Thursday, January 27, 2011

5 p.m.

Ada saat-saat dimana kita dipaksa curiga bahwa indera ke-enam itu ada.

Adriana menekan tombol ‘enter’ di Onyx putihnya dan mengangkat kepala, kembali berpura-pura memperhatikan wajah kedua orang yang duduk berhadapan dengannya di café Canteen Pacific Place sore itu. Ia tampak berkonsentrasi menyimak kata demi kata yang disampaikan salah satu dari mereka, lelaki separuh baya berkemeja batik.

Erland yang sangat mengenal anak sulungnya itu yakin, ekspresi serius di wajah Adriana adalah sesuatu yang dibuat-buat.

Eskpresi serius yang sangat penuh kepura-puraan.

Toh Erland tetap menyampaikan kalimat demi kalimat wejangan tersebut, demi meminimalkan resiko friksi yang mungkin terjadi jika komunikasi antara Adriana dan ibunya terjadi tanpa dijembatani terlebih dahulu.

Baru jam 5 sore udah ngomongin indera ke enam. Gue kira lo orang yang rasional dan sangat percaya kebetulan. *nyindir*

Adriana terkekeh sedikit membaca balasan dari Naila di Blackberry Messengernya. Perdebatan yang berlangsung sudah lama, antara Naila yang selalu berkata ‘I don’t believe in coincidence’ dengan Adriana yang selalu dengan santai membalas ‘I do, shit happens. ‘

Tapi gue harus mengakui, walaupun SANGAT JARANG, tapi ada saatnya dimana gue merasa gue punya indera ke-enam.

Kapankah itu?

Sekarang. Saat gue duduk berhadapan sama nyokap-bokap, indera keenam gue mengatakan bahwa sebentar lagi kata ‘K’ akan segera dikeluarkan.

Yah, itu sih bukan indera ke-enam tapi logika!

HEY! Apa tuh maksudnya?

Well, lo kan cewek, ampir 30, belum punya pacar dan…Lo sedang duduk di depan bokap dan nyokap lo nan vintage nya minta ampun. Lo mau ngarep apa lagi coba? Ngarep mereka ngomongin indeks harga saham?

Adriana terkekeh lagi.

Muke lo tu vintage.

“Adriana,” suara dalam Tonia, sang ibu, dengan instan mengakhiri kebahagiaan Adriana yang langsung meletakkan Blackberry nya di atas meja. “Kamu nggak bisa ya dengerin Ayah kamu ngomong sebentar aja?”

“Bu, sepertinya kita punya definisi yang berbeda deh soal kata ‘sebentar’. Sebentar buat aku itu berarti 10 sampai 15 menit. Sementara buat ibu, mungkin…,” sekilas Adriana melirik jam yang melingkar di pergelengan tangan kirinya, “…45 menit itu masih tergolong sebentar.”

“Poin kamu?”

“Betul sekali!” Adriana menjentikan jemarinya penuh semangat, “Itu maksudku, segera masuk ke poin pembicaraannya aja, nggak usah bertele-tele.” Lalu ia memberikan pandangan minta maaf pada Erland, “ Maaf ya, Ayah.”

Erland tersenyum geli, malah Tonia yang tampak tersinggung karena kekasaran Adriana.

Adriana menghela nafas melihat reaksi ibunya, “Ada apa sih, bu?”

Tonia tidak segera menjawab, melirik Erland yang tidak menunjukan tanda-tanda akan menyampaikan ‘poin’ pertemuan mereka sore itu. Erland yang dengan berat hati memberi kata pengantar sudah menegaskan bahwa dia tidak akan mengambil peran antagonis dalam diskusi yang direncanakan istrinya ini.

Hampir setengah menit lamanya tidak ada yang bersuara, sampai Adriana habis kesabaran sendiri, “Okay, untuk mempersingkat waktu anda-anda, juga karena aku ada meeting sejam lagi di kantor, gimana kalau aku yang bicara? Setuju?”

Tanpa menunggu jawaban Adriana melanjutkan dengan tenang, “Aku tidak sedang dalam hubungan dalam bentuk apapun dengan siapapun dan dengan demikian tidak juga memiliki rencana untuk menikah. Apalagi punya anak. Atau..Well, sebetulnya punya anak menarik juga, kalau aku bisa punya anak tanpa menikah sih...”

