Sunday, February 06, 2011

no uppercase today

aku sering mempertanyakanmu. menuliskanmu, membisikan namamu, memikirkanmu, meyakinimu lalu mempertanyakanmu. sepertinya menyayangimu dan tidak pernah bisa betul-betul memahamimu. bahkan mempertanyakan kesadisanmu yang membuat segalanya tampak mudah padahal tidak, membuatku merasa bersalah hanya untuk nafas-nafasku yang menyesak. padahal bukankah bahkan nafasku adalah, katanya, untukmu dan karenamu.

hari ini aku hanya memberikan huruf-huruf lowercase untukmu. menuliskan, membisikan, memikirkan, meyakini, mempertanyakan, seperti menyayangi bahkan ditengah ketidakmampuan memahami, mempertanyakan kesadisan, untuk dan karena tanpa huruf-huruf uppercase.

agar aku ingat pembicaraan kita semalam yang mungkin satu arah saja. agar kuingat bahwa meski meragu masih kupanggil namamu berulang kali. agar kuingat bahwa meski sedih masih aku mengingat

dan sepertinya menyayangimu.

agar kuingat bahwa meski tanpa uppercase masih kumenuliskanmu.
seperti berkali-kali sudah sejak lama.
tanpa permohonan apa-apa.
tanpa apa yang mereka sebut meminta.


kau yang mengerti kenapa.

1 comment:

bert said...

Karena Dia yang memberimu nafas tahu apa yang kamu inginkan sebelum dituliskan, sebelum diucapkan. Tak perlu uppercase karena kamu adalah sahabat-Nya