it makes you a douchebag but whatever.

What I wish I never heard is how you disrespect the person who has been with you all these times ... Bragging how lame the sex is, really?

Maybe it's not your spouse, maybe it's YOU.


Saturday, October 01, 2011

Not That Strong

Mimpi.
Cita-cita.
Janji.
Segalanya.

Hidup kau bisa begini sulit dimengerti, begini sulit dipahami. Bahkan setelah perjalanan ke masa depan dimana katanya semua rangkaian kisah berubah eksplisit. Tak lagi rumit.

Hati dan diri tak pernah cukup kuat ternyata. Untuk mimpi, cita-cita, janji, segalanya. Apalagi untuk mengurai "kita," tuk kembalikan "k" "i" "t" dan "a"ke luar sana. Merelakan yang dulunya rencana, yang kini hanya berupa ide saja.


It takes a lot to forgive life. For those shattered dreams. For those unanswered questions.

And I'm probably not that strong.

Wednesday, August 31, 2011

Hors de Prix

A vase with a bucket of pink Lilies in the corner. Milt Jackson & Count Bassie playing Easy Does It. Dad talking about Kafka on the Shore-He has just finished the book and is impressed. Also, he finds it surprising that the writer turned out to be a man, he thought Murakami is a lady. Mum walking around, what she always does before she leaves the house. Wrapping gifts, checking her purse, giving instruction to everyone in the house, goes out and realizes she left something in her room (always happens). Earlier, dad looked at her and said, "My wife's so beautiful."

The sun shines lovingly.

And this Kristy is happy.

Wednesday, August 24, 2011

10th April

adalah hari dimana kau kembalikan kacamata yang kau temukan dua hari sebelumnya.

Dua hari sebelumnya. Kau berkata kacamata itu tiba-tiba saja ada disana, di antara serakan buku-bukumu diatas meja, "Aku duduk dua jam lamanya berusaha mengingat-ingat kenapa, bagaimana, dan darimana kacamata itu tiba-tiba ada."

Aku bertanya, "Kenapa, kamu nggak suka?"

"Suka. Kamu kan tahu kacamataku pecah minggu lalu dan aku belum beli lagi. Masalahnya nggak pernah ada orang yang masuk kamarku sejak dua bulan yang lalu, jadi kacamata itu harusnya nggak ada disana!"

Selama dua hari kau terobsesi pada kacamata yang hadir tiba-tiba, sampai tadi,

"Minusnya sesuai dengan mata kamu kan?"

Kau mengangguk gelisah, "Aku nggak ngerti. Orang bilang mereka sering mencari-cari sesuatu untuk melengkapi mereka dan menemukannya justru disaat mereka berhenti mencari...Ini kacamata yang aku perlu, memang. Tapi masalahnya aku nggak pernah nyari kacamata ini, jadi waktu kacamata ini tiba-tiba ada, aku merasa..."

"Apa?"

"Aneh.Orang-orang yang mencari-cari sesuatu itu pasti merasa senang kan waktu mereka menemukan apa yang mereka perlu justru disaat mereka berhenti?"

Aku menganggguk.

"Sementara aku nggak merasa senang sama sekali karena walaupun ini kacamata yang aku perlu, tapi aku nggak pernah nyari. Jadi aku cuma ngerasa aneh..."

Aku mengurut bahumu, "Kamu menemukan apa yang kamu perlu, tapi bukan yang kamu cari, maka dari itu kamu merasa aneh?"

Kau mengangguk, "Aku tidak pernah mencari. Tapi anehnya justru sekarang disaat aku menemukan yang aku perlu, aku jadi..."

"...tau apa yang ingin kamu cari." aku menyelesaikan kalimatmu. "Lalu apa yang terjadi?"

Kau lalu bercerita bahwa malam sebelumnya, kau berpikir panjang dan memutuskan bahwa kau tidak suka kacamata itu ada disana. "Walaupun meja itu penuh barang lain dan kacamata itu nggak terlalu besar, tapi aku merasa keberadaannya ganggu, jadi aku pindahin aja."

"...Problem solved?"

Kau menggeleng. "Sesudah itu aku merasa lebih aneh lagi karena ada spot kosong dimana kacamata itu biasanya berada."

"Lebih aneh?"

"Lebih menyiksa." jawabmu. "Aku tahu apa yang aku ingin cari, tapi...Aku tidak bisa mencari dengan benar tanpa kacamata."

"Mungkin yang kamu cari akan memberi kacamata yang lebih bagus lagi."

Kau mendesah, "Mungkin..."

Aku tahu kau mulai lagi dengan obsesimu yang lain; me-manage ekspektasi. Kau menatap lama ke gelas bening dihadapanmu dan berkata perlahan, "Aku tahu apa yang aku ingin cari, dan mungkin aku bisa mencarinya tanpa kacamata...Tapi bagaimana kalau yang aku cari itu tidak pernah muncul karena aku baru mulai hari ini? Apa aku harus hidup setiap hari tanpa kacamata?"

"Ada air terjun dan peri dipinggirnya berkata dibawah sana ada surga tempat kamu akan akhirnya mengerti 'bahagia membuatmu ingin terjun bebas supaya bahagia. Tapi lalu peri lain di pinggir satu lagi berkata kok kamu bisa percaya gitu aja, gimana kalau dibawah sana nggak ada apa-apa? Gimana kalau dibawah sana cuma ada batu-batuan dimana nggak ada pilihan lain buat kamu kecuali mati dengan sukses? ." ujarku, "Kamu mau terjun supaya tahu walaupun mungkin kamu akan tahu dan mati, atau mau pulang dan tetap hidup agak lama tanpa pernah tahu sama sekali? Kamu akan tetap mati akhirnya. Mati tanpa pernah tahu."

Kau diam agak lama, membiarkan jantungku berdegup gila, dan akhirnya berkata, "Maybe I'm a coward...

...No. I am a coward."

"Karena?"

"Karena aku akan mengembalikan kacamata itu keatas meja."

Lalu kau berdiri dan pergi.

Dan aku tahu kau tak akan kembali. Sebagus apapun kacamata yang tadinya kan kuberi padamu nanti. Dan aku tahu kau tak akan kembali. Walau aku bisa berjanji jika kau terjun bebas kau tak akan mati.


Tak apa, aku mengerti.

Leeds, May 13, 2009

Monday, August 22, 2011

"Gemerlap itulah yang akan membuatmu mati rasa."

Katanya.

Yang baru kumengerti setelah bertahun kemudian, terkapar di atas lantai kayu berteman satu gelas wine. Sunyi, sesunyi kodrat pukul dua pagi. Begitu saja kejujuran pada diri sendiri mengendap-endap tanpa terganggu, mengusap kulit hati yang hampir-hampir kebal kaku. Perlahan dan manis, dekat nadi yang nyaris teriris.

Dibawah hingar bingar itulah proyek terjun bebas ini dimulai, satu kali lagi mencoba untuk tak mati.

Satu kali lagi bertahan hingga pagi nanti.
Satu kali lagi.
Satu kali lagi.

Hingga pagi.

Nanti.

Monday, August 15, 2011

Little Boy Shan't Tweet

In time, we'll see some impressive thin lines. Impressively thin, impressively distinctive. In between crazy and genius minds. In between laughters and tears. In between love and hatred.

Thin line in between denial and history
Thin line in between tacky and classy.
Thin line in between honesty and hypocrisy.
Thin line between you and me.

By all means choose not to see reality let alone something a bit more. Choose to ignore, to hide behind that closed door. Be soul-blinded to the very core, pretend not to want everything you've been fighting for. Loosen up, but make sure: regret not a thing in the future.

