Thursday, December 16, 2010

smart answers for smart questions

"Jangan mengajukan pertanyaan bodoh kalau kamu tidak mau mendapatkan jawaban yang bodoh."

Aku menutup kalimat itu dengan geraman kesal, "Kamu adalah manusia paling judgemental yang pernah ada di muka bumi, tau nggak?"

"Aren't we all are?" jawabmu tenang.

"Well, you are the WORST! Kamu dengan tenang melontarkan kalimat itu sesaat setelah kamu menjawab pertanyaan mahasiswa kamu yang malang itu, CRUEL! Orang lain nggak akan mengucapkan hal seperti itu, walaupun mungkin mereka punya pemikiran yang sama!"

"Itu berarti mereka munafik." kau tersenyum. TERSENYUM! Bisa-bisanya kau tersenyum, "Kamu lebih suka dinner sama orang judgmental atau orang munafik?"

"Itu namanya bukan munafik, itu namanya beradab!"

"Potato Potaahto, kamu belum sadar juga apa 'beradab' sama 'munafik' itu nggak beda jauh."

"Jawab aja terus!" semburku kesal. "Cuma karena kamu nggak mau 'munafik' bukan berarti kamu boleh nggak 'beradab' dan menyakiti seseorang seenak jidat, tau!"

"Duh, itu bedanya tipis banget, Dinda. Garis yang memisahkan antara 'beradab' dan 'munafik' itu tipis banget..." kau pura-pura berkeluh kesah, aku tahu, hanya supaya aku berhenti ngomel.

"Well find it! Kalau kamu cukup pinter untuk bisa menarik garis antara pinter dan gila, kamu harus bisa narik garis antara 'beradab' dan 'munafik." tandasku.

"Siap bu."

"And 'stupid question' doesn't exist!" tambahku. "Orang kalau emang nggak tau ya boleh aja dong nanya, itu hak mereka. Kalau kamu nggak mau jawab ya terserah kamu, tapi jangan jadi sok iye dan duduk disana memilah-milah mana pertanyaan bodoh, dan mana pertanyaan pintar...Jangan sombong jadi orang! Masih banyak yang lebih pinter dari kamu tau nggak?"

"Iya." kau mengangguk. "In my defense, she didn't even realize that I was talking about her."

"Oh, here's a smart question for you, mister: jadi kenyataan bahwa seseorang nggak menyadarinya, sudah menjadi pembenaran yang cukup buat kamu nyakitin dia?"

Kau tidak bisa menjawabku karena handphonemu berbunyi. Kau menungguku mengangguk memberikan izin untuk mengangkatnya sebelum bicara dengan seseorang diseberang sana, "Halo ma? Iya, Papa udah beres ngajar tapi harus dinner dulu sama tamu dari Belanda, jadi pulang telat. Ga pa-pa ya?"

There. Pertanyaan pintarku diberi jawaban pintar dengan cara yang sangat pintar.

Lalu kau menutup telefon dan bertanya, "Where were we?"

Aku menggeleng, "No, forget it."

Kamu menggenggam tanganku dan berkata, "Look, I'm sorry if I crossed the line. It won't happen again, I promise."

Aku mengangguk.

"The wife wants me to be home before 11, so we better hurry. You wanna go to that Italian restaurant near the canal?"

Aku mengangguk, memejamkan mata waktu kau mencium keningku, dan tidak menjawab "I love you" mu.

...jadi kenyataan bahwa seseorang nggak menyadarinya, sudah menjadi pembenaran yang cukup buat kamu nyakitin dia?



Manchester, June 5, 2009

2 comments:

Vicky Laurentina said...

I don't like cheaters. Terutama mereka yang mengaku dirinya pengajar.

aRee said...

Kris, apakah itu berarti dia lebih sayang pada orang yang dia lindungi dengan membiarkan orang itu tidak tahu kebenarannya? Then it shouldn't be a second person then... =(