Friday, June 18, 2010

Grady Adam

Dear May,

Weekend ini saya habiskan untuk berpikir tentang ekspektasi. Ekspektasi siapa saja terhadap saya, dan ekspektasi saya terhadap siapa saja. Ekspektasi dunia terhadap saya, dan ekspektasi saya terhadap dunia.Saya berniat menelusuri asal kata 'ekspektasi' atau 'harapan', asal mula ternamakannya suatu emosi yang berkonotasi positif dan menimbulkan semangat itu. Kata yang dengan caranya sendiri menyembunyikan akibat-akibat yang cukup dahsyat, membungkusnya dengan begitu rapat.

Niat tinggal niat May. Saya terlalu sibuk dengan aktifitas klise manusia metropolitan, ditambah gprs dari provider yang biasanya saya andalkan sudah dua hari ini ngadat melulu. Saya jadi hanya punya waktu untuk menguraikan pemikiran saya dengan material seadanya, itupun ditengah-tengah kemacetan ibu kota.

Seorang teman baik menulis e-mail pada saya: "Salah satu yang membuat saya bertahan adalah 'harapan'. Bukankah kita hidup karenanya?"

Sebagai seseorang yang sangat romantis saya melihat semua dalam hidup itu berpasangan. Hari dan malam. Panas dan dingin. Bahagia dan sedih. Setan dan malaikat. Romeo dan Juliet. Before sunrise dan before sunset. Tawa dan air mata. Ada dan tiada. Benci dan cinta. Temu dan pisah. Mereka yang walaupun mungkin tidak satu frekuensi dan satu emosi, tapi bila sendiri jadi tak berarti.

Ekspektasi dan Realita.

Sebagian besar dari kita menghabiskan hidup untuk mengusahakan ekspektasi dan realita mereka ada dititik yang sama. Sebagian membiarkan realita mengejar ekspektasi, yang lain membiarkan ekspektasi yang mengejar realita. Ada juga golongan ketiga yang berusaha mempertemukan mereka di tengah-tengah, di area yang sepertinya lebih adil untuk keduanya. Sebagian menghalalkan segala cara, sementara lainnya melakukan itu dengan bijaksana. Pada saat ekspektasi dan realita mereka berhasil dipertemukan atau hanya sekedar dekat, kita bahagia. Sebaliknya saat kedua hal itu berjauhan, kita kecewa.

Lalu tibalah dorongan untuk menyalahkan. Keadaan, orang lain, diri sendiri, bahkan Tuhan. Dorongan yang walaupun tidak bisa dibilang ideal, tapi sangat manusiawi. Sangat wajar.

Tapi...(ah, there comes the 'tapi)

Karena saya memilih, atau setidaknya ingin mencoba untuk mendekatkan ekspektasi dan realita yang saya miliki dengan bijaksana, saya coba berhenti sebentar dan berpikir ulang. Benarkah saya ingin menyalahkan suatu pihak untuk gagalnya pertemuan antara ekpektasi dan realita saya?

Rasanya tidak. Selain tidak ada gunanya, saya rasa itu justru akan memperbesar kemungkinan ekspektasi saya yang berikutnya juga untuk tidak bertemu dengan pasangannya, si realita. Rasanya itu bukan saya.

Lagipula rasa sedih, sesal dan kehilangan saya tidak akan terobati dengan kemarahan. Pertanyaan-pertanyaan 'kenapa' tidak akan terjewab dengan mendendam. Saya bisa memilih disini, hanya menjadi manusia, atau manusia yang mau belajar dewasa.

Saya mau belajar dewasa, May. Tidak menyalahkan siapa-siapa, dan sekali lagi melewati perjalanan yang sulit untuk merelakan dia. Bila saya mendengar suaranya yang kadang begitu pilu, atau tanpa sengaja membayangkan bagaimana dia melewati itu, juga bila terlintas "Was it fast or not"...

Saya mencoba menyikapi itu sebagai sesuatu yang wajar. Wajar saya mengalami ini karena saya menyayangi dia. Karena terlepas dari apapun yang orang bilang tentang dia, saya tahu hidupnya yang tak mudah, saya ingat cerita-ceritanya. Saya ingat saya tidak bisa tidak menyayangi dia karena bahkan dalam ketersesatannya dia masih mencoba tersenyum dan tidak mengeluh. Karena sekecil apapun perasaan disayang yang diterimanya adalah kemewahan untuknya. Dan itu menyenangkan dia.

Ya saya pernah berekspektasi dunia akan memberikan kesempatan untuk Grady. Menjadi dewasa dan bahagia. Menemukan jalannya. Tertawa tanpa perih dimatanya.

Dan kali ini dunia berekspektasi saya untuk mengerti. Untuk mencari cara saya sendiri bisa bijaksana menyikapi realita yang yang ada. Untuk mencari cara saya sendiri bisa tidak larut terlalu dalam di ketidakrelaan saya sendiri tuk kali kedua. Untuk melatih kedua mata, telinga dan satu-satunya hati saya agar tidak terlalu kecewa, sinis dan terhancurkan tuk waktu yang terlalu lama. Karena kalau dia bisa, dia akan lagi-lagi berkata, "Jangan cemberut terus dong, kak."...Seperti biasanya.

Saya menghindari semua yang bisa menumbuhkan rasa benci ataupun dendam sekarang-sekarang ini. Saya memilih untuk tidak mengetahui dulu semua detail, kecurigaan ataupun hasil analisa yang ada. Buat apa? Dia sudah tidak ada dan saya yakin sudah terlalu banyak pihak yang terlibat dengan fungsinya masing-masing disana. Fungsi keadilan, keamanan, cuci tangan...Semua itu hanya akan menyeret fokus saya menjauh dari apa yang sebetulnya harus saya atasi sekarang ini. Atau lebih tepatnya: harus saya pahami sekarang ini.

Rasa sedih saya karena ekspektasi saya untuk masih melihat dia atau untuk kalaupun harus kehilangan dia, setidaknya dengan cara yang biasa-biasa saja, tidak sesuai dengan realita. Dan sejujurnya ada moment dimana saya kira saya sudah gila. Untuk kali pertama di hidup saya, saya enggan melihat berita, enggan membaca koran pagi. Untuk kali pertama di hidup saya, saya tertawa atas sesuatu yang sebetulnya mengiris perasaan saya. Hanya karena saya belum siap betul-betul merasakan apa yang sesungguhnya ada dalam diri saya. Saya harus menahan diri untuk tidak langsung bereaksi pada ungkapan2 simpati yang saya terima karena kalau tidak reaksi saya akan terwujud dalam bentuk tangisan dsb. Atau mungkin saya akan marah karena mereka mengingatkan saya pada hal itu sementara saya mati-matian menyibukan diri saya dengan hal-hal konyol saperti membaca tiga buku sekaligus hanya untuk menghentikan screensaver jelek di benak saya yang isinya bayangan tentang...Saya membiasakan diri menghitung sampai sepuluh dulu. Then I would actually undrestand that they mean no harm, that eventough only a few of them really understand how it felt like, they really do want to.

May, ini sulit tapi tidak ada pilihan lain selain menghadapinya, kan? Kalaupun ada pilihan yang bisa dipertimbangkan adalah untuk menghadapinya dengan berani atau dengan ciut hati. Dan saya ingat pernah menasehati dia untuk jangan pernah takut menghadapi masalah2 nya sendiri...

So that's how I'm gonna be.

~K~

Jakarta, 4 Agustus 2008
From: kristykristykristy.multiply.com

1 comment:

mbak dan said...

senang melihat ada tulisan baru di blogmu.. ayo menulis lagi!! :)