"You were like a little boy whining because all the attention wasn't focused on him. You were like a little boy walking by an ice cream store, crying because his mother wouldn't buy him a milkshake or something." ~Celine, Before Sunrise



Thursday, August 11, 2011

Memilih Senja

dengan jingga lelah tapi penuh cerita
sunyi yang menenangkan diri
sedikit sinar yang sungguh berarti



Wednesday, August 10, 2011

Lantai 1108

Kau yang menganggap bintang itu biasa, "Kerlip yang terlalu sering dipuja. Padahal mereka kecil, jauh di dunia khayal bernama Angkasa." Waktu kugugat langit yang terlihat di atas kita, kau tertawa, "Penampakan tak menjamin apa-apa. Yang terlihat solid tanpa ragu bisa jadi yang paling jago menipu."

Lalu deraimu berlalu, waktu untuk tanya-tanya lugu, "Bintang itu salah apa sama kamu?"

Karena kerlip kecil yang kau panggil "Biasa" selalu kau tatap berlama-lama. Kau panggil "Biasa", untuk seribu satu alasan yang ... ditemukan dan dirangkai p a s t i menggunakan tenaga. Kau panggil "Biasa" diiringi tawa yang teramatsangat sarat makna.

Dan senyummu hanya ada kala senja. Saat angkasa menggelap pekat bertabur putih nyala. Dan ruang-ruang kosong diantaranya, sisakan tempat untuk mimpi yang belum punya nama.

Bintang yang melukis luka dan maafmu yang masih saja.

Untuk sesuatu yang "mengalahkan segalanya".
"Biasa" yang luar biasa meski tanpa suara.
Meski tanpa banyak kata.

Tuesday, August 09, 2011

That Familiar Pain

Waking up from a fantasy you really love. Waving goodbye to someone you cant live without. Greeting those bastards you call bosses. Laughing hard to hide those tears. Stepping into that building you don't wanna be in. Breathing the air they claimed polluted. Reading s**ts just because they're "important". Forgetting dreams you once hold on to. Stay alive and befriend that painful pain, because that's what adults do.


Being you, yet the best line you can come up with is "no clue".

Monday, August 08, 2011

Winter today

And maybe it's not time to have ice (black) coffee. It's too bitter and too cold. Don't we want something warm, creamy and sweet.

A cup of love perhaps.



pic's courtesy of: http://bit.ly/qEvx0G




Thursday, August 04, 2011

Take Side

We can't be someone full of hate and full of love at the same time.

Moi, j'ai choisi l'amour, évidemment.

Sunday, July 31, 2011

Mood Swing

You don’t know when someone, something, would mess around with your mood. But it’s not a good enough justification to ruin the day for people around you, or who you work with for that matter. Let alone your client. It won’t hurt to wait till the end of the day, and discuss it over nice cups of coffee. By that time you’d probably be calmer anyway.


Now back to my Outlook.

First Day of Ramadhan


And a brief discussion about religious tolerance.

And missing these 3 so much.


Good luck for this year's Ramadhan, dear friends. Wishing you a wonderful and enriching month, amen.

Loads of love,
KNel

Saturday, July 30, 2011

Don't be A Criminal:

Use the Right Glass
:)

pic's taken from here.



A Letter to the Young Hearts

Kids,

you may see us teachers/lecturers as a cold blooded-cranky creature. Especially when we throw you hours of speech after our lecture. You may hate our sharp words and accusation, saying that you haven't worked hard enough and that you come from a hopeless generation where crying for help from your parents is the solution for everything. You may think that we're being judgemental and closed minded. That we don't know how to have fun. That we're trapped in those boring classic books without knowing that contemporary literature is, by far, a lot more interesting. You may think that we're inefficient, spending days to read a book while you would choose to see the movie: same story, less time consuming.

Complicated teachers VS fun students.

But little did you know where did the speech come from. How we weren't accusing, we're only concern. How we wish you to be a bit stronger in facing failure and unfortunate moments. Because life is (most of the times) difficult and we need to be convinced that you'll fight and be fine eventually, no matter what. How we have experienced a bit more than you, we have done our mistakes and we simply don't want you to have similar regrets.

How we have learned lot from books, and how we have compared books and movies. Movies are great, entertaining ... But books give us opportunities to have better relationship with our imagination. To have the best entertainment show without having to go to the cinema or opera house, without having to have expensive home theatre set. To live in various kind of worlds. To see what can't be seen on screen. To hear the most magical voices in our head. To have no boundaries nor limits.

To experience what they call "the loud silence".

To see how reading, that time consuming act, gives you a lot more than just a story: wiser mind and richer soul. Because what more could a teacher want for his/her students?

So to found out that you can't finish a (contemporary) book or that you can't (or simply didn't want to) give your best efforts in learning, it hurts. My speech wasn't out of my anger, it was generated out of my worries. For I only want what's best for you.

Really.
And to surrender I will not.

Friday, July 29, 2011

Félicitations

For you've proven your words are all false. The world doesn't know but I do. We do. Never in my life I try this hard not to regret my decision to have trusted someone.

Yet. I still believe in your good heart.

Be happy.


Wednesday, July 27, 2011

High Speed Love Story Reality

Kau yang tarik garis perak membingkai awan abu-abu, menghias langit sebelum hujan turun satu-satu. Bintang yang mengedip tepat saat kumelihat, hangat meski dulu sempat tak dekat. Keberadaan yang tanpa syarat, kesayangan yang begitu pekat.

Sesuatu yang lebih indah dari mimpi, meski tertidur kita tak lagi.
Kita dan dua cangkir kopi. Menanti senja lalu menunggu pagi.

Dua cangkir kopi berteman senja dan pagi
Dua cangkir kopi lebih indah dari mimpi
Tetaplah begini.

Saturday, July 23, 2011

Menggambar Peta

Dengan pensil hitam merah beraroma vanilla
Bukan ke dunia baru tapi tempat yang kurindu
Bukan mencari emas tapi untuk bertemu kamu

Menggambar peta, menarik garis yang sama
Memaafkan putus asa, berdansa dengan rasa percaya
Bercita-cita berteman dengan diam yang tenang
Mengertikan keruh para hati yang tak tahu jalan pulang

Memiliki hidup yang hanya satu
Mengingat niat baik yang kan tetap begitu
Menyayangi hati sendiri tanpa ragu

Hanya satu, tetap begitu, tanpa ragu



Monday, July 18, 2011

Jika hujan berminggu lamanyapun

Dingin takkan mencapai hati.
Biarkan petir berdansa hingga menahun
Sinar yang harusnya memang tak mati.

Sini, ikuti mimpi.
Susuri jalan berujung jauh, semoga kita tak jenuh.
Simpankan setiap bintang yang berenda putih terang
Untuk kau, aku dan cita-cita menemukan rute pulang

Menemani pagi yang percaya, suatu hari kan bisa bertemu senja
Kau aku dan cita-cita menemukan teman jiwa
Yang dengannya bisa bicara tanpa terlalu banyak kata
Bisa mengerti, tanpa terlalu banyak janji

Kau aku, saja.
Kita.
Saja.

Thursday, July 14, 2011

A cup of coffee with Coincidence

“Why don’t you believe in me?”


“Why do I have to have reasons for not believing in you? The last time I checked, I could believe or not believe in whatever I want.”


“Like how you choose to believe in God?”


To believe is not something we choose.”


“What is it, then?”


“It’s something .. built in. I guess.”


[Laugh]


“You tried to sound like you’re amused but that laugh of yours sounded more like frustration laughter.”


“Don’t think so highly of yourself, I’m not easily frustrated.”


“Right back at you. Don’t think so highly of yourself.


“Life would be so much easier if you believe in me.”


“Maybe. So much easier and less meaningful.”


“You judging those who believe in me?”


“No. I’m just saying that in my case, to believe in you means not going deeper into the darker part of the ocean.”


“Why would you wanna go to the darker part of the ocean? It’s cold and quiet over there. Scary.”


“That was an analogy, you silly.”