Wajah Tonia pucat pasi sehingga Adriana cepat-cepat melanjutkan, “Tapiiii, tentu saja tidak akan kulakukan karena aku tahu ibunda dan ayahanda akan pingsan-pingsan kalau sampai itu terjadi."

Sepi.

“Sampai kapan kamu mau main-main terus, Dri?” ibunya memecah kesunyian.

“Main-main?” Adriana mengulang istilah yang digunakan ibunya, pelan. Tampak jelas mood bercanda yang tadi mendominasi sudah hilang sama sekali. Matanya bersinar-sinar menantang tatapan Tonia. “Masih mau menggunakan istilah ‘main-main,’ bunda?”

Tanpa sengaja Erland menahan nafas, penggunaan kata ‘bunda ‘ oleh Adriana bukanlah pertanda baik.

“Hanya karena aku bekerja keras, mengurus diriku sendiri, bahkan mengurus adik-adikku, bukan berarti aku main-main, bunda.”

Sarkastik. Pertanda kesabaran Adriana hampir habis.

“Hanya karena aku bahagia dan bertanggung jawab atas hidupku sendiri, bukan berarti aku main-main.

Erland bisa merasakan Tonia mulai jengah, duduknya mulai gelisah.

“Hanya karena aku tidak menikah, bukan berarti aku main-main,” Adriana menandaskan.

“Kamu bisa kan nggak sekurang ajar ini sama orang tua?” setelah beberapa lama Tonia bersuara.

Adriana tertawa sinis. Klasik, ibunya selalu memilih sudut lain untuk diributkan saat dia sudah kehabisan argumen,”Orang tua yang punya anak kurang ajar harusnya introspkesi, bunda. Mungkin mereka sendiri yang bikin anaknya kurang ajar.”

Melihat wajah Tonia yang merah padam, Adriana merasakan sedikit rasa bersalah.

Tapi seperti biasa, ibunya selalu bisa mengenyahkan rasa bersalah Adriana dalam sekejap, “Semoga nggak terlalu banyak orang tua yang dapat cobaan punya anak kaya kamu!”

Adriana mengangkat mug berisi vanilla latte dan menelan satu tegukan besar, lebih untuk menutupi kedua matanya yang seolah terbakar. Ibunya memang paling tahu cara menyakiti Adriana. Dalam hati dia terkagum-kagum, bagaimana sesuatu sesejuk air mata bisa begitu panas terasa.

Adriana mendengar derit kursi dan sewaktu ia menurunkan mugnya, sang ibu sudah beranjak pergi dari kursi yang tadi diduduki. Lagi, klasik. Jika segala cara sudah tidak mempan, ibunya akan pergi dengan dramatis. Tindakan yang menurut Adriana sama sekali tidak bertanggung jawab.

Adriana menatap Erland yang kemudian menyentuh lengannya, “Tunggu sebentar ya.”

Adriana mengangguk.

Hore emak gue storm out dong dari café ini. Heboh deh.

OH NO! Berantem lagi? Bener ya bok doi ngomongin kawin?

Yeah.

:(

I know. Dia kagak tau laki-laki jaman sekarang ancur semua.

Ceweknya juga.

Lo kali yang ancur, gue sih nggak.

GYAHAHAHA. GOBLOK!

Kira-kira limabelas menit kemudian Adriana mendapati ayahnya kembali.

“Ibu di salon?”

Ayahnya mengangguk, “Seperti biasa, menenangkan diri.”

“Maaf ya, yah,” permintaan maaf dari Adriana itu terdengar tulus, tidak ada nada bercanda sama sekali

Erland mengangguk, “Ayah juga minta maaf.”

“Bukan salah ayah juga kan.”

“Tetap saja.”

“Siapa yang kawin kali ini?” Tanya Adriana lagi, kepanikan ibunya pasti dipicu pernikahan seseorang.

“Dwitya,” Erland tertawa kecil, “Awal tahun depan.”

