to respect ourself more


Satu buku yang walaupun belum juga selesai gw baca (Sandi buku gw manaaaa.....) tapi sudah menorehkan (halah,menorehkaaaannnn) kesan yang begitu dalam adalah salah satu buku karangan Karen Armstrong. Buku yang buset dah beratnya minta ampun, tapi sangat berhasil membuat gw semakin mengagumi dengan tulus seorang cowok idola gw.

Banyak banget isinya, nggak usah gw ceritain satu-satu, tapi lewat referensi yang membuat daftar pustakanya memakan seperempat bagian dari buku itu, sejarah detail tentang beliau, mengantar gw mengenal beliau lebih jauh.

Seperti yang bisa dilihat dari tulisan-tulisan gw, gw selalu suka love story, gitu juga love story beliaul dengan istri pertamanya. Kenyataan bahwa beliau selalu menjadi partner yang baik buat sang istri pertama itu luar biasa buat gw. Membaca cerita tentang mereka gw jadi semakin yakin sama konsep cinta dan soulmate buat gw: harus dicinta, dijaga, dihargai, dan...hanya satu.

Sikap beliau ditahun dimana akhirnya sang istri pertama berpulang adalah pernyataan cinta dan setia yang agung, lebih dari sekedar kalimat apapun yang pernah gw denger. Perkara sesudahnya beliau menikah lagi, untuk niat yang (kalau orang ini sih gw percaya) baik, disesuaikan dengan kondisi waktu itu...Nggak matahin kenyataan bahwa istrinya yang pertama ya cuma satu, cintanya ya cuma satu, setia nya ya cuma buat satu orang.

Ngerti nggak? Jadi gw bukan nya usil atau apa, gw cuma kecewa ada aja orang yang nggak sadar dia itu panutan banyak orang, nggak bisa seenaknya. Idola gw itu aja nggak pernah nyakitin perasaan perempuan yang udah dampingin dia dari sejak dia belum jadi siapa-siapa sampai dia jadi seseorang...

Kalau mau hindarkan zinah, ya gampang kan, nggak usah dilakuin aja, susah amat. Kadang2 gw suka nggak ngerti sama orang yang kalah sama nafsu 'begituan', nggak malu apa? Maaaaan!! Kita ni terpelajaaarrrrr!!! Lagipula, mestinya kan situ udah ahli nahan nafsu, isn't it what u kept talking about in the old days, Mister?

Kaya nya agak telat reaksi gw, tadinya gw nggak mau komentar soal ini, cuma akhirnya gw miris aja. Kemunduran moral (dalam hal punya istri banyak) pria-pria udah cukup parah, nggak harus diperparah dengan ikut nya seorang tokoh berlaku sespektakuler ini kan?

...nggak bisakah dia menjadi panutan yang normal? Yang pinter? Yang tahu betul tentang isi buku yang sering dikutip itu? Yang melihat isi buku itu sebagai suatu kesatuan yang utuh dan dihayati artinya dan bukan cuma diartikan secara harfiah?

...dan para cewek,termasuk gw... nggak bisakah JUJUR dalam merasa? Nggak usah takut dijudge nggak soleh, itu urusan masing2 pribadi sama Tuhan. Kita emang nggak boleh sombong, tapi kita juga nggak boleh munafik, kan?

Yang akan ngajarin orang sekeliling kita cara menghargai kita adalah kita sendiri. Emang kalau bukan kita, siapa lagi? Suami?

Heuheu...kapaaaannn kaliiii...

:)

Comments

Anonymous said…
This comment has been removed by a blog administrator.
Anonymous said…
This comment has been removed by a blog administrator.

Popular Posts