“I KNOW!” [Laugh] “Now that was a frustration laugh. I understand your analogy, I’m playing along. The deeper you go the scarier.”


“You know that answers your question.”


“Which question?"


“About why don’t I believe in you.”


“How so?”


”It’s scarier, but see … I think I’m brave enough to go deeper. I want something more than just that pretty view.


Believing in you, Coincidence, only works for either lazy or weak heart. Not me.”


“There are sharks there.”


“Who said I haven’t met some of them?”


[silence]


[Their cups are empty]


“I’m gonna order some more.”


“Aren’t you done trying?”


“Never. Not until you believe.”


“But I am a believer. I believe in so many other things but you. I believe that I’m not ever gonna believe in you.”


“What’s with that full of hope glance? You think I’ll leave you that easy?”


“Certainly not. It’s moi who’s about to leave.”


“Gin Blossoms.”


[chuckle] “I know. You'll follow me down.”


“See you.”


“Not so soon, I hope.”


“Sooner later. Potato potahto.”


[Footsteps, fading out]


[Thunder]


[Rain]

Saturday, July 09, 2011

Juli harusnya tak hujan

Dan malam harusnya tak pelan
Gumpalan abu tua men/jarak/an bintang
Gumpalan abu muda menjarangkan tenang

Yang tertinggal hanya genggaman tangan
Bertukar kata cerita dan langkah-langkah ringan
Sebatang cokelat yang tiba tanpa rencana
Kesempatan pertama dengan label "semoga"


Belajar terbang satu kali lagi, masih mencarimu hai teman hati

Wednesday, July 06, 2011

What Makes Leeds Beautiful : L- An Outro

Suatu waktu dulu aku pernah begitu membenci matahari.

“Now I’d do anything just to have another sunny day.” Gumamku begitu mematikan alarm dan melihat gradasi abu-abu di luar jendela kamar. Pasti mendung lagi hari ini. “Lara?”

“Yeah.” Lara menjawab dari kamar sebelah. Seperti biasa sahabatku sejak dua tahun lalu itu sudah bangun lebih dulu, pasti sedang memeriksa e-mailnya. “Heavy rain at one pm, and cloudy for the rest of the day. 13 to 17 degree celcius. “ tambahnya sebelum aku bertanya.

Aku terkekeh, “Thanks, you’re getting good at this; I don’t even need to ask.”

“That does not mean I’m not annoyed.”

“But you love me. You’d check the weather forecast every morning for me, it makes me happy.”

Lara tidak menjawab.

“Right?” kejarku.

“That’s a stupid question, Ava.”

“Rhetorical question.” Lawanku.

“Yes rhetorical and stupid.” Potongnya. “We've shared a roof for two years and I am still here reading weather forecast for you. You know the answer, now quit talking and start your day, it’s 9 am already you lazy woman.”

Aku bangkit dan masuk kamar mandi yang berhadapan dengan kamarku dan Lara yang bersebelahan. Sekilas kulihat perempuan British berdarah setengah Irlandia itu sedang duduk di meja kerjanya. Laptopnya tampak terlalu modern berada diantara ribuan benda etnik di kamar Lara yang sejak setahun lalu menekuni dunia aksesoris dengan serius dan sudah mulai memiliki pasarnya sendiri. Profesinya itulah yang menjelaskan potongan perca warna-warni dan manik-manik dalam seribu satu bentuk dan jenis yang berserakan di kamarnya. Hari ini ia mengenakan salah satu kreasinya sendiri membelit rambut platinanya yang panjang, sebuah bandana berwarna hijau zamrud dengan manik-manik hijau menyala, “Hey, you’re wearing my favourite bandana.” Komentarku. Aku menyukainya sejak awal Lara membuat bandana itu.

Lara hanya tersenyum lalu bangkit, dan berjalan kearah tangga, “Coffee or tea?”

“Neither.” Jawabku.

“Ryan?” tanya Lara sebelum melangkah turun.

Aku mengangguk, “Who else, I’m meeting him for coffee in an hour.”

“Where?”

“The Opposite.” Aku membungkuk mengambil handuk bersih dari rak di bawah wastafel dan menyadari Lara masih diam mengamatiku waktu aku bangkit. “What?”

“You alright?”

Aku diam sebentar meraba perasaanku, “I don’t know. I think I’m fine. “

Lara terus menatapku dengan mata birunya, “Sure?”

Aku mengangguk, “I’ve been worse.”

Pada kenyataannya sampai aku duduk sendirian di teras The Opposite, dengan segelas cappuccino dan chocolate fudge cake kesukaanku, perasaanku masih belum jelas. Kutatap potongan besar cake cokelat dengan krim cokelat dan taburan cokelat serut itu, teringat mitos yang mengatakan bahwa cokelat akan bisa memperbaiki mood yang berantakan.

“This should do.” Desahku mulai menyuapkan potongan pertama ke mulutku sambil memperhatikan Parkinson Building yang jadi kebanggaan University of Leeds di seberang jalan. Gedung besar bergaya Victoria berwarna krim dengan pilar-pilar tinggi itu masih tampak megah dan klasik. Pertama kali melihatnya aku menyangka umur gedung tersebut sudah ratusan tahun, ide kuliah di dalam gedung yang sangat bersejarah sempat membuatku terserang euphoria. Jadi waktu kemudian Ryan dengan terkekeh-kekeh berkata bahwa umur gedung itu baru 58 tahun, aku dengan emosi menggebuk bagian belakang kepalanya.

“AW!” protesnya, “Kok digebuk sih? Saya kan cuma kasih tau kamu fakta!”

“Diem kamu ngerusak mimpi saya, dasar menyebalkan! Selama ini saya selalu berpikir bahwa sekali aja di seumur hidup saya, saya pernah belajar dalam sebuah gedung yang sangat kuno dan menyimpan sejarah…Sekarang saya kembali jadi seseorang yang nggak punya kenangan apapun tentang belajar dalam gedung bersejarah dan semuanya gara-gara kamu!!!!”

“Yehhhhh! Salahin itu tuan Parkinson tuh, kenapa baru kepikiran ngebangun Parkinson Building tahun 1951…Jangan salahin saya dong! Lagian, aneh. Yang udah tiga tahun disini kan kamu. Yang udah beres ambil master disini dua tahun lalu kan kamu. Yang harusnya ngasih tau saya tentang sejarah Parkinson Building kan kamu. Eh…ini malah saya yang baru dateng seminggu lalu yang ngasih tau kamu, kebalik.” Repetnya nyinyir, “DIGEBUK PULA!!”

“Bla bla bla. Brisik.” Komentarku pendek dan menepak kepalanya sekali lagi. “Dasar mental jurnalis nggak bisa diem dikit. Emang harus ya dimanapun kamu berada, mencari-cari fakta tentang tempat itu?”

“Ava, cut it off!” jawabnya kesal. “It’s in my blood, there’s nothing you can do about it!” Lalu waktu melihat aku hampir menepak kepalanya lagi dia menangkap tanganku dan menarik rambutku sebagai balasan. Sesuatu yang selalu dilakukannya setiap kali kesal padaku sejak sore itu.

Sesuatu yang selalu dilakukannya sejak sore itu dan mungkin akan membuatku rindu.


Seseorang menarik rambutku, mengembalikanku ke masa kini, “Jangan kaya orang susah gitu mukanya, mbak.”

Aku merengut, “Muka kamu tu kaya orang susah! Udah gondrong, kurus, kurang tidur, begadang melulu…mau jadi apa?”

Ryan tidak menjawab dan mencomot cake ku dengan santai, lalu menyalakan rokok dan menghirup café Americano pesanan standarnya.

Pesanan yang sama sejak pertemuan pertamaku dengannya, waktu itu Ryan diajak teman-temanku dari PPI Leeds untuk datang ke the Opposite. Komentarku waktu mendengar namanya adalah: “Nama kamu bagus.”