Adriana mengangguk pelan, keheranan mengapa dia belum juga terbiasa menerima kepanikan ibunya yang sudah dimulai lima tahun yang lalu. Setiap kali Tonia mendengar rencana pernikahan anak temannya, atau siapapun yang seumur dengan Adriana, ia akan mengalami serangan panik yang semakin lama semakin berlebihan. Sekarang Dwitya, adik sepupunya yang dua tahun lebih muda dari Adriana, akan menikah. Pantas saja Tonia seperti kebakaran jenggot.

“Dri,” panggil Erland, “Ibu mikir kamu sengaja melakukan ini untuk bikin dia stress.”

Berdehem, Adriana menunduk sebentar, “Keputusanku berdasar kok, yah…Kesempatan untuk bikin ibu naik pitam cuma sekedar bonus.”

Erland tidak bisa tidak tertawa, “Kamu ini.”

Adriana mengawasi laki-laki yang teramat disayanginya itu. Setiap kali kesabaran menghadapi Tonia habis, Adriana selalu bersyukur bahwa paling tidak ayahnya tidak pernah ikut-ikutan gila. Naila berkomentar bahwa cara berpikir Adriana itu sangat jawa, selalu mencoba melihat sisi positif dari segala situasi. Adriana selalu menjawab “Biar aja, orang jawa kan memang bijaksana.”

Sekonyong-konyong Adriana merasa ayahnya berhak tahu apa sebetulnya dibalik keinginan Adriana untuk tidak menikah dulu, “Yah.”

“Hm?”

“Beberapa kali aku sempat hampir memutuskan untuk nikah aja sih…”

Erland menegakkan punggung, mencondongkan tubuh ke arah Adriana tanpa mengatakan apa-apa.

“Tapi aku belum yakin aja,” lanjut Adriana.

“Karena mereka brengsek semua?”

Adriana tertawa, “Yahh, banyak yang brengsek sih emang. Tapi yang baik ada juga kok…”

Sejenak mereka terdiam. Adriana memikirkan bagaimana cara menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan sementara sang ayah menebak-nebak apa sebetulnya yang ada dalam benak anak perempuan kesayangannya itu.

“Yah,” panggil Adriana pelan, “Nikah itu, harus berdasarkan perasaan yang serius dan eksklusif kan ya?”

“Eh?” ayahnya mengerutkan kening, “Perasaan yang serius dan eksklusif?”

Adriana mengangguk, kebingungan mencari cara untuk menyampaikan maksud pada sang ayah, “Itu lho…”

“Mmmm…Apa sih Dri, ayah betul betul nggak ngerti.”

“True love,” dengan nada terpaksa Adriana mengucapkan juga dua kata yang entah kenapa selalu membuatnya geli sendiri. “Perasaan yang esklusif dan serius, kan?”

“Astaga,” Erland tertawa, “Kamu itu mau ngomong cinta sejati kok ya repot amat.”

Adriana bergidik, “Yaelah apalagi itu deh ayah! Terlalu sinetron!”

Erland tertawa lagi.

Adriana menghela nafas panjang, “Inget tante Viona?”

Tawa Erland terhenti mendengar Adriana menyebut nama almarhum ibunya Naila. Hanya dalam sepersekian detik sinar matanya meredup. Meskipun dia berusaha menampakkan ekspresi datar, Adriana terlalu mengenalnya untuk tahu mana ekspresi datar yang pura-pura dan yang asli.

“Waktu ayah anter aku nengok tante Viona,” Adriana menatap mata Erland dalam, berharap sang ayah tahu bahwa ia tidak bermaksud mengadili, “Ekspresi inilah yang aku liat di wajah ayah.”

Adriana ingat dia terpaku sejenak malam itu di kamar rumah sakit tempat tante Viona dirawat. Cukup lama dia memperhatikan Erland mengunci tatapan pada sosok tante Viona yang terbaring setengah sadar.

Dalam.

Menyesakkan.

“Tatapan ayah waktu itu begitu…,” Adriana menyelesaikan kalimatnya dengan helaan nafas panjang.

Diam.

Kemudian Adriana bergumam, “You love her truly.”

Diam.

“Kamu tahu itu bukan berarti ayah tidak sayang ibumu kan, Dri?” Erland merasa tidak ada pilihan lain selain bicara apa adanya dengan Adriana.