“Are you trying to hit on me?”

“What? No I’m not.” jawabku sewot.

Dia mengangkat bahu, “You just compliment my name.”

“Because it reminds me of my brother’s name!” salakku. “Yang ada saya malah jadi males.”

“Baguslah.”

“Bagus?”

Dia mengangguk, “Iya, bagus. Saya juga bosen ditaksir melulu.”

Dia selalu mengesalkan.


Ryan menggebrak meja sedikit, membuatku kaget, “So.”

“Monyet. Kaget nih!” makiku menoyor kepalanya.

Ryan memutar bola matanya dan mencondongkan tubuh ke arahku, “I still think Leeds is beautiful.”

Ah lagi, perdebatan yang takkan ada akhirnya. “I still think Leeds sucks big time.” Balasku pendek.

“That’s why we’re here. Today.” Katanya berdiri, “Ayo.”

“Kemana?” aku bertanya curiga, tidak bergerak dari dudukku.

“I want to show you what makes Leeds beautiful.”

“Where?”

“Ava please.” Ryan menarik tanganku, “Could we just go?”

“Ryan, please.” Aku meniru intonasinya sambil berdiri juga akhirnya, “Kamu kan tau saya paling nggak suka pergi-pergi tanpa tau dengan jelas kemana kita bakal pergi.”

“Kamu tau dengan jelas kemana kita bakal pergi, kita bakal pergi ke ngeliat apa yang membuat Leeds istimewa.” Jawab Ryan lalu mengangkat tangannya waktu melihat aku hampir menjawab lagi, “Pertama, kita bakal pergi ke York.”

“What? Why?”

“Karena kota kecil duapuluh menit dari Leeds itu begitu indah dengan bangunan-bangunan tua dan toko-toko kecilnya…”

“Bisa nggak kasih penjelasan yang beda sama yang kamu kasih buat ribuan pembaca kolom kamu itu?” tukasku sebal, yang Ryan tadi ucapkan adalah line pembuka artikel tentang York yang dia tulis tahun lalu untuk kolomnya di salah satu majalah nasional Indonesia. Aku hafal, entah kenapa.

“Karena saya janji traktir kamu apa yang mereka bilang the best scone ever .” Ryan sekali lagi mengangkat tangannya menghentikan bantahanku, “Dan no, jangan bilang ‘kan bisa ntar-ntar, Yan’ seperti yang biasa kamu lakukan karena itu lah yang membuat kita hari ini, tujuh bulan sejak saya menjanjikan hal itu ke kamu, belum juga melakukannya. Hari ini saya nggak akan membiarkan kamu memanipulasi saya seperti biasa. We’re going there.”

“Why?”

“Because I’m leaving Leeds tomorrow.”

“No, I mean why did you call me ‘manipulative’?”

Bukannya menjawab dia malah mengatur posisi berdiriku dan melangkah menjauh sedikit, lalu mengeluarkan kamera nya dan memotretku.

“Apa-apaan sih kamu?” ujarku gemas. “Udah ayo berangkat ke York, serah deh mau kemana, asal berhenti memperlakukan saya sebagai objek!”

Ryan terkekeh mengikutiku, pasti merasa sungguh bangga bisa membuatku mengiyakan ajakannya ke York, “Saya nggak memperlakukan kamu sebagai objek, Ava. Saya memperlakukan objek-objek ini,” dia menunjuk sign The Opposite, kursi-kursi dan meja-meja di belakangku, “Sebagai objek. Sementara kamu, saya memperlakukan kamu sebagai ‘pemanis’.”

“SERAH! Jawab aja terus.”

Ryan sedang dalam mood yang bagus hari ini, yang adalah berarti dia punya energi tak berkesudahan untuk menggangguku, apapun yang terjadi. Saat membeli tiket di Leeds train station, di dalam kereta menuju York, di York train station, dia selalu memotretku. Satu yang kupelajari setelah setahun mengenal manusia tengil ini adalah, untuk jangan pernah menginformasikan apapun itu yang bisa membuatku irritated karena dia justru akan melakukannya. Dia selalu memasang lagu-lagu Moonpools & Catterpillar untuk menggangguku, lalu menyeretku ke Little Tokyo yang notabene adalah restoran sushi terenak di Leeds— karena dia tahu aku benci sushi, dan memotretku karena dia tahu aku benci dipotret.

Annoying.

Bahkan sampai kami berdua duduk manis di Bettys café Tea Room, dia masih terus memotretku dan selalu menggunakan jawaban ‘But it’s my last day here’ untuk membungkam protes-protesku.

Annoying. Super annoying.

Satu set Bettys Traditional Afternoon Tea tiba di meja kami dan tatapan merengutku pada Ryan berhenti karena satu teko teh, dua buah scone dan setumpuk sandwich yang terhidang dihadapan kami membuatku merasa harus memberikan instruksi, “Kamu yang makan semua sandwich nya kecuali yang isi smoked Scottish salmon.”

“Jadi kamu yang makan smoked Scottish salmonnya?”

“Bukan, orang di meja sebelah kita yang bakal makan itu.” Tukasku judes, “Ya iyalah saya, siapa lagi! Dan sultana scone nya dua-duanya buat saya.”

“Kenapa?”

“Karena kamu mengesalkan dan kamu janji mau traktir saya the best scone ever.” Jawabku datar lalu mendekatkan wajahku ke wajahnya di hadapanku, “Saya mau dua best scone ever dan nggak hanya satu. Ngerti?”

Ryan tidak menjawab, malah mundur sedikit dan dengan cepat memotretku.

“Ryan!”

Dia tertawa, “Haha, kamu cocok main film mafia kaya The Eastern Promise, Va.”

Aku mengangkat bahu, “Terserah, sana main kamera sesuka kamu. Saya mau makan. By the way, film tentang mafia mah udah nggak jaman! Ini 2009 bung, it’s the year of terrorism movies.”

“Itu sih trend nggak hanya di film, Va, di dunia nyata juga, bukan?”

Akhirnya aku berhasil mengalihkan perhatian Ryan sebentar. Ketidak sengajaanku mengucapkan kata ‘terorisme’ menghasilkan Ryan yang mengoceh panjang lebar soal sejarah terorisme dan teori-teorinya selama kami makan. Not a fun topic, but at least he stopped taking pictures for an hour.

Sambil makan aku memperhatikan ekspresinya yang selalu sama setiap kali membicarakan hal-hal seperti ini. Matanya berbinar-binar dan begitu ekspresif, seolah sedang membicarakan hal lain yang tidak menyeramkan sama sekali.

Orang yang aneh.

Tapi satu setengah jam kemudian, kembali di Leeds dan tiba di Kirkstall Abbey, tentu saja Ryan sudah kehabisan bahan soal terorisme dan aku sudah kehabisan pertanyaan untuk membuatnya terus bicara, jadi perhatiannya kembali pada sang kamera kesayangan.

Puing-puing bangunan tua yang dulunya adalah biara untuk suatu ordo Katolik bernama Cistercians ini pernah kudatangi tiga tahun lalu, pertama kali aku tiba di Leeds. Kirkstall Abey yang ada dalam ingatanku tidak jauh beda dengan apa yang kulihat sekarang. Bedanya hanya dahulu aku ada disini pada saat mendung, kali ini matahari bersinar cerah, membuat warna hijau rumput dan pepohonan yang menjadi latar puing-puing tersebut menjadi jauh lebih hidup. Tentu saja ini membuat Ryan sang fotografer kegirangan. Dia terus menerus menyuruhku untuk ‘coba berdiri disana’, coba duduk disitu’, dan ‘coba nyender di pilar itu’ sambil terus memotret-motret. Yang terakhir soal pilar langsung ku tolak mentah-mentah, “Kamu mau bikin foto saya dengan konsep tahun sembilanpuluhan apa??”

“Bukan.” Jawabnya menahan tawa, “Konsep gadis sampul tahun sembilanpuluhan.”

“Kurang ajar.” Makiku sekali lagi menyesali kegoblokanku dahulu menceritakan bagaimana acara model-modelan itu menurutku adalah eksploitasi perempuan yang keterlaluan pada Ryan. “Saya nggak ngerti kenapa tempat ini begitu berarti buat kamu, by the way. Puing-puing kaya gini kan ada juga di York…”

“Iya, tau.” Kata Ryan sambil mengutak-ngatik sesuatu di kameranya sebelum berjalan ke pintu masuk untuk memotret keseluruhan lorong panjang tempat kami sedang berdiri. “Emang kenapa?”

Aku mengangkat bahu, “I don’t know…Cuma aja seindah-indahnya tempat ini, belum cukup untuk bisa dijadikan argument melawan statement saya bahwa Leeds sucks.”

“Iya, tau.”

“Lah, trus? Katanya tadi mau nunjukin ‘what makes Leeds beautiful’?”

“Sabar deh, saya kan nggak bilang bahwa what makes Leeds beautiful itu cuma satu tempat!” tukas Ryan gemas, “Bawel.”

Aku manyun, “Astaga, jadi bakal berapa lama kita muter-muterin Leeds?”

“Masih lama.” Jawabnya pendek.

“Hah! Dan kamu pasti akan menggunakan alesan ‘but it’s my last day here’ setiap kali saya cape.”

Ryan tidak menjawab.

“Whatever, saya yakin at the end of the day pasti saya bakal masih mikir Leeds sucks.” Desahku.
Perhentian berikutnya adalah Leeds city museum, yang harus kuakui memang bagus dan adalah satu dari sedikit hal yang kubanggakan dari Leeds. Dibangun tahun 1862, Leeds city museum pernah mengalami kerusakan parah karena serangan udara pada perang dunia kedua. Dua dari tiga mumi yang dimiliki museum tersebut hancur tak bersisa, menyisakan hanya satu mumi di bagian Ancient Worlds di lantai paling atas.

“Kenapa sih kamu suka sekali bagian ini?” tanya Ryan selagi kami, untuk entah keberapa puluh kalinya, menyusuri Ancient Worlds section.

“Karena disinilah pertama kalinya saya melihat wajah dia.” Ujarku menunjuk sculpture mini wajah Dynosius.

Ryan menatapku geli, “The God of Wine, tentu saja.”

Aku ikut tertawa, tanpa sengaja teringat suatu sore empat bulan yang lalu.

“Kamu kenapa sih, Va? Pucet.”

“Sakit kepala.”

“Terlalu stress, tu pasti.”

“Mungkin. PMS juga sih.”

“Minum obat sih.”

“Nggak mau. Saya nggak suka pain killer. KIMIA.”

“Mau ke tempat saya, saya masakin?”

“Nggak.”

“Kenapa?”

“Karena saya lagi sakit kepala dan saya cranky. Kalau saya ke Kelso, saya bakal harus nemuin teh Dayce, Kang Kemal, Arrya sama Beni.”

“Ya iyalah since they live there also.”

“IYA! Tapi itu berarti mereka bakal kena efek cranky saya dan saya nggak mau bikin mereka bete.”

“Tapi kalau bikin saya bête nggak pa-pa?”

“Ya kalo nggak mau ikutan bete NGAPAIN ADA DISINI! Sana pergi.”

Satu jam kemudian Ryan datang ke perpustakaan, menyeretku keluar dan duduk di taman, lalu mengeluarkan wine Domini Veneti kesukaanku dan berkata, “Kalau minum obat nggak mau, dimasakin nggak mau, setidaknya minum ini sedikit bakal bikin sakit kepala kamu mendingan kan.”

“Satu botol? Saya kan udah bilang saya suka wine tapi nggak suka mabuk.”

“Ya ini kan buat barengan, Ava. Lagian kamu nggak usah abisin, saya cuma pengen liat aja apakah ini bisa meredakan sakit kepala kamu atau nggak.” Dia lalu mengeluarkan dua gelas wine dan menjelaskan sebelum aku sempat bertanya, “Jangan komentar, yang punya abnormally high appreciation to wine disini adalah kamu, bukan saya. Yang bilang bahwa minum wine dari gelas plastik adalah ‘big crime’ disini adalah kamu, bukan saya. Jadi satu-satunya alasan kenapa saya repot-repot bawain dua gelas ini kesini sekarang adalah kamu, bukan saya.”

“Thanks.”

“That’s ok. This is what friends are for.”


“Va.” Panggilan Ryan mengembalikanku ke masa kini.

“Yeah?”

“Mau ngopi di bawah?” ajaknya. Ryan adalah satu dari sedikit orang yang bukan saja tidak menganggap kecanduanku pada kopi sebagai sesuatu yang aneh, tapi juga sanggup mengimbangiku.

“Di the Tiled Hall aja yuk?” ajakku.

Ryan mengangguk dan sepuluh menit kemudian kami sudah duduk berhadapan dengan secangkir cappucinno untukku dan Americano untuknya, di dalam sebuah salah satu café favoritku di Leeds. Cafe ini terletak di dalam Leeds city library yang jaraknya hanya sekitar seratus meter dari Leeds city museum, dengan interior klasik khas Inggris yang dipertahankan sejak dibangun tahun 1884. Aslinya ruangan tempat aku dan Ryan duduk sekarang adalah ruang baca, sempat dijadikan ruang pameran sculpture, dan akhirnya menjadi cafe sejak tahun 1999. Tebak darimana aku tahu sejarah The Tiled Hall? Tentu saja dari laki-laki yang sedang duduk dihadapanku ini, yang sedang menyenandungkan lagu entah apa sambil menyesap kopinya.

Aku melawan matanya yang intens menatapku selama beberapa menit, “Apa?”

“Judes.” Komentarnya.

“Banyak komentar.” Balasku. “Lagian kamu ngeliatin saya gitu amat, horror. Awas kalau mikirin yang jorok-jorok.”

Ryan terkekeh, “Dosa lho berprasangka buruk terus.”

“Mikirin yang jorok-jorok juga dosa.”

“Yeh siapa yang mikirin yang jorok-jorok orang lagi mikirin makanan.”

“Heh dasar kurang ajar, ngeliatin saya malah mikirin makanan!” makiku kesal. “Pasti mau nyeret saya ke tempat sushi itu lagi kan? OGAH!”

Tatapannya melembut, “Nggak kok. Kita ke Tong Palace aja.”

Aku terkejut, “Well, well...rencana pulang bisa membuat seseorang berubah begitu drastis deh. Nice! Saya bahkan nggak usah memohon-mohon dulu buat bikin kamu mau makan disana! PERFECT!”

“Kamu beneran nggak suka sushi, emang, Va?”

Untuk seribu satu alasan, kopi yang kuminum masuk ke jalur yang salah, membuatku tersedak. Alasan terbesar adalah pertanyaan Ryan barusan, tentu saja.

Ryan memijit tengkukku, “Va, are you okay?”

Aku mengangguk sambil menghapus air mata yang bercucuran.

Lalu Ryan tidak berkata apa-apa lagi dan aku tahu dia menunggu jawabanku. Detak jantungku sedikit mengencang sembari aku menimbang-nimbang apakah kali ini, setelah sekian lama aku selalu menghindar, harus kuhadapi pertanyaannya.

Sejak aku tahu profesinya, lalu kemudian sifatnya, aku tahu takkan butuh waktu lama untuk Ryan mengetahui latar belakangku. Mengetahui siapa aku, keluargaku, sekolahku, profesiku dahulu, dan tentu saja cerita tentang Rei. Sejauh apapun jarak antara Inggris dan Indonesia, untuk mengetahui berita tentang seseorang tidaklah sesulit itu, apalagi ditunjang dengan keahlian seperti yang dimiliki Ryan. Aku tahu dia tahu, hanya aku tidak pernah tahu sejauh mana dia tahu, dan rasanya aku tidak mau tahu sejauh apa dia tahu.