Adriana mengangguk, “Iya, aku tahu, tenang aja.”

“Nggak semua orang bisa mengerti…”

Adriana melanjutkan kalimat Erland yang terpotong, “Bahwa kita bisa menyayangi dua orang dalam satu waktu?”

Erland menganguk, “Menyayangi dua orang dalam satu hidup.”

“Aku ngerti kok, sepertinya…”

“Baguslah.”

Adriana berdiri, pindah ke sebelah Erland dan menyandarkan kepala di bahunya, mencoba memberi pesan tanpa kata-kata untuk menenangkan beliau. Pembicaraan ini tidak dimaksudkan Adriana untuk memojokan ayahnya, sama sekali.

Berhasil, Adriana merasakan ketegangan Erland menurun.

“We went to a same college and we dated, it didn’t work out.”

“Karena beda kasta?” Adriana cukup tahu keluaga Naila yang ningrat sejati.

“Kurang lebih,” Erland tersenyum.

Diam lagi.

“Ada lagi yang kamu ingin tau, Dri?” hati-hati Erland bertanya.

“Nggak. Rasanya aku cukup bisa membayangkan.”

Mereka bertatapan, Adriana merasa Erland tidak sepenuhnya percaya, “Bener kok, nggak ada gunanya juga kan?”

Erland tidak menjawab, tidak yakin bagaimana harus bereaksi.

“Waktu ayah anter aku ke pemakaman, inget?”

Erland mengangguk, ingat permintaan Adriana yang tiba-tiba pagi itu, untuk diantar ke pemakaman Viona. Waktu itu Adriana sudah kuliah dan harusnya bisa pergi sendiri, tapi dengan keras kepala ia meminta ayahnya untuk menemani.

Sekarang Erland menduga mungkin sekali Adriana memintanya datang dengan sengaja.

“Aku nangis nggak berenti-berenti, sebagian karena sedih kehilangan tante Viona dan kasihan pada Naila.”

Adriana menundukan kepala dan menghembuskan nafas panjang, menyentuh pinggiran cangkir kopi dihadapannya, “Tapi terutama sekali karena itulah kali pertama aku melihat ayah nangis.”

Erland terkejut, tidak menyangka bahwa tangisannya yang tanpa suara pagi itu diketahui anaknya. Padahal dia sudah memastikan berdiri di belakang kerumunan, kemudian menjauh dan diam-diam duduk di mobil hingga tangisnya berhenti. Kembali ke lokasi makam, ia mengenakan kacamata hitam yang tidak dilepaskannya hingga mengantarkan Adriana kuliah dua jam kemudian.

Dia ingat Adriana masih terisak-isak sewaktu turun dari mobil.

Waktu itu tanpa bisa Adriana cegah, hatinya juga merasakan perih yang dirasakan sang ayah. Begitu dalam menyayangi seseorang tapi bukan saja harus jauh dari orang itu seumur hidupnya, dia juga harus melihat orang tersebut berlalu tanpa bisa menyentuh atau bicara untuk terakhir kali.

“Aku sayang ayah dan…Merasakan ayah sesedih itu tanpa bisa berbuat apa-apa, betul-betul menyiksa,” ungkap Adriana, pipinya basah.

Erland tertawa salah tingkah,”Kamu ini.”

“Aku serius, yah,”Adriana keras kepala, “You are the best husband and dad, ever. Aku, Rio, Arya dan ibu itu beruntung banget tau nggak..”

Seperti Adriana yang karena terlalu emosional terpaksa berhenti bicara, mata Erland juga mulai berkaca-kaca.

Adriana menegakan tubuhnya dan menyentuh lengan Erland, “Sering aku mikir betapa nggak adilnya ini untuk orang sebaik ayah.”

Erland tercekat.

“Orang sebaik ayah harusnya…nggak usah mengalami kesedihan sedalam itu.”

Lengan Erland bergerak menarik Adriana mendekat, kemudian memeluknya erat. Lalu Adriana merasakan kecupan hangat di ubun-ubun kepalanya.

“Sudah jangan menangis nak,” suara Erland sedikit bergetar. “Ayah aja udah lama rela.”

Adriana berusaha menghentikan air matanya, tidak mau membuat ayahnya jadi tontonan pengunjung lain.