Aku menatapnya lama dan tidak juga bisa memutuskan apa yang harus kulakukan sampai kudengar suaraku sendiri berkata, “Nggak, saya suka sushi kok.”

Jangankan Ryan, akupun terkejut menyadari langkah besarku ini. Bisa kulihat otot-otot rahangnya mengeras karena tegang dan dia menelan ludah dua kali sebelum mengajukan pertanyaan berikutnya, “Dan kamu juga suka Moonpools?”

Sedikit, tapi bisa kudengar suaranya bergetar.

Aku mengangguk, “Cut it off, Yan. You know everything. Why don’t we just talk about it as it is?”

Diam.

“Why don’t you talk about it as it is, for a change?” ujar Ryan akhirnya.

Aku menghela nafas, nyaris tidak percaya bahwa aku akan benar-benar mengatakannya, “The only reason why I hate sushi and moonpools is because they remind me of the love of my life who died three years ago.”

Lama sekali sampai akhirnya Ryan berdehem, aku tidak bergerak, hanya menunggu apa kira-kira yang
akan dikatakannya.

“Jadi...”

Ryan berhenti sejenak dan aku harus berusaha keras untuk tidak menepak kepalanya dan berkata ‘NGOMONG CEPETAN JANGAN LAMA-LAMA!!’ seperti biasa.

“Jadi kamu juga sebetulnya suka di foto ya?”

Nada menggoda dalam suaranya membuat tawaku meledak dan aku benar-benar menepak kepalanya kali ini, “Monyet!”

Ryan ikut tertawa, “Lho, kan saya cuma nanya!”

Aku meneguk kopiku dan menghela nafas lagi, “Nggak. Sumpah. Saya nggak suka di foto.”

Sepertinya dia tidak mengerti bahasa Indonesia karena Ryan masih tetap membidikku dengan kameranya.

“Ryan, saya beneran nggak suka di foto.”

“But it’s my last day here!”

Aku menggeram, “Ya udahhhhhhh, terserah!”

Sampai kopi kami habis Ryan masih tetap memotret-motret dan aku tidak terlalu mempedulikannya.

Otakku terlalu sibuk memikirkan pembicaraan kami barusan, ternyata sesuatu yang kutakuti selama ini tidaklah semenyeramkan itu. Baik reaksi Ryan maupun perasaanku, ternyata tidaklah seburuk yang kukira. Tidak kusangka akan ada harinya dimana aku bisa bicara tentang apapun yang kualami tiga tahun lalu tanpa tersedu-sedu.

Tentu saja aku masih merasakan perih yang begitu familiar di ulu hatiku, nafasku masih sedikit berat mengingat sosok itu dan istilah ‘merelakan’ belum sepenuhnya bisa kupahami lebih baik dari istilah ‘menyesali’. Mataku masih terasa panas dan harapan untuk bertemu Rei lagi masih terasa jelas.

Dan parade penyiksaan ini masih ditutup dengan perasaan paling menyakitkan diatas semuanya: perasaan tidak berdaya, menyadari sepenuhnya bahwa aku tidak bisa melakukan apa-apa. Sebagaimanapun aku masih merindukan dia, sekeras apapun aku mintakan kembali kehadirannya, Rei sudah tak ada.

Semua masih sama.

Hanya saja kali ini tidak ada air mata yang jatuh, dan ini adalah kemajuan yang berarti. Mungkin karena Ryan juga tidak memaksaku untuk memberi penjelasan lebih jauh soal hal itu dan malah melontarkan joke bodoh yang seolah tidak pada tempatnya. Joke bodoh yang sesungguhnya sangat-sangat pada tempatnya.

“Kalau Tong Palace?” pertanyaan Ryan membuyarkan pikiranku. Tanpa kusadari kami sudah berdiri di hadapan restoran cina favoritku itu di Vicar Lane road.

“Kalau Tong Palace...?” ulangku bingung. “Kamu ngomong apa sih?”

“Could Tong Palace be a good enough reason to change your statement about Leeds?” Tanya Ryan.

Aku berpikir sebentar, “Tong Palace could change ‘sucks big time’ to ‘not too bad’, but I definitely won’t change it to ‘beautiful’.”

“You are just hard to please.”

“Indeed.” Jawabku singkat dan masuk ke dalam, langsung memesan seporsi roast duck, kangkung cah bawang putih dan nasi begitu duduk.

Tough one sebetulnya, “Tong Palace akan masuk lima besar kalau saya harus bikin list alasan saya bisa bertahan disini sampai hari ini. This place would be one of my heroes.”

Ryan mengangguk tanpa melepaskan pandangan dari kameranya, tetap memotretku dari tempatnya duduk, “Sama, saya juga.”

Pelayan datang membawakan pesanan kami dan Ryan menyapa, “Excuse me, could I have a small plate of chopped chilli?”

Tanpa bisa kutahan aku tersenyum, tahu bahwa dia meminta cabai rawit itu untukku, “Makasih ya, so sweet deh.”

“Makasih ya, so sweet deh.” Dia mengulang ucapan terimakasihku dengan mengesalkan.

Aku melotot dan mencondongkan tubuhku ke arahnya sambil mengangkat tangan kananku, mengancam hendak menepak kepalanya lagi. Ryan hanya terkekeh dan berkata, “Don’t.”

“Why not?”

“Because I’m sweet and you like me.”

Aku menghela nafas dan bersandar kembali, “Yeah, I kind of like you.”

“I never try to find out about it, you know.” Balasannya sungguh tidak relevan.

Tapi aku mengerti apa yang dia bicarakan, “Really, why? That doesn’t sound like you.”

Ryan mengangkat bahu, “Saya suka mencari tahu, memang. Tapi saya juga termasuk orang yang sangat mementingkan narasumber...Dan dalam hal ini, saya nggak mau tau apapun kecuali dari kamu.”

Aku terdiam agak lama, “Apa yang kamu pengen tau?”

“Apapun yang menurut kamu perlu saya tau.”

Aku mengangguk, “Oke.”

Lalu diam lagi.

“Nggak harus saya kasih tau semuanya sekarang, kan?”

Ryan menggeleng, “Nope. Take your time.”

“Again, that doesn’t sound like you.” Entah kenapa aku malah ingin mengomentari pengertian dari Ryan yang harusnya kusyukuri. Kalau saja dia ngotot seperti biasa sudah sejak tadi pertengkaran ala sinetron terjadi antara kami.

Ryan memutar matanya dan tidak menjawab, hanya menghirup Chinese tea yang dituangkan pelayan barusan setelah meletakan piring kecil berisi potongan cabai ditengah meja.

Berdua kami mengawasi boneless roast duck, king prawn in salt and pepper, dan tumis kangkung yang mengepul. Aku sangat ingat rasa dari setiap jenis makanan ini, semuanya kesukaanku.

“Makan gih, nggak usah pura-pura ber manner.” Komentar Ryan.

Aku menendang kakinya, “BAWEL!” dan mulai makan, tidak memedulikan tawa cekikikannya yang mengganggu.

Dia benar-benar behave, sampai selesai makan malam tidak ada sedikitpun desakan darinya untukku memberikan penjelasan lebih jauh soal Rei. Akhirnya aku meletakan sumpitku dan menatapnya tanpa berkata-kata.

Ryan menyadari tapi tidak berkomentar apapun, hanya melawan tatapanku sebentar sebelum kembali berkonsentrasi pada makanannya. Dia adalah satu dari sedikit orang yang tidak pernah gentar diserang tatapan sadisku.

“If.” Aku memulai.

Ryan meletakan sumpit, menyeka mulutnya menggunakan serbet, meminum seteguk chinese tea dan berkonsentrasi padaku.

“If you really need to know, I rather to let you look for the information by yourself.”

Ryan tidak menjawab apa-apa.

“Go ahead, I’m giving you my permission.” Tambahku.

Masih tidak ada reaksi darinya.

“Saya nggak bisa…Belum.” Aku mengoreksi pernyataanku, “Belum bisa cerita apapun lebih dari yang udah saya kasih tau. Walaupun itu mungkin penting buat kamu.”

Ryan menggeleng cepat, tersenyum samar, “If that’s the case, then it’s not that important for me.”
Jawaban yang tepat, dan entah kenapa aku percaya dia memaksudkannya.

Aku jadi tak punya kata-kata.

“Ava?”

“Ya?”

“Yuk?”

Aku mengangguk dan mengenakan coat cashmere cokelat tuaku sambil mengumpulkan kesadaran melalui berapa helaan nafas.

“Sekarang kita ke LS 6.” Ujarnya.

Sambil mengenakan syal merah oleh-oleh dari Ryan tiga bulan lalu waktu dia jalan-jalan ke Liverpool aku tertawa, “Ini mau wisata kuliner ya, mas?”

“Yehhh, sepanjang yang saya tau kamu itu sesudah makan maunya minum kopi. Trus katanya di Leeds tempat kopi enak cuma ada empat: the Opposite, the tiled Hall, Lento sama LS6. Betul?”

“Ya iya sih, trus kenapa nggak ke Lento aja?”

“Udah tutup. Lagian disana nggak ada bir, kalau saya abis makan kan maunya minum bir. Nah, LS6 itu solusi yang tepat buat kita berdua, kamu dapet kopi, saya dapet bir. Semua senang.”

“Bla..bla..bla..” tukasku. “Terserah.”

Diluar, Ryan hampir menyalakan rokok waktu aku menggeram, “Don’t.”

“Why?”

“Just.” Jawabku ngotot. Tanpa bisa kutahan mataku memanas. Because I don’t want anyone else I care about to poison himself with cigarettes.

Lalu dengan takjub aku menyaksikan Ryan memasukan lagi batang rokok tersebut kedalam kotaknya. “Do you really hate my smoking habit?”

Sejenak aku tertegun, mengira-ngira maksud dari pertanyaannya. “Yes, I do.”

“How much?”

“As much as I hate Moonpools and sushi.” Jawabku sewot. “No, I hate cigarettes even more. Far more.”

Ryan mengerti penjelasan implisitku, mengangguk tanpa berkata apa-apa lagi. Sebuah city council taxi berwarna putih muncul di tikungan, Ryan melambai dan membukakan pintu untukku.

Selanjutnya tidak terlalu banyak pembicaraan antaraku dan Ryan. Sesampainya di café bernuansa tujuhpuluhan yang malam ini begitu sepi Ryan menoleh dan bertanya, “Where do you wanna sit? The room full of clocks or the room full of music posters?”

LS 6 terbagi menjadi dua ruangan besar, satu ruangan dengan puluhan jam dinding dan satu lagi dengan puluhan poster musisi Inggris digantung sebagai dekorasi. Aku sesungguhnya suka ruangan dengan poster music dan selalu meniatkan untuk suatu waktu duduk disana, tapi sampai hari ini aku belum juga melakukannya, “The usual one, please.”

Ryan mengangguk, pergi ke bar sebentar untuk memesankan minuman kami dan duduk di meja tempat kami biasa duduk. Sambil mengeluarkan laptopnya Ryan berkata, “Just inform me what not to do, ok? I don’t mind.”

Aku diam. Menakjubkan betapa Ryan tiba-tiba berubah menjadi begitu pengertian sejak dia tahu alasan mendasarku membenci semua hal yang aku benci. Sebelumnya dia selalu mencoba memaksaku duduk di ruangan sebelah, hanya karena dia tahu aku membenci ruangan tersebut. Kali ini tidak ada perlawanan sama sekali, tiba-tiba hubungan kami berubah. Berubah jadi begitu mudah.

“You being this way…” desahku pelan.

Ryan tidak menatapku, tetap berkonsentrasi pada screen laptopnya. Tapi aku tahu dia mendengarkan.

“I could easily fancy you.” Lanjutku.

Matanya berpindah ke arahku. Hanya sekejap. Lalu pergi lagi sambil mengucap, “If only...?”

Aku tersenyum melanjutkan kalimatnya, “If only to get over my past could be that easy.”

Sejenak aku mengira pernyataan tersebut akan memusnahkan kemudahan antaraku dan Ryan yang sejak tadi kunkmati. Tapi dia juga tersenyum dan menjawab, “Easy is not my favourite way.”

Ada perasaan lega yang tak disangka-sangka.

Hening terpecah waktu waitress datang membawa secangkir cappuccino untukku dan satu pint Fruli, bir rasa strawberry, untuknya.

“You can enjoy the silence, don’t worry. I need to work on something anyway.” Ujarnya santai sambil merapikan rambut di keningku.

Aku mengangguk dan membiarkan dia sibuk dengan laptopnya, sementara pikiranku berkelana. Mencerna ide untuk mencoba bersama orang lain sejak perpisahan yang begitu membekas dengan Rei tiga tahun lalu.

Waktu aku memutuskan untuk tidak pulang setelah studiku selesai, Cardo sahabatku menelfon dan kami bicara cukup lama. Dia lalu menutup pembicaraan dengan berkata, “At some point you're gonna have to learn how to move on, Ava.”

Dan puluhan kalimat lain dengan pesan serupa sering menghampiriku sejak saat itu. Mengkhawatirkanku. Mencoba menasehatiku. Lewat e-mail, sms, facebook, telfon, bahkan Jenna sahabatku yang lain sempat datang ke Leeds dan bicara langsung mengenai hal tersebut.

Ide move on tetap terasa absurd untukku. Bukan hanya rasa setia yang ada dalam diriku, tapi juga cinta yang masih begitu besar. Keduanya sungguh tidak masuk akal, tapi begitu jelas keberadaannya. Untuk sekian lama hanya Rei, Rei dan Rei yang ada di pikiranku. Di hatiku. Di hidupku. Ide untuk move on tetap terasa absurd untukku, sampai saat ini.

Keabsurdan itu sedikit menjinak, mungkin karena seseorang bernama Ryan.

Sesuatu menyengat didalamku, perih. Otakku bekerja cepat mengidentifikasi apa yang baru saja menyerangku dengan hasil: Guilt.

Aku bahkan tidak bisa memutuskan apakah campuran dari pengharapan dan rasa bersalah ini adalah suatu kemajuan atau malah suatu kemunduran.

Jeez. It’s not gonna be easy.

“Easy is not my favourite way.”


Tanpa sadar aku terkekeh mengingat jawaban Ryan barusan, membuatnya mengangkat pandangan ke arahku, “If I can promise you that the poster with a grand piano in it is not in there, would you want to move to that other room?”

Aku tercekat untuk dua alasan. Yang pertama adalah karena kesaktiannya untuk bisa tahu poster apa sajakah yang masih ada di ruangan tersebut. Sementara yang kedua adalah karena, “Aku nggak ngerti darimana kamu bisa tahu bahwa poster itulah yang bikin aku males ada di ruangan sebelah.”

“Satu-satunya foto buatanku yang kamu benci adalah foto grand piano yang aku ambil waktu aku jalan ke Florence dulu.” Jawabnya santai. “So, shall we move?”

“Why?”

“Because I want to show you what makes me think that Leeds is beautiful.”

Aku mengerang, “Keras kepala.” Tapi berdiri dan mengikutinya berjalan ke ruangan tersebut. “Janji ya nggak ada poster itu.”

“Iya ah, bawel.”