Lalu terdengar lagi Erland bergumam, “Kurang adil gimana hidup ayah, Dri? Punya anak seperti kamu.”

Air mata dan isakan Adriana tidak jadi berhenti.

Lalu setelah nafas Adriana terdengar lebih teratur, Erland mengusap rambut pendek Adriana dan berkata, “Ya sudah lah, kamu cari aja sampai ketemu orangnya. Sampai kamu bisa merasakan sesuatu yang serius dan eksklusif itu.”

Adriana terkekeh mendengar nada mengejek dalam suara ayahnya.

“Jangan melakukan apapun karena itulah yang benar menurut standar ibumu atau ayahmu atau lingkungan sosialmu. Lakukan sesuatu, apapun itu, karena kamu memang mau. Mau berusaha, mau menanggung resiko, mau menerima apapun hasilnya. Bersyukur ataupun berlapang dada akan lebih mudah jika keberhasilan atau kegagalan itu adalah pilihan kita sendiri.”

Adriana mengangguk.

“Sesayang-sayangnya, atau sebenci-bencinya orang sama kamu, hidup kamu ya hidup kamu. Ngerti?”

Adriana tidak menjawab, hanya menghapus air mata, mengecup pipi Erland sekilas dan kembali menyesap kopi yang sudah dingin sambil meraih benda pipih yang tergeletak dihadapannya.

Ada saat-saat dimana kita dengan sendirinya percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Adriana menekan tombol ‘enter’ di Onyx putihnya dan mengangkat kepala, kembali memperhatikan sang ayah yang duduk disampingnya.

Erland yang sangat mengenal anak sulungnya itu yakin, senyum di wajah Adriana kali ini adalah sesuatu yang apa adanya.

Sama sekali bukan pura-pura.

Thursday, January 20, 2011

Forever Forever Remember


Di pagi seperti ini lah kelebatmu tak bisa diberi alasan

Alasan untuk tak kupandangi dalam dan lama, teramat lama

Di kelabu seperti inilah kuminta waktu menari perlahan

Perlahan agar bayangmu tak cepat hilang, menetap disana


Percobaan kesekian memahami keindahan yang tak ragu

Nyeri berdansa rindu, langkah tak ringan, satu persatu

Kau mestinya dipudarkan menit yang tlah banyak berlalu

Kau mestinya tak lagi disini, walau hari begitu abu-abu


Hidupkanlah mimpi yang kau bagi padaku di sebuah senja

Mimpikanlah hidup yang kan kita lukis hingga menyata




Forever, remember?

Friday, January 14, 2011

Pretentiousness

In other words, I only wanna be with you

Sekitar dua puluh langkah yang lalu aku berhenti sesaat dan menimbang,
“Haruskah tetap kucari definisi kebersamaan kita?”
Kenyataan bahwa yang bisa membuatku agak gila hanya kau seorang
Bahwa dihidupku namamu takkan pernah dekat dengan kata ‘lupa’.

Belum pernah perang sepanjang itu demi melindungi diri sendiri
Demi tak menyerah padamu yang lalu tak juga pergi tinggalkan hati
Karenakemudian kau tetap ada.
Tak kemana, tak kemana.

Tak terhitung menit yang habis tuk inginkan kau dekat
Bukan hanya tuk satu masa, tapi sampai cerita tamat
Jauh lebih manis dari hanya sekedar senang sesaat
Yang kupunya untukmu adalah kepedulian yang pekat
Kepedulian yang pekat sungguh teramat sangat.

In other words I love you*
And now, at this very moment:
I only wanna be with you**





* Bart Howard, 1954: Felicia Sanders
**Mike Hawker and Ivor Raymonde, 1963: Dusty Springfield

Saturday, January 01, 2011

Teramat sungguh

...jauh.

Begitu jauh kautulis pesan di angkasa, goresan kata-kata di langit luas.

Tanpa nama, mungkin sengaja. Diam pasti tinggalkan perih-pedas.

Berapa banyak waktu yang kupunya untuk mengertikan ini?

Bahwa kau pilih permukaan tak berujung yang berkilau dan jauh

Daripada membisiki telinga milikku yang mendengarmu tanpa jenuh.