“Dan aku yakin aku masih akan tetap berfikir Leeds SUCKS big time.”

Kami tiba di pintu yang memisahkan dua ruangan tersebut. Sekonyong-konyong Ryan berbalik menghadapku dan merengkuh bahuku. Pelan dia menuntunku bertukar posisi dengannya hingga aku kini membelakangi ruangan yang akan kami masuki.

Tawa mengejekku terhenti.

Sejenak tidak ada suara sampai dia berkata, “Aku kan bilang what makes ME think that Leeds is beautiful.”

“Ya udah nggak usah ngambek dong, serem deh.” Aku tertawa sumbang, keberadaan kedua tangannya di bahuku membuatku sedikit berkunang-kunang.

Ryan mendorongku sedikit hingga kami sekarang berada di ruangan penuh poster lalu membalikan tubuhku perlahan, “These are what make me think that Leeds is beautiful.”

Semua poster musik sudah tidak ada di dinding-dindingnya seperti biasa. Foto-fotoku yang Ryan ambil sejak kami saling kenal sebagai gantinya. Dalam berbagai ukuran, memenuhi tiga sisi ruangan tersebut.



“Ryan.” Aku menghela nafas.

“Belum selesai.” Ujarnya lalu mendudukanku di satu-satunya meja yang ada di tengah ruangan dan melakukan sesuatu di pojok ruangan. Aku menatap satu persatu foto-foto di dinding dengan perasaan yang begitu penuh dan menyesakkan.

Satu menit kemudian dia mematikan lampu, dan slide hasil jepretannya hari ini muncul di space kosong yang disisakannya di dinding di hadapanku. The Opposite, Bettys café, York, Kirkstale Abbey, Leeds city museum, the Tiled Hall café, Tong Palace, dan LS6. Denganku di dalam setiap foto-foto tersebut.

Bermenit-menit aku hanya diam, membiarkan beberapa tetes membebaskan diri memburamkan pandanganku. Mendengarkan detak jantungku yang tak beraturan. Mensyukuri lengan Ryan yang melingkari sandaran kursiku. Cukup dekat untuk menenangkanku, tidak terlalu dekat untuk menakutiku.
Hingga slide habis aku masih diam. Tidak ada isakan sama sekali, tapi kedua mataku basah, terasa perih dan panas.

Akhirnya, “Kamu nggak pake lagu sekalian sebagai backsound biar kaya film Hollywood?”

Ryan terkekeh.

“Lagian kamu sakti amat sih bisa bikin ini café membiarkan kamu ngelakuin ini? Dasar jurnalis, tukang lobi-lobi semua orang!”

Tidak ada jawaban selain tawa pendek yang sedikit mengejek. Mungkin mengejek ketidakmampuanku memberikan reaksi yang pantas di momen romatis seperti ini.

Aku tidak peduli, “Dasar sinetron. Beneran deh…Foto-foto saya, infocus pula…Duh, niat amat. Kenapa nggak sekalian pake lagu apa gitu kek yang romantis biar kaya di film-film?”

Tidak ada tawa lagi dari Ryan. Aku menoleh hendak menantang matanya yang kuyakin sedang menatapku dengan pandangan mengejek khas dia.

Tapi ternyata Ryan tidak sedang menatapku melainkan space kosong di dinding yang tadi digunakannya untuk memutar slide. Sesuatu dalam pandangannya membuatku diam.

Lama.

“I’m sorry. I just didn’t know what to say.” Ujarku pelan. “Really, this is ver..”

“And you don’t have to say anything.” Potongnya tenang. “The loud silence, Ava.That’s why there was no song. Nggak selamanya kita butuh musik.”

Detak jantungku mulai teratur.

“Ataupun kata-kata.” Lanjutnya.

Hatiku mulai terasa hangat. Kubiarkan hanya dia yang bersuara.

“Diam yang sederhana, diam yang menerima, untukku itu jauh lebih bermakna.”

Aku menyandarkan bahuku yang tidak lagi tegang.

“Untuk ada. Itulah yang terpenting diatas semuanya.”

Aku menyentuh tangannya yang melingkari sandaran kursiku, untuk merengkuhku dengan sebenar-benarnya.

Lalu sebelah tangan Ryan di bahuku terasa ada di tempat yang seharusnya.

“And keep this in mind:”, pintanya,”‘Easy’ is never my favourite way.”





Leeds, September 2009.

Some Laughters

IPE July 6, 2011
We. Do. Foosball.
[pic of: yoshife]

Monday, July 04, 2011

Sepertinya ada yang tersisa

entah apa.

mungkin atas nama masa laluku yang pernah (hampir) percaya.
Sepertinya ada yang tersisa
meski sudah begitu diam tanpa suara.

Dan habis sudah ribuan kata

bukan karena kau pernah coba memanipulasi jiwa
bukan karena kau bisa dan mau memahat siksa
bukan karena kau enggan berusaha
tapi kebohonganmu yang lama, yang kau kira takkan terbuka.

Keyakinan yang sekarat tinggal sejengkal di pinggir jurang
Terjun bebas bisikkan dongeng yang (terlalu) sering terulang

"Seandainya kau berani jujur, sayang."


Thursday, June 30, 2011

Rewind.

Sekali lagi hari ini.

Membaca baris-baris dari jemari
Membayangi langkah-langkah kaki
Sehari demi sehari yang masih sunyi
masa lalu yang masih dapat bernyanyi

Tujuh nada yang benama satu:

K A M U

Merapikan ruang inipun berarti rindu
Susunan kata demi kata berlapis debu
dan kau dalam benak yang tak juga lalu
dan kau dalam jiwa yang masih begitu.

rindu berlapis debu kau dalam benak dalam jiwa tak lalu dan masih begitu

[lunch conversation w/ a good friend]

Friday, June 24, 2011

Self.


Maafkan dirimu, bisa relakan hati tak bahagia karena satu alasan saja: tak tenang lihat air mata

Maafkan dirimu, bisa tulikan telinga dari bunyi paling bening yang pernah ada: Suara jiwa.

Maafkan dirimu, bisa lupa lukisan yang susah payah tercipta bukan dalam satu hitungan senja: Lukisan berjudul "cita-cita"

Maafkan dirimu tak tinggal meski pernah bertemu dia-mengira slalu ada kesempatan kedua untuk bersama. Tak ingat bahwa hidup sering tak berjalan sesuai rencana.

Maafkan dirimu yang kecewa.
Maafkan dirimu yang kecewa.
Maafkan dirimu yang kecewa.

Wednesday, June 22, 2011

I'll come home soon, will you be there?

Kalau memang sehebat itu kau menyusun puzzle coba susun potongan-potongan cerita kita yang berserakan. Mulai dari pinggirannya, atau dari tengah tempat objek favoritmu berada: Matahari terbenam yang selalu kita panggil senja. Atau dari pinggir atas langit kelabu yang entah kenapa begitu sering kurindu. Dan berjanjilah jangan menyerah. sebelum semua garis tersamar rapi, sebelum semua titik bersambung arti.

jangan berpesan agar ku tak dengar hati
jangan berpesan agar ku henti bermimpi

dan "tak mungkin" itu hanyalah kesalahan masa lalu
dariku darimu dari kita dan akal sehat yang belum tentu

Menunggumu dan aku untuk mau tahu:
Kekonyolan termutakhir adalah jika kita lupakan cerita dulu
Tak menyelesaikan puzzle dan berpura-pura tak mampu
Padahal kita tak perlu mampu. Kita hanya perlu mau.

Don't you think so, You?


So let's not. Let's not surrender now.

Saturday, June 18, 2011

Let's Go to LIV and listen to BeatleSStory

I regret although just a little bit. There should be no fear at all when it comes to love they said. Yet there was fear, not much but enough to hold my steps. Not much but enough to make true this particular moment: When I wish for Autumn, I really